Surat Cinta untuk Cak Imin

Ilustrasi via thepicta.com

Bismillahirrahmanirrahim…

Ingin saya mulai surat ini dengan doa: semoga Cak Imin selalu mendapatkan lindungan Allah swt., terus kuat menginspirasi anak anak muda.

Perkenalkan, saya adalah santri dan dipercaya memimpin organisasi kepemudaan di Sumenep. Kota paling ujung di pulau Madura.

Izinkan kami menulis surat terbuka untukmu cak Imin. Surat ini murni berasal dari hati yang paling dalam dan sesungguhnya keinginan mengendap dan lama tidak terekspresikan.

Tidak salah bila Cak Imin pernah menyampaikan tentang silent hope, karena memang terlalu banyak orang orang memiliki harapan yang terpendam. Tidak tersampaikan. Sebagaimana saya juga memiliki harapan harapan yang ingin saya sampaikan dalam surat ini.

Pertama, secara pribadi, kami sangat terinspirasi dan mendukung gerak taktisnya cak Imin. Sebagai santri, kami merasa terwakili oleh agenda agenda dan gerakan yang dilakukan oleh Cak Imin. Bahwa kami sebagai santri sudah jenuh dikesankan kaum marginal yang tak paham urusan politik dan selalu dipermainkan oleh orang orang di luar sana. Kami memang butuh keterwakilan. Suara santri harus lantang menjadi bagian dari republik ini. Kami para santri adalah anak anak rakyat. Dalam darah kami para santri mengalir darah ideologis kiai kami yang pejuang. Salah satu kiai kami, Kiai Abdullah Sajjad gugur dalam membela cintanya kepada negara ini. Kami butuh simbol secara nasional untuk terus mengekspresikan cinta kami kepada negara ini.

Kedua, sebagai santri kami kok tampaknya terus terus disalahkan dalam beragama. Kiai kami dihina hina oleh orang Islam baru yang dari luar itu. Parahnya, label label agama kerap dijadikan senjata untuk menyerang kelompok berbeda. Mulai dari istilah Dajjal, Partai Setan dan Partai Allah, serta istilah Tuyul. Kami kadang gregetan dan tidak terima. Tetapi kiyai kami, almarhum Kiai Abd. Warits Ilyas selalu mengajarkan tentang politik yang santun. Kami diralang menghina, menjelekkan dan apalagi mengutuk lawan politik. Untuk itu, sebagai bentuk cintanya kami kepada cak Imin, izinkan kami juga menyampaikan, bahwa bilamana Cak Imin dicaci, dihina, dipermalukan, kami ingin menyampaikan, bahwa tak perlulah penghinaan dibalas dengan kutukan. Tak perlu celaan dibalas dengan sumpah serapah. Izinkan kami menyampaikan tetaplah menebar cinta. Sebagaimana kiai kami yang sering menyampaikan, orang yang hatinya dipenuhi cinta tak akan mempunyai kemampuan untuk membenci.

Baca Juga:  Pasca Pilkada, Apa yang Tersisa?

Ketiga, cak imin juga membawa ikon sebagai anak muda. Ya memang cak Imin terlihat muda. Sebagai pimpinan organisasi kepemudaan jika cak Imin jadi wapres, kami ingin menyampaikan bahwa perhatian kepada anak anak muda harus lebih ditingkatkan lagi. Di kampung dikampung kami di pedesaan Madura, banyak anak anak Muda yang hijrah ke kota karena tidak memiliki sumber ekonomi yang jelas. Mereka ke kota karena ingin sama dengan yang lain. Gaul, kekinian dan punya penghasilan. Tapi ya kondisi di desa tak memungkinkan. Akhirnya mereka hijrah dan kadang kadang tak kembali ke desa.

Keempat, izinkan kami juga menyampaikan, bahwa guru guru ngaji di kampung masih jauh dari kesejahteraan. Meski kami yakin bahwa guru guru ngaji di kampung adalah orang orang ikhlas dalam mengabdi, tapi kami berharap bahwa guru guru itu diperhatikan jika cak imin jadi wapres. Guru guru kampung adalah tiang agama. Guru guru itu memperkokoh bagunan keislaman anak anak rakyat yang ngaji. Kuat keislamannya. Kuat keindonesiaannya. Kami menyadari bahwa, guru guru ngaji di kampung perlu dipanggungkkan. Biar yang tidak tampak hanya tokoh tokoh yang ada di televisi. Karena kami yakin cak Imin, guru guru ngaji itu hanya perlu dikasih ruang, kesempatan dan kesejahteraan, soal keihklasan dan kemampuan, guru guru ngaji itu melampuai ustad ustad di tv tv.

Kelima, kami secara pribadi mendukung cak Imin jadi Wapres. Tapi izinkan kami menyampaikan, bahwa bilamana terjadi suatu kondisi yang ruwet dan tak sesuai harapan, besar harapan kami agar tetap menunggu petunjuk para kiai.

Keenam, kami juga mengapresiasi gagasan Cak Imin tentang Soedurisme. Dalam beberapa kesempatan, kami berdiskusi dengan beberapa sahabat tentang gagasan ini. Jika boleh kami berharap, akan ada penjabaran lebih kongkret tentang ini. Terutama yang bisa dikonsumsi oleh santri.

Baca Juga:  Apa Kabar HTI Pasca Putusan PTUN Jakarta?

Ketujuh, banyak pesantren yang perlu perhatian lebih. Terutama kondisi bangunan pesantren yang kadang tidak mampu menampung jumlah santri. Kami menginginkan perhatian dari cak Imin.

Kedelapan, kami juga ingin menyampaikan tentang harapan besar agar isu isu perempuan juga diperhatikan oleh Cak Imin. Sepertinya belum pernah kami mendengar tentang gagasan dan agenda Cak Imin tentang perempuan. Padahal banyak perempuan di kampung kami yang ngefans sama cak Imin.

Kesembilan, kami mendoakan segala hal yang dilakukan oleh cak Imin. Semoga Allah mengabulkan sesuai harapan.

Demikian surat ini kami bikin dengan cinta. Semoga mendapatkan anugerah dari sang Maha Cinta…

Wallahul Muwaffiq ila Aqwamit Thariq