Tolak Prilaku LGBT, Rangkul Person-nya

Ilustrasi via pixabay.com

Menjelajahi dunia LGBT (lesbi, gay, bisex, transgender) perlu menggunakan pemahaman yang sedemikian rupa. Pasalnya, mereka selalu menganggap apa yang mereka peroleh adalah murni takdir dari Tuhan. Hal inilah yang menimbulkan kontroversi di beberapa kalangan, baik  itu di dunia hukum maupun dunia sosial.

Di kalangan DPR, permasalahan ini mulai naik ke permukaan. Mereka sudah merancang RUU KUHP (Rancangan Undang-Undang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana) yang membahas permasalahan ini secara spesifik. Dengan tujuan menentukan kejelasan hukum keberadaan mereka di Indonesia.

Isu tersebut bukanlah hal yang baru di negara kita, karena sudah ada sejak dahulu. Namun rekrutmen yang dipakai oleh mereka secara sembunyi-sembunyi. Barulah pada saat memasuki masa reformasi, mulai berkembang pesat. Seiring dengan diamandemenkan UU 1945 pada tahun 1998, semakin membuka peluang bagi mereka.

Pada masa reformasi berpendapat tidak lagi dibungkam, hak asasi manusia seluruh rakyat Indonesia selalu diperjuangkan. Sehingga memasuki era milenial, komunitas tersebut semakain menjamur. Mereka mulai berani mem-propaganda secara terang-terangan. Berlindung di bawah payung hukum UU HAM dan mengatasnamakan faktor genetika sebagai alibi pembelaan atas dirinya. Itulah yang membedakan LGBT zaman old dan zaman now.

Dari sudut pandang biologis, baik pada ranah kromosom, genetik, hormon ataupun struktur otak, semua memiliki bukti, namun kontradiktif. Pada dasarnya, manusia terlahir dari gabungan kromosom XX dan XY.

Penentu kelamin terhadap anak adalah kromosom Y dari seorang ayah. Sebanyak apapun kromosom X yang dimiliki seseorang, tidak akan merubah kelaminnya jika terdapat kromosom Y, kecuali pada suatu kasus pada penderita sindrom klinefelter. Penderita yang seperti ini memiliki kromosom XXY, akan tetapi ini hampir tidak pernah terjadi karena perbandingan kelahiran dari penderita ini adalah 1:800.000 orang.

Baca Juga:  Sesuatu yang Lebih “Fiksi” dari Rocky Gerung

Adapun hormon ataupun struktur otak para LGBT memang ada yang agak berbeda, tapi perbedaan itu sangatlah sedikit dan hormon maupun struktur otak seseorang bisa berubah karena pengaruh psikologi lingkungan ataupun pola hidupnya.

Dalam ilmu kedokteran, perubahan struktur otak dikenal dengan konsep neuroplasticity, yaitu konsep yang merujuk pada kemampuan otak dan sistem saraf untuk berubah dengan cara struktural maupun fungsional yang diakibatkan oleh faktor lingkungan.

Sejatinya, dalam fase pertumbuhan,manusia melewati fase perkembangan yaitu berawal dari masa kanak-kanak,masa remaja lalu dewasa. Dimana masa remaja, banyak mengalami perubahan, salah satunya mental.

Mental seorang remaja akan terombang-ambing, karena memang pada fase itu seseorang akan mencari jati diri. Termasuk mau dikemanakan orientasi seksualnya. Ketika lingkungan mereka menuntut ke jalan yang cenderung menyimpang, mereka bisa menyimpang.

Pada orientasi seksual yang dihasilkan oleh genetika memang benar adanya, tapi itu hanya dalam jumlah yang sangat kecil. Sekali lagi, faktor psikologi, lingkungan sosial menjadi faktor utama perubahan seseorang menjadi LGBT.

Tidak adanya pondasi spiritual yang kuat di lingkungan keluarga, ditambah dengan lingkungan sosial yang buruk tentu akan mempengaruhi perkembangan psikologi seseorang, termasuk seksualitasnya.

Di samping itu, jika ditilik dari kacamata agama, prilaku LGBT merupakan upaya menentang kodrat serta bentuk upaya perlawanan pada Tuhan. Padahal sudah sangat jelas bahwa semua agama menganggap ini sebagai barang haram.

Penanggulangan masalah ini tidaklah begitu mudah. Ketika mereka selalu mengatakan bahwa inilah takdir Tuhan dan tidak bisa berubah, itu hanyalah sebuah pembelaan semata. Segala sesuatu dapat dirubah termasuk penyimpangan tersebut. Tentu tidak bisa dirubah begitu saja, seperti perokok maupun pengguna narkoba yang sudah berada pada tingkatan addict. Bagi mereka-pun sulit ditinggalkannya .Ketika pemerintah melegalkan hukum LGBT di Indonesia, pasti mereka susah untuk mengubah kebiasaan tersebut.

Baca Juga:  Memetakan Pancasila Menjadi Tiga Dimensi

Cara merubahnya ialah melakukan pendekatan spiritual, melakukan psikoterapi dan bimbingan konseling, serta setiap individu harus turut andil demi meng-kampanyekan bahaya LGBT. Faktanya, di belahan dunia ini ada banyak yang bisa sembuh.

Saat ini UU LGBT masuk ke dalam ranah UU Pornografi, maka dari itu, tindakan yang diambil oleh para DPR sangatlah baik untuk menguatkan posisi hukum para LGBT dan bagaimana cara menanggulanginya.

Ingat, bukan berarti mengucilkan atau mendeskriminasi pelakunya, tapi prilakunya. Pro terhadap LGBT tidak serta merta menjadi pelindung terhadap tindakan LGBT, melainkan merangkul mereka kembali ke jalan yang benar sesuai kodrat masing-masing sebagai laki-laki dan perempuan.