Spiritualisme: Solusi bagi Sikap Keberagamaan “Umat Islam” Indonesia

Ilustrasi via markazdakwah.or.id

Melihat perkembangan keberagamaan “umat Islam” di Indonesia dewasa ini, tentu bisa dibilang memprihatinkan, untuk tidak menyebut mengenaskan. Bagaimana tidak. Beberapa patah kata yang pernah terlontar dari mulut mantan gubernur DKI Jakarta: Ahok (Basuki Tjahaja Purnama), dalam pidatonya di Kepulauan Seribu tahun 2016 lalu, telah menimbulkan ekses yang mungkin tak pernah terpikirkan oleh sebagian kalangan. Demo yang melibatkan ribuan aktifis “pembela Islam” di monas Jakarta, menjadi bukti kemarahan “umat”.

Beberapa waktu lalu, Sukmawati Soekarnoputri, salah satu puteri mantan presiden pertama Indonesia: Soekarno, kembali membuat marah “umat” karena pembacaan sepenggal puisi terbitan 12 tahun lalu. Dengan alasan yang tak berbeda dengan kasus Ahok—menghina Islam—demonstrasi “umat” kembali terulang, meskipun tak sehebat sebelumnya—dan mungkin saja belum.

Fenomena semacam ini tentu menjadikan sebagian kalangan akademisi dan pemikir Islam resah. Sebab, hal ini tidak terlepas dari pengaruh fundamentalisme dan radikalisme di kalangan umat Islam yang di era derasnya arus informasi seperti sekarang ini sulit, untuk tidak mengatakan tidak dapat dibendung.

Bahwa fundamentalisme akan selalu ada di setiap zamannya, mungkin, tetapi tetap saja hal itu tidak membenarkan setiap orang yang sadar untuk berdiam diri melihat kemungkinan mengglobalnya paham yang—menurut sebagian kalangan—bakal menjadi ancaman bagi keutuhan NKRI. Ingat, dulu Timur Tengah adalah pemilik peradaban maju yang kosmopolit; toleransi antar umat beragama dan suku begitu dijunjung; para ulama dan penguasa mempunyai cara pandang inklusif dalam melihat perbedaan (Makin: 2016, 147-162). Hingga pada masa berakhirnya kekuasaan Turki Usmani, muncul bermacam perang saudara tak berkesudahan; Arab Saudi menjadi gembong para fundamentalis yang menyebut diri mereka kaum salafi; Timur Tengah bukan hanya pecah, kini ia hanyalah puing dari peradaban yang dahulu pernah menguasai dunia.

Meskipun diakui bahwa faktor yang menyebabkan perpecahan tersebut beragam, namun bagi sebagian orang, fundamentalisme tak dapat menyembunyikan diri sebagai penyumbang bagi kekalahan—untuk tidak menyebut kemunduran, peradaban Timur Tengah dari dominasi barat.

Menjejak Akar Fundamentalisme

Sejak berakhirnya kekhalifahan Utsman bin ‘Affan pada masa awal Islam, muncul kelompok yang menamakan dirinya kaum Khawarij; mereka melakukan pemberontakan atas kepemimpinan sah sayyiduna ‘Ali bin Abi Thalib. Mereka inilah awal mula gerakan fundamentalis Islam yang banyak meresahkan umat waktu itu; pemahaman mereka terhadap sumber ajaran agama begitu kental dengan nuansa tekstualisme; klaim kebenaran kelompok sendiri menjadi basis bagi tindakan penyerangan dan pembunuhan semena-mena atas kelompok lain.

Dalam buku Megatrends 2000 karya Naisbitt, sebagimana dikutip Cak Nur, fundamentalisme sendiri didefiniskan sebagai “suatu gerakan emosional reaksioner yang berkembang dalam budaya (maupun agama) yang sedang mengalami krisis sosial dan bersifat otoriter, tidak toleran, dan bersemangat menampilkan (“kebenaran”) dirinya terhadap masyarakat lain”. Fundamentalisme adalah sikap jiwa yang melihat segala sesuatu secara hitam putih tanpa mengenal kompromi (Madjid: 2010, 136).

Fundamentalisme dalam arti semacam inilah yang agaknya menjadi kekhawatiran beberapa kalangan ulama juga para pemikir Islam Indonesia saat ini; Sebab, jika didiamkan, bukan tidak mungkin paham yang dulunya dianut oleh kelompok yang paling bertanggungjawab atas terbunuhnya sayyiduna ‘Ali, menjadi ideologi yang banyak dianut masyarakat secara luas. Ada beberapa pertimbangan yang memungkinkan hal itu terjadi:

Baca Juga:  Paradigma Sufistik: Solusi Krisis Era Modernitas

Derasnya arus informasi yang merupakan dampak dari kecanggihan teknologi telah menghantam orang begitu kerasnya. Bagi mereka yang terlalu disibukkan dengan pemenuhan kebutuhan hidup serta pemuasan kebutuhan artifisial, hingga tak lagi memiliki waktu dan energi untuk me-engage berbagai pemikiran dan informasi yang masuk, maka pegangan keyakinan yang simpel menjadi sebuah solusi tersendiri. Berbagai permasalahan yang menimpa baik secara ekonomi, psikologis, maupun sosial, menuntut seseorang untuk mencari jawaban yang menjamin ketentraman dengan jalan instan, tetapi pada saat yang sama juga menjamin ketenangan hidup berupa janji keselamatan dunia akhirat (Bagir: 2017, 43).

Dulu di abad ke-20—dan mungkin sampai sekarang, Amerika mengalami apa yang oleh Eric Fromm disebut sebagai gejala alienasi: sikap keterasingan pada diri pribadi yang ditandai dengan hilangnya struktur masyarakat yang kukuh, serta ambruknya makna hidup yang berlaku. Gejala ini, muncul seiring perkembangan teknologi yang mengiringi masyarakat industri. (Madjid: 2010, 132-133).

Jika Amerika dulu dengan kemajuan teknologi memiliki akibat negatif dengan munculnya gejala alienasi, kini Indonesia dengan arus informasi dan gobalisasi mungkin telah mendapatkan gilirannya; Dengan derasnya arus informasi, tak jarang ekses yang ditumbulkan adalah banyaknya orang mengalami disorientasi: hilangnya pegangan hidup karena runtuhnya nilai-nilai lama yang berlaku (Madjid: 2010, 135).

Pengetahuan yang didapat melalui internet yang bersifat sekedarnya saja mengakibatkan hilangnya kedalaman pengetahuan dan lahirlah apa yang oleh Nicholas Carr disebut sebagai “Orang-orang Dangkal” (The Shallows): yaitu orang-orang yang terbiasa menyantap informasi instan tanpa kedalaman (Bagir: 2017, 36). Kondisi inilah yang  pada gilirannya menjadikan orang tertarik kepada apa yang ditawarkan kaum fundamentalis: janji-janji instan keselamatan dunia dan akhirat, yang dibarengi dengan mengklaim diri sebagai pemilik kebenaran (baca: truth claim).

Jika meneropong ke belakang, adalah kenyataan bahwa masyarakat Indonesia merupakan masyarakat imani yang lebih “menyukai” dogma ketimbang melakukan pencarian secara mandiri. Terbukti misalnnya sistem filosofis Buddhisme lebih bisa diterima masyarakat China, Korea dan Jepang ketimbang Indonesia. Ajaran filsafat, sufisme, dan kontemplasi mendalam kurang diminati (Makin, 2016, 236).

Aspek ritual seperti fiqh dan syariat telah mendominasi pendidikan di pondok pesantren saat ini. Padahal istilah pondok sendiri berasal dari kata funduk yang berarti “tempat warga tarekat menyepi dari pola hidup sehari-hari”, dimana para sufi melakukan kontemplasi untuk mendalami dan menggapai spiritualitas tertinggi (Wahid, 2017), tetapi dalam tahap perkembangannya justru ‘pondok’ bergeser menjadi wadah bagi para pembalajar syariat yang cenderung normatif, sehingga unsur pemikiran dan kontemplasi mulai ditinggalkan.

Baca Juga:  Sufi Perempuan: Gradasi Marginalisasi yang Tak Pernah Selesai

Pendidikan modern yang ditopang dengan kemajuan teknologi, mungkin saja menjadi pemecah bagi “kekolotan” watak masyarakat yang cenderung menerima dogma daripada melakukan pencarian kebenaran secara mandiri, tetapi perlu disadari: masih menjadi permasalahan utama bahwa agama menempati posisi sakralanya dalam mendapatkan hak untuk boleh “dipertanyakan”; Bagi kebanyakan orang yang pernah mengenyam pendidikan, watak pendidikan modern yang kritis tak pernah dipersentuhkan dengan agama. Pada akhirnya, pesantrenlah tempat yang paling tepat dalam melakukan pencarian kebenaran (agama).

Bagi seseorang yang pernah mengenyam pendidikan pesantren mungkin fundamentalisme bukanlah masalah besar, sebab kredibilitas ulama pesantren telah banyak diakui dalam membangun watak Islam yang toleran (meski tidak semua pesantren). Tetapi, bagi mereka yang sama sekali tak pernah tersentuh pendidikan pesantren, juga tak memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas, pada akhirnya akan mengalami kebingungan atas banyaknya pemikiran keagamaan yang membanjiri berbagai media.

Dengan kondisi semacam ini yang dibarengi dengan kegersangan jiwa, akhirnya membawa mereka menemui jawabannya pada gerakan fundamentalis; yang mungkin bisa dipersamakan dengan apa yang oleh Alvin Toffler istilahkan sebagai kultus (cult): suatu gerakan spiritual (keagamaan) dengan sistem pengorganisasian yang ketat, penuh disiplin, absolutistik disertai truth claim dan kurang toleran kepada kelompok lain.

Kultus ini biasanya berpusat pada ketokohan seorang pribadi yang menarik, berdaya pikat retorik yang memukau dan sederhana, namun penuh keteguhan, serta menjanjikan keselamatan dan kebahagiaan (Madjid: 2010, 131). Menjadi tidak mengherankan jika banyak “ustadz” media sosial menjadi tempat pelarian spiritual bagi mereka yang mengalami gejala alienasi, kegersangan jiwa, kedangkalan wawasan keagamaan, dan pada saat yang sama berwatak lebih menyukai ajaran dogmatis.

Yang perlu disadari adalah—sebagaimana dituturkan Cak Nur: sejauh-jauh ketenangan batin yang ditawarkan kaum fundamentalis lewat janji-janji keselamatan, ia hanya bersifat sementara, dan jargon-jargon keagamaan beserta simbol-simbolnya hanyalah kepalsuan belaka (Madjid: 2010, 133); Sebab, pada hakikatnya, esensi agama bukanlah simbol-simbol yang mengekspresikan identitas diri sebagai seseorang yang beragama, melainkan bagaimana ia mampu mencapai kedekatan diri dengan Tuhan (spiritualisme) dan sebagai akibatnya ia menjalin hubungan baik dengan sesama manusia (toleransi). Oleh karenanya, seseorang yang mengaku beragama (dekat dengan Tuhan) tetapi menyakiti sesama dengan perkataan maupun perbuatannya, kebenaran keagamaannya patut dipertanyakan.

Spiritualisme sebagai Antidote

Pesatnya kamajuan teknologi sebagai sarana bagi kelangsungan hidup manusia memang tak dapat terhindarkan. Meskipun manfaat yang dihasilkan darinya begitu kuat dirasakan, perlu dicatat bahwa manusia bukanlah robot atau mesin yang hanya butuh pemenuhan fisik semata. Manusia memiliki kodratnya sebagai makhluk berjiwa, yang menuntut adanya pemenuhan aspek rohani (baca: psikis).

Menurut Haidar Bagir, solusi  bagi kegersangan rohani yang paling tepat di era milenial saat ini adalah: spiritualisme,—yang di dalam Islam diwakili oleh aliran tasawuf—yang menurut sebagian orang merupakan ekspresi autentik agama. Watak spiritualisme (tasawuf) sama sekali berbeda dengan fundamentalisme; ia lebih mengedepankan kasih sayang, kedamaian, dan kerjasama (Bagir: 2017, 228-229). Dengan demikian ia akan menjadi oase di tengah panasnya gurun pasir yang menyengat kehidupan masyarakat modern.

Baca Juga:  Mengukur Kebenaran Sejarah dalam Al Quran

Kendati sejarah telah menunjukkan bentuk nyata spiritualisme sebagai jawaban atas krisis moral maupun sosial, sebagian orang memahami bahwa dengan menjalani laku tasawuf meniscayakan kecenderungan untuk meninggalkan dunia (baca: zuhud). Padahal tidak mesti demikian; Rumusan konsep zuhud yang dianggap sebagai eskapisme (anti-dunia) sebagaimana tergambar dalam tasawuf klasik, perlu diposisikan sesuai dengan konteksnya; Hal itu lebih merupakan respon (kritik) terhadap sistem sosial, politik dan ekonomi di kalangan umat Islam pada masanya; Ketika Islam telah tersebar ke berbagai daerah hingga membawa konsekuensi pertikaian politis dan perang saudara, yang kemudian diperparah dengan kehidupan berfoya-foya para pemangku jabatan, pada girilannya memaksa pelaku tasawuf (baca: sufi) seperti Abu Dzar al-Ghifari, Hasan al-Basri, kemudian al-Ghazali, melakukan khalwat (menyendiri) untuk menjauhkan diri dari kehidupan duniawi, yang mana itu adalah bagian perlawanan kepada penguasa tirani waktu itu (Syukur: 2004, 17-20).

Adapun di era modern saat ini, bertasawuf tidaklah harus menjauhi “kekuasaan” maupun “modernitas” sebagaimana dilakukan para sufi zaman dulu, tetapi sebaliknya; “masuk” di tengah-tengah percaturan politik serta membaur ke dalam arus modernisme. Hal ini tidak lain karena tanggung jawab tasawuf bukanlah melarikan diri dari kehidupan dunia nyata, akan tetapi ia adalah suatu usaha mengisi kekosongan nilai spiritual yang saat ini tengah melanda sebagian besar masyarakat modern.

Membaur bersama modernitas diiringi dengan moral luhur yang ditimbulkannya, seperti disiplin tinggi dan aktif dalam medan perjuangan hidup, baik dalam tataran sosial, politik dan ekonomi—sebagaimana yang terjadi pada kelompok tasawuf Sanusiyah (baca: aliran tarekat)—merupakan wujud ‘kritik tasawuf’ terhadap ketimpangan yang ada dalam masyarakat modern (Syukur: 2004, 24). Dengan “kritik” tersebut diharapkan mampu menjadi jawaban bagi bermacam krisis sosial dan dekadensi moral yang ditimbulkan akibat kegersangan rohani.

Selain itu, dengan sifatnya yang menawarkan ketentraman psikologis karena mengusahakan penyucian diri (baca: dzikir) yang mendekatkan kepada Tuhan, dan rasa keamanan dari prospek kesengsaraan dalam kehidupan akhirat, tasawuf akan menjadi lawan (antidote) bagi kecenderungan gerakan fundamentalisme keagamaan. Dengannya, seseorang bukan hanya mendapatkan ketenangan batin, tetapi juga memberikan dampak yang signifikan bagi kehidupan bermasyarakat di era modern. Bahkan dengan moralitas luhur yang dihasilkannya mampu mendukung pencapaian sains dan teknologi, yang di saat yang sama tidak meninggalkan nilai-nilai luhur yang ada.

Sumber Referensi:

Bagir, Haidar. 2017. Islam Tuhan Islam Manusia. Bandung: Mizan.

Madjid, Nurcholis. 2010. Islam Agama Kemanusiaan. Jakarta: Dian Rakyat.

Makin, Al. 2016. Keragaman dan Peradaban. Yogyakarta: Suka-Press.

Syukur, Amin. 2004. Tasawuf Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Wahid, Abdurrahman. 2017. Tuhan Tidak Perlu Dibela. Yogyakarta: Noktah.