Sarjana Menganggur, Aib Sosial ?

Ilustrasi via kompasiana.com

Kebingungan sering menghampiri para siswa yang sudah mau lulus dari sekolah  menengah atas (SMA) dan sekolah menegah kejuruan (SMK). Yang dimana biasa sering kali ada ucapan “saat lulus mau kemana?” kuliah kah atau kerjakah? Dari ucapan tersebut mungkin sebagian dari siswa memilih untuk kuliah,sebagian lagi memilih untuk kerja. Sebagian lagi memilih untuk menganggur karena kemalasannya. Dalam hal ini seharusnya peran guru dan orang tua bisa memberikan motivasi  untuk anak-anaknya yang ini melanjutkan ke perguruan tinggi. Guru atau orang tua tahu harus masuk untuk memompa semangatnya.

Biasa anak yang harus lulus SMA atau setingkatnya biasa sering kebigungan  apalagi lingkungan tidak mendukung. Bukan malah mempertanyakan balik terhadap anak itu agar tidak nambah kebingungan. Guru atau orang tua harus memberikan arahan  agar anak melanjutkan kejenjang yang lebih tinggi.

Berbeda dengan orang tua yang  idealis yang  ingin anaknya sukses. Mereka  akan berfikir bahwa anaknya akan di kuliahkan untuk masa depannya lebih baik agar tidak sama dengan nya . Yang ke sehariannya bekerja  pontang –panting untuk biaya kehidupan , memang agak sulit hidup tanpa pendidikan , maka dari itu orang tua yang punya pandangan ke depan ia akan tetap mementingkan pendidikan sebagai investasi masa depan.

Sebaliknya , realitas sekarang  khusus  di kampung orang berpikir matematis, pikiran mereka sangat pendek . Pendidikan bukan diartikan secara umum atau universal , pendidikan hanya diartikan secara titel dan pekerjaan. Hal juga yang mengahantui temen-temen yang muda takut  untuk melanjutkan kejenjang lebih tinggi. Akan menjadi aib tersendiri bahkan keluarga ketika seorang sarjana bertitel lalu menganggur.

Pemikiran seperti itu  sudah menjadi lumrah di desa-desa, mereka menafsirkan bahwa sarjana  harus duduk di kursi empuk dan enak. Seperti menjadi aib ketika sorang sarjana bekerja seperti mengajar , menjadi petani,  yang intinya  bekerja tak berdasi dinggap rendahan.

Baca Juga:  Fakhruddin Iraqi: Sebuah Renungan Tentang Cinta

Lalu benarkah seorang sarjana harus  bekerja sesuai dengan jurusannya ? Ya, banyak jawaban atas partanyaan itu termasuk jawaban  Poul Freire yang mengatakan , pendidikan  untuk dirancang kemampuan diri  pribadi (self afifirmation) yang akhirnya menghasilakan kemandirian.

Jelas menurut Freire pendidikan bukan  tujuan pekerjaan atau titel, pendidikan bukan membuat orang itu kaya apalagi sombong. Pendidikan itu membebaskan atau memberikan kemandirian pada setiap orang.

Maka dari , marilah berpikir ulang tentang makna pendidikan, yang  awal kuliah dimaknai harus bekerja enak, duduk berdasi dan gaji tinggi, mulai sekarang pradigma itu harus diubah . Pradigma seperti itu harus dirombak ulang biar tak selalu mengakar dan .dibenarkan. tugas ini memang benar (kata dilan) biarkan aku saja yang memulai. Namun seberat apapun  mari kita mulai untuk merubahnya.