Sesuatu yang Lebih “Fiksi” dari Rocky Gerung

Rocky Gerung via pepnews.com

Keramaian konstelasi politik di Indonesia ditandai dengan memanasnya isu kampanye politik yang dilakukan antara kubu Jokowi dan rival politiknya Prabowo Subianto. Saat media meledak-ledakkan pernyataan pidato politik Prabowo yang dikutip dari sebuah novel Ghost Fleet, tentang praduga hancurnya negara Indonesia di tahun 2030, mengundang para politisi untuk beradu mulut antara pro dan kontra. Di saat itu pula masyarakat cenderung kebingungan untuk membedakan antara yang fiktif dan yang realitas.

Di balik kubu yang pro terhadap Prabowo menuding bahwa Jokowi bisa dimakan oleh bentuk fiktif dari para haters dengan gerakan tagar #2019GantiPresiden, dan reaksi terhadap pernyataan Prabowo yang dinilai oleh Presiden Jokowi sebagai pemimpin yang kurang optimis.

Pernyataan itu, menjadi alasan yang sangat kuat untuk dikatakan fiktif seiring ramainya masyarakat membicarakan kasus-kasus fiksi yang diselewengkan dengan berbagai isu yang berkembang, baik dikait-kaitkan dengan isu penistaan agama, dan isu politik yang terus menggelinding bagai bola salju.

Beberapa rentetan kasus kefiksian di Indonesia, masyarakat bisa melihat hal itu dimulai dari masalah kegaduhan politik yang tidak sehat hingga pada kasus-kasus penistaan agama menjadi bagian yang sangat sulit untuk dihilangkan. Kemunculan fiksi itu pertama kali sebenarnya terlihat pada kasus  puisi putri sulung Presiden Sukarno, Ibu Sukmawati yang juga bersifat kekreatifan dan itu ditengarai sebagai bentuk fiksi, yang menurut Rocky Gerung bersifat fiksi adalah hasil dari kreatifitas seseorang dalam berkarya.

Setelah masyarakat diguncangkan dengan puisi Ibu Indonesia yang telah menyulut kemarahan sebagian pihak karena merasa agamanya disinggung, malah kegaduhan itu ditambah dengan pembacaan puisi oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, yang semakin memperlihatkan betapa bodohnya polemik fiksi di Indonesia yang cenderung masyarakatnya mencintai karya fiksi itu.

Baca Juga:  [Meng]apa Filsafat itu Penting ?

Kehebohan masyarakat tentang sebuah “fiksi” tidak berhenti sampai disini, lebih lanjut masyarakat juga dihebohkan dengan perkataan kegalauan Amien Rais, tentang Partai Allah dan Partai Setan. Amien menandakan betapa kefiksian itu sangat nyata sekali, sehingga mengundang reaksi ujaran kebencian (hate speech) dan cibiran dari berbagai pihak, terutama berujung dilaporkannya Amien oleh Ketua Bidang Hukum dan Advokasi Cyber Indonesia, Aulia Fahmi ke Polda Metro Jaya.

Kemunculan kalimat fiksi sebenarnya dari pernyataan Rocky Gerung dalam acara Indonesia Laywer Club (ILC), pada 10 April 2018, yang menurut pengamatan penulis memang selayaknya dalam beberapa hal Rocky Gerung dapat dibenarkan perkataannya. Karena fiksi menurutnya sangat berbeda dengan fiktif, maka disinilah masyarakat terjebak dalam kata fiksi yang dimunculkan dengan sangat emosional sekali.

Kitab suci yang dikatakan fiksi oleh Rocky Gerung sarat dengan upayanya untuk membuka mata masyarakat tentang berbagai kasus penistaan agama sebagaimana yang menimpa Ahok dan Ibu Sukmawati, hingga dirinyapun tidak luput dari tuduhan “penistaan agama” yang dilaporkan oleh Forum Umat Islam (FUI) dan Front Pembela Islam (FPI).

Berhubung pengetahuan terhadap fiksi itu semakin luas berambat ke berbagai lini kehidupan masyarakat yang menyangkut kemaslahatan ummat, seiring itulah masyarakat dituntun untuk lebih arif dan bijaksana menilai fenomena yang terjadi antara fiksi dan fiksi realitas. Masyarakat dengan pengetahuan yang diperolehnya tentu masih bimbang antara menemukan yang bersifat bualan semata (fiksional) dan sesuatu yang benar-benar terjadi (a reality), untuk dipilih berdasarkan ijtihad untuk membangun masa depan Indonesia.

Karena saat ini, perdebatan fiksi dan non-fiksi tidak akan bisa dilepaskan dari kehidupan masyarakat baik untuk menentukan seorang pemimpin, menentukan keyakinan, dan membangun keimanan yang hakiki, agar keyakinan kita tidak gampang dimakan oleh isu-isu murahan yang sarat dengan nilai-nilai politis maka saat itu pula masyarakat harus cerdas menilai bualan politisi yang fiksi dan yang tidak.

Baca Juga:  Fakhruddin Iraqi: Sebuah Renungan Tentang Cinta

Walhasil, sebagai masyarakat yang beradab kita tidak gampang terkecoh bualan semacan Rocky Gerung yang ekstrim terkait masalah kitab suci yang fiksi, sampai pada persoalan puisi Sukma, kaos dengan tagar #2019GantiPresiden, dan ketegangan Partai Setan dan Partai Allah yang didengungkan oleh Amien Rais—karena semua adalah fiksional—yang sampai hari ini masyarakat sudah sangat dewasa dan tidak seharusnya dibodohi dengan bualan-bualan fiksi semata. Wallahua’lam.