Sufi Milenial, Unais dan Kemerdekaan

Ilustrasi via fokustoday.com

Generasi millenial merupakan sebutan bagi generasi kelahiran antara tahun 1981 sampai tahun 2000. Generasi ini ditandai dengan pengaruh dunia internet yang sudah cukup besar bagi kelangsungan hidupnya.

Dalam beberapa data dan penelitian yang dilakukan oleh CSIS pada bulan Agustus 2017 lalu didapatkan beberapa data bahwa generasi millenial dalam kometmen kebangsaan memiliki penerimaan terhadap pancasila, tetapi pada sisi yang lain menginginkan pemimpin yang se-agama.

Pola pilihan dari generasi milenial bisa saja berubah. Tetapi perubahan disini tergantung dari basis data pengetahuannya. Dimana dalam data CSIS, basis data pengetahuan dari generasi milenial lebih banyak didapatkan lewat media online daripada di media cetak.

Persoalannya media online tumbuh kuat di jejaring media sosial. Tak jarang basis informasi yang ditampilkan oleh media online malah berisi hoax.

Dari data yang dilansir oleh Kompas yang melakukan survey pada masyarakat telematika Indonesia (Master) secara daring terhadap 1.116 responden pada tanggal 7-8 Pebruari 2017 dapat dinarasikan bahwa, hoax terjadi pada sosial politik (Pilkada dan Pemerintah) dengan angka 91,8 persen dan lalu disusul pada soal SARA yang mencapai 88,6 persen, di bawahanya pada masalah kesehatan yang berjumlah 41,2 persen, kemudian pada soal makanan dan minuman yang mencapai 32,6, kemudian pada penipuan dan keuangan yang mencapai 24,5, IPTEK dengan jumlah 23,7, pada berita duka berjumlah 18,8, pada candaan 10,3, kemudian bencana alam 17, 6, dan lalu lintas, 4,0.

Bahkan yang lebih parah, terdapat pekerja media sosial untuk menyebarkan hoax dan juga menjatuhkan kelompok tertentu. Salah satunya adalah saracen yang ditangkap pada bulan Agustus lalu. Dalam kegiatan 1 bulan, Saracen bisa meraup penghasilan sampai 72 juta.

Baca Juga:  Pasca Pilkada, Apa yang Tersisa?

Data ini ingin mengungkapkan bahwa basis pengetahuan generasi millenial yang dikepung oleh banyak berita bohong menyebabkan generasi milenial mengalami kebingungan akan kebenaran.

Sebagaimana Sujiwo Tejo menyampaikan bahwa jika data dan logika sudah tak bisa mewakili semuanya, maka yang dibutuhkan adalah rasa. Disinilah dalam pemaknaan saya adalah signifikansi sufi bagi generasi milenial.

Mengapa harus sufi? Robert Joustrow menceritakan, bahwa saat pada ilmuan selama berabad abad lamanya berusaha menaklukkan kebodohan selama berabad abad lamanya, pada puncak terakhir gunung itu, ia melihat para teolog sudah dapat menemukan kebenaran berabad abad lamanya.

Analagi ini mengingatkan saya akan sosok Kiai Unais Ali Hisyam (UAH). Sisi menarik dari beliau sebagai pelaku tarekat dan keturunan dari Kiai Ali Wafa.

Cukup jarang pelaku tarekat yang masuk dan terlibat dalam politik praktis. Walau memang dalam beberapa catatan Ahmad Baso di beberapa bukunya dan juga Zainul Bilal Bizawi, bahwa Kiai yang sufi menjadi pasukan inti dalam melawan penjajah. Zainul Bilal Bizawi dalam buku Masterpice Islam Nusantara menyebut Kiai Wahab Chasbullah yang menjadi pemimpin para kiai dalam perang 10 November Surabaya. Ahmad Baso kerap memunculkan sosok Kiai Mojo sebagai kiai sufi penasehat dari Pangeran Diponegoro.

Dalam konteks kekinian, jika narasi besar yang ingin ditampilkan tentang perpaduan nasionalis relegius, maka pada ruang relegius tak bisa hanya sebatas pemaknaan pemahaman fikih semata. Karena hanya dengan fikih, maka implikasinya adalah produk halal dan haram. Pemahaman fikih yang tekstualis bisa jadi akan membawa kita pada pengalaman aksi berjilid jilid sebagaimana dalam kasus Ahok tentang QS. Al Maidah.

Narasi religius harus masuk pada dunia tasawwuf. Yang tidak hanya memandang hitam putih, tetapi menguatkan rasa dan kelembutan.

Baca Juga:  Asa Caleg Bersih dari Korupsi

Tentu saja, pada momentum kemerdekaan yang ke 73 ini, narasi relegiusitas harus berwujud kongkret dengan kian mengokohkan rasa cinta dengan pondasi agama. Tasawwuf jalannya. Sehungga dapat menjadi sufi millenial. Wallahua’lam.