TGB yang “Dimurtadkan”

TGB via nusantara.news

Saya adalah alumni Pondok Pesantren Annuqayah. Tuan Guru Bajang (TGB) Zainul Majdi pernah ke pondok saat, melantik alumni Al Azhar se-Madura di Aula As-Syarqawi. Nama aula yang dinisbatkan kepada pendiri pertama pondok.

Sependek yang saya tahu, TGB adalah tokoh alim. Alumni Al Azhar dan hafal Al-Qur’an. Tidak mudah menjadi hafidz. Karena menghafal tidak hanya butuh ingatan kuat, tetapi juga pertolongan Allah. Orang yang hafal Al-Quran akan hati-hati berbuat dosa. Manakala ada dosa yang diperbuat, akan menghilangkan terhadap hafalan.

Sisi lain dari TGB yang terekspose media adalah silaturrahimnya beliau ke Mbah Maimoen Zuber dan para tokoh ulama lain di Nusantara. Karena gerakan silaturrahim inilah, ia dekat dengan tokoh tokoh ulama. Bahkan dalam beberapa kesempatan, TGB bersama dengan Ust. Abdul Somad keliling Indonesia. Ust. Abdul Somad adalah salah satu ustad hits yang disukai oleh komunitas islam yang melek dengan media sosial.

Rupa rupanya sosok TGB ada yang ingin menunggangi. Tidak punya kemampuan untuk berkuasa, maka sekelompok ini menunggangi kealiman TGB dengan cara mendorongnya untuk maju sebagai salah satu capres. Dorongan ini terlihat dari list yang dikeluarkan dan meletakkan TGB sebagai salah satu rekomendasi dari capres.

Memang tidak salah saat seseorang untuk maju sebagai capres. Memilih dan dipilih itu sebagai hak sebagai warga negara. Jadi sah saja saat ada yang menghendaki TGB untuk maju. Karena memang TGB sebagai warga negara berhak untuk berpolitik.

Rupa rupanya pula, dalam beberapa waktu terakhir ini, TGB membuat keputusan kontroversial. Tiba tiba ia menyatakan bahwa Jokowi layak dua periode. TGB jelas mendukung jokowi.

Sebenarnya menjadi tidak salah sebagai warga negara, sosok TGB mendukung Jokowi. Sama sekali tidak salah. Hanya saja saya membuka media sosial, responnya kok demikian berlebihan tampaknya. Mulai dari yang menyatakan kekecewaannya, lalu akan unfollow akun media sosial hingga sederet penghinaan lainnya. Bahkan Fadli Zon menyatakan bahwa kadar keimanan dari sosok TGB masih bisa ditakar.

Baca Juga:  Pasca Pilkada, Apa yang Tersisa?

Jika tokoh besar seperti Fadli Zon saja sudah menyatakan demikian, apalagi yang pendukungnya. Lebih ngawur lagi. Bahkan ada yang bilang menyatakan murtad. Innalillah. Murtad adalah suatu perkara besar. Itu adalah penginggkaran terhadap Islam. Konsekuensi sanksinya akan masuk neraka.

Fenomena keagamaan semacam ini lumrah dan dianggap sebagai suatu cara untuk melawan pemerintah. Maka saya melihat diksi diksi yang bertebaran di media sosial. Mulai dari adanya partai Allah dan partai Setan, lalu istilah Dajjal, poros Mekkah dan Beijing, kata kata Buta Mata dan Buta Hati dan seabrek kata kata dengan labeling agama digunakan untuk menyerang kelompok berbeda.

Saya kira, orang atau kelompok yang sering melontarkan kata kata kasar adalah mereka yang mulai panik. Orang panik akan gampang bertindak semborono. Karena sudah tak berfungsi nalar sehat dan hati yang dingin.

Selain itu juga perasaan kalah. TGB dianggap sebagai harapan untuk menang melawan Jokowi. Tapi saat TGB berbelok arah, maka semuanya menjadi kebencian terhadap Jokowi. Saat dirinya sudah kalah, maka sudah tak punya cara, buntu dan akhirnya menjadi sangat kasar. Agar kelompok dirinya dianggap benar, maka digunakanlah agama sebagai labeling pembenar.

Inilah realitas politik yang terjadi. Dalam momentum politik ke depan menghadapi pilpres, hal ini masih memungkinkan terjadi. Kekekerasan verbal yang bukan tidak mungkin akan menjadi kekerasan fisik.

Sebenarnya hal ini juga karena menjadikan politik kekuasaan sebagai tujuan. Bukan sebagai cara. Karena dianggap sebagai tujuan untuk berkuasa, maka agama hanya dijadikan sebagai lipstik untuk pemanis saja.

Bagi saya, hal inilah yang kiranya harus kita evaluasi. Politik bagi saya adalah alat perjuangan. Bukan sebagai tujuan. Kalaupun punya tujuan, maka harus diletakkan dalam rangka memberikan manfaat bagi segenap elemen. Saya memiliki keyakinan elemen dimaksud dalam tiga relasi. Hablum minallah, hablum minannas, hablum minal alam. Kita harus bermanfaat.

Baca Juga:  Mencari Panwaslu Berkualitas

Guru guru saya di Annuqayah memberikan teladan dalam berpolitik. Perbedaan pilihan itu lumrah. Wajar. Tapi tak perlu saling menyalahkan. Kalaupun ada kontestasi merebut simpati, maka bolehlah mengkampanyekan tentang dirinya. Tak perlu menjelekkan yang lain.

Tampaknya demikian juga yang dilakukan oleh TGB. Beliau mengajak kita untuk tak mudah mengumbar ayat ayat tentang perang. Karena kita tidak sedang berperang. Politik bagi TGB harus diletakkan dalam fastabiqul khoirot. Berlomba lomba dalam kebaikan.