Unais dan Kemungkinan Politisi Sufi

Ilustrasi via santrinews.com

Terpilihnya Kiai Ma’ruf Amin sebagai cawapres, terdapat harapan akan meredam politik identitas, ujaran kebencian dan polarisasi yang akan membawa agama untuk kepentingan politik kekuasaan.

Pelajaran penting dalam Pilkada di Jakarta pada 2017, isu SARA merupakan senjata yang digunakan untuk menumbangkan lawan politik. Isu isu SARA direproduksi oleh buzzer dan menjadi isu yang menggerakkan massa melakukan serangkaian demonstrasi yang berulang ulang.

Kiai Ma’ruf Amin dianggap sebagai jawaban agar politisasi agama dapat diredam dan bisa menyejukkan narasi ke Indonesiaan kita.

Ternyata, pasca kiai Ma’ruf Amin jadi cawapres, ujaran kebencian masih ada. Bahkan sasaran kebenciannya adalah Kiai Ma’ruf sendiri. Polanya berubah. Yang melontarkan kebencian kepada Kiai Ma’ruf bukan hanya golongan islamis garis keras, tetapi juga golongan pendukung Ahok yang merasa bahwa Kiai Ma’ruf Amin yang berperan dalam memenjarakan Ahok. Perbincangan ini tranding topik di twitter pasca Jokowi mengumumkan Kiai Ma’ruf sebagai cawapres.

Ra Fayyad dalam narasinya menjelaskan bahwa Kiai Ma’ruf merupakan ulama ahli Fiqih. Bedanya, di MUI Kiai Ma’ruf lebih kaku. Tapi di NU lebih fleksibel dan mampu menggunakan ushul fiqih dalam menyikapi persoalan.

Sosok Kiai Ma’ruf sebagi simbol kiai dan tokoh agama yang membawahi NU dan mengendalikan MUI, tak mampu sepenuhnya meredam ujaran kebencian dan saling caci antar pendukung.

Tentu disini bukan hanya agama dan simbolik semata yang digunakan untuk orang orang yang membenci, tetapi juga hati yang telah mengendap rasa tidak suka terhadap kelompok berbeda. Apalagi hal itu berbeda kepentingan. Yang bukan kelompoknya akan diserang dan dianggap sebagai musuh bersama yang harus dihabisi.

Disinilah pentingnya untuk kembali menarasikan ulang tentang cara lain agar bisa menyiram api kebencian dan menumbuhkan rasa cinta dalam demokrasi. Disinilah saya menemukan pentingnya politisi yang sufi.

Baca Juga:  TGB yang "Dimurtadkan"

Unais dan Darah Sufi

Saya mengenal sosok politisi yang juga sufi. Namanya Unais Ali Hisyam. Unais adalah keturunan dari Kiai Ali Wafa. Dalam narasi Martin Van Brunnessan, Kiai Ali Wafa merupakan tokoh sufi pertama di Madura. Sehingga darah Mursyid mengalir kedalam diri Unais.

Sosok Kiai Unais yang turun gelanggang dan menjadi politisi adalah jawaban atas pertanyaan penting agar bisa meredam sisi kebencian yang mengendap.

Dunia sufi adalah dunia cinta. Dimana tak ada yang peling penting daripada Allah. Beda dengan dunia politik yang dianggap sebagai dunia kepentingan. Tak ada teman, yang ada adalah keabdian kepentingan.

Politik dan sufi adalah dunia berbeda. Tetapi saat mana kita mencoba menggunakan teori Dialektikanya Hegel tentang tesa, antitesa dan sintesa, kita akan dapat mendudukkan bahwa sebagai tesa adalah dunia sufi yang penuh cinta lalu di didialogkan pada dunia politik yang penuh pentingan dan diharapkan akan melahirkan sintesa berupa kepentingan cinta dalam politik.

Jika yang terjadi adalah kepentingan yang selalu dilandasi cinta, kita akan menjadi segera dapat mengikis kebencian. Jika kebencian adalah api, maka tak bisa dibalas dengan api kebencian juga, tetapi oleh air cinta untuk dapat menyejukkan Indonesia.