Pemuda Milenial dalam Panggung Demokrasi Politik Madura 2019

Tema di atas dijadikan bahan diskusi Organisasi Daerah Keluarga Mahasiswa BangkalanYogyakarta. Saya diminta untuk menjadi panelis dalam acara diskusi itu, karena dianggap punya kompetensi dalam mengamati politik daerah.

Memang beberapa dekade ini saya sering menuangkan analisa politik ke daerahan pada beberapa media nasional, namun itu hanya sekedar hobby. Tawaran itu dengan halus saya tolak, karena saya sendiri merasa  tidak punya kapasitas dalam hal itu. Kemudian, tawaran untuk menjadi moderator. Dengan alasan yang berbeda juga saya tolak, dan meminta  kader baru untukmemoderatori. Hemat saya, ini untuk kaderisasi dan pembelajaran bagi teman-teman mahasiswa daerah yang baru masuk Yogyakarta.

Namun sayang, pemuda milenial di Bangkalan belum punya peran besar dalam politik lokal. Pemuda milenial hanya jadi pelengkap dalam panggung demokrasi daerah kecuali pemuda yang berangkat dari strata social yang tinggi,Blater atau kiyai.Saat ini yang punya pengaruh besar dalam  politik  daerah di Madura Barat adalah dua simpul tersebut, kalangan blater dan kalangan kiai.
Dalam perkembangan, klan blaterlah yang mendominasi perpolitikan daerah. Blater, dalam banyak hal menunjuk pada sosok jagoan  sebagai orang kuat pedesaaan.
Melihat “ Pemuda Milineal  Dalam Panggung Demokrasi Daerah” sepertinya tidak begitu berpengaruh  besar untuk  demokrasi 2019, karena konstruksi politiknya   masih bertumpu pada local strong man (orang kuat local)   yang berkuasa. Disisi lain , anak mudanya  belum mampu mereformasi pemikiran lama yang berkembang di masyarakat.

Menurut Jalaluddin Rahmat,  dalam buku Rekayasa Sosialnya, salah satu alternativ untuk mengubah tatanan  social adalah harus mengubah cara berpikirnya masyarakat. jika merujuk pada teori Kang Jalal itu, hari ini pradigma politik Madura masih tidak jauh berbeda  dengan sebelumnya. 
Artinya, pradigma politik  kiai, blater lah yang masih mendominasi di masyarakat . Saya berpendapat bahwa pemuda milenial  di daerah sangat sulit untuk mengisi ruang politik yang strategis. 
Pemuda milenial masih belum membawa perubahan yang signifikan dalam perubahan politik lokal.
Kenapa bisa begitu?  Untuk menjawab itu saya mengunakan pendekatan teori  Gramsci dengan hegemoninya, bahwa kalangan Blater dan  Kiai mampu menancapkan hegemoninya berupa politik “ketakutan” pada masyrakat selain golongannya . hal itu membuat masyarakat  merasa tidak percaya diri untuk tampil di ruang publik. Hal itu ditambah  kesadaran politik masyrakat Bangkalan yang rendah. 
Selain itu, ketergantungan pada tokoh tertentu yang berlebihan sehingga membuat kekuasaan lama terus menguat.Rakyat Bangkalan masih belum bisa keluar dari narasi –narasi  politik lama yang sudah mengakar. Ditambah lagi, para pemuda di sana kebanyakan santri yang belum punya kesadasaran politik liberasi (pemebebasan). Mereka lebih banyak mengikuti instruksi Kiai atau identitas pesantrennya.

Baca Juga:  Mengukur Kebenaran Sejarah dalam Al Quran

Hal itu menambah sederet faktor mengapa pemuda milenial jadi pelangkap di daerah. Seharusnya , pemuda menjadi pendobrak tatanan politik lama yang menuju tatanan politik baru. Jika kesadaran politik  pemuda milenial, santri, meningkat dan terorganisir bukan tidak mungkin pemuda di daerah akan bisa menjadi bagian penentu kebijakan.
Namun jangan khawatir, budaya politik seperti itu  bukan hanya terjadi di daerah Bangkalan atau Madura, hal itu terjadi di sebagian daerahyang lain. Reformasi membawa budaya politik  baru di mana reformasi  menciptakan  orang kuat lokal , Namun tidak ada yang salah  dengan para orang kuat lokal, selama kekuaasan itu didapat secara konstitusional.
Bagamaina solusinya?  Untuk mengatasi problem di atas kembali kepada kesadaran masyarakatnya. Di era demokrasi rakyatlah yang harus cerdas dalam menentukan pilihannya. Rakyat harus lebih aktiv untuk berpartisipasi dalam menentukan pilihannya.
Rakyat adalah subjek dari perubahan, di tangan rakyat akan lahir pemimpin yang berkualitas. Rakyatlah yang berhak menentukan pemimpin. Suara Anda sangat mahal, satu suara rakyat menentukan siapa yang berhak  memimpin.  Maka, berikanlah suara pada orang yang tepat. 
Yang lebih penting lagi jangan takut bersuara jika melihat penyimpangan, karena kitalah yang  sesungguhnya pemilik kekuasaan.
Di sinilah pemuda milenial harus menjadi bagian untuk mencerdaskan masyarakat. Peran pemuda milenial dibutuhkan untuk memberikan edukasi politik pada masyarakat awam. memang tidak mudah membangun demokrasi, namun kita harus berjuang demi tercipta daerah yang lebih baik.
Sudahkah para pemuda milenial ikut andil dalam perubahan daerah? tidak usah dijawab  cukup diri kita dan Tuhan saja yang tahu.