Pelajaran Hidup dari Negeri Gingseng

Ilustrasi via brilio.net

Korea Selatan merupakan negara maju di benua Asia yang tak kalah saing dengan jepang. Tak sedikit orang ingin menjumpai keindahan alam dan kemewahan teknologinya. Lantas apa yang ada dibenak masyakarat Indonesia jika berbicara keunikan Negeri ini? Kosmetik, K-Pop, drama korea, gingseng. Tentu menjadi peringkat atas yang akan disebut.

Apapun mindset awalnya, berbagai reaksi yang pernah saya alami selama menjadi delegasi South of Korea Global Exchange Program 2018 ini harus menunjukan refleksi kehidupan yang jauh lebih mendalam dari sekedar apa yang tampak di televisi dan internet. Sadar atau tidak, kemamuan refleksi ini merupakan bagian penting bagi kehidupan manusia untuk memaknai setiap inci kehidupan, termasuk turut menentukan masa depan bangsa kelak.

Korea Selatan telah membuka inpirasi segar dimulai ketibaan kami di International Incheon Airport. Orang-orang (korea) berjalan begitu cepat setiba di terminal 1 bandara menuju kereta listrik agar sampai di terminal 2 bandara. Saya kira, mereka sedang dalam keadaan terburu-buru. Tenyata tidak. Hampir seluruh orang korea berjalan cepat sebagai tanda menghargai waktu, dan menghormati orang-orang yang sedang menunggu mereka di pintu penjemputan. Kedatangan kami pun, disambut oleh kerumunan orang berjaket tebal dengan suhu 9 derajat dibawah nol.

Sepanjang perjalanan menuju tempat kediaman para delegasi. Mata saya tertuju dengan keindahan sungai Han yang membelah kota Seoul. Ada sekitar 23 jembatan penghubung, di atas sungainya terdapat cafe-cafe yang didesign menarik, dipenuhi bunga yang beku karena musim dingin, dan tak terlihat sampah mengumpul disana. Kota Seoul sebagai pusat ibu kota yang dipadati hampir seperempat total penduduk korea selatan,  tidak mengakibatkan macet akut seperti di Jakarta.

Jalanan ramai lancar,  tak ada bising knalpot terompet tak karuan, klakson sedikit terdengar meski diperempatan jalan, belum ditemukan kendaraan yang parkir sembarangan. Ah. Negara maju memang mempesona! Karenanya, jika bangsa kita ingin maju, kita harus mengambil kebaikan kultur dan sistem yang diterapkan Negara Maju.

Baca Juga:  Cerdas dan Tidak Gampang Terprovokasi Di Media Sosial

Keesokan harinya, kami melakukan kegiatan cultural exchange antara pemuda Indonesia dengan Korea Selatan di Konkuk University, salah satu 10 Universitas di korsel. Lee Min Ho, Kim Hyuna, Lee Joong Suk, Minho Shinee merupakan lulusan Universitas ini. Di Konkuk University, kami belajar banyak tentang sistem pendidikan dan pembelajaran di Korsel. Dosen (pengajar) begitu akrab dengan mahasiswanya.

Disini, setiap dosen tidak diberi banyak mata kuliah untuk mengajar, tapi dosen dituntut untuk mengajari secara fokus dan menarik ketika mengajar. Oleh karena itu, permainan kecil, nyanyi, belajar di luar kelas masih banyak digunakan dan tidak merasa “ini adalah sistem kekanak-kanakan.” Kehadiran dan ketepatan waktu merupakan suatu penghargaan disini, mahasiswa yang selalu datang tepat waktu selama satu semester akan mendapatkan cashback uang semester sebanyak 20% dari total yang harus dibayar. Begitupun dengan pengajarnya. Sungguh, pendidikan serta kedisiplinan sangat diperhatikan di tempat ini.

Berbicara tentang drama korea tentu kita akan berbicara tentang parawisata. Karena tempat-tempat drama korea akan menjadi buruan wisata asing. Museum Konkuk University sering didatangi tourist asing, karena museum ini pernah dijadikan tempat syuting. Tidak sedikit tempat syuting yang kemudian dijadikan tempat wisata, termasuk Smtown Shop, Gyeongbokgung, Nami Island, hingga N Seoul Tower yang dulunya hanya menara radio.

Integrasi pendidikan dan perfilman di Korea selatan menjalin hubungan mutualisme agar meningkatkan rating popularitas universitas dan tempat wisata agar lebih dikenal oleh global. Bahkan, produk-produk terkenal di korea seperti gingseng, rumput laut, kuliner korea, kosmetik, samsung, memiliki sistem pendidikan yang komprehensif dan ilmiah berbasis teknologi untuk dideskrpsikan kepada para pengunjung sekaligus sarana promosi. Sehingga wajar, produk mereka dengan cepat akan menggiurkan pikiran kita untuk membelinya.

Baca Juga:  Di Balik Kamuflase Cinta Sejati

Disisi lain, kita dapat belajar nasionalisme kepada korea selatan dalam mencintai produk lokal. Selama perjalanan semingggu, saya menyaksikan ada 85 – 90% penduduknya menggunakan transportasi product lokal  dan alat telekomunikasi produk lokal. Bahkan dalam mengajar, dosen untuk berkomunikasi dengan mahasiswanya mewajib-kan aplikasi media sosial seperti Kakao Talk yang dibuat oleh negerinya sendiri.

Begitupun dalam bahasa, meski terkadang kami jengkel karena masih banyak dari mereka yang tak berbahasa inggris. Sehingga sulit untuk berkomunikasi. Satu lagi, saya cukup terkesan dengan Negeri gingseng ini. Karena mereka lebih banyak menggunakan transportasi umum, apalagi hanya berpergian sendiri. Sebuah teladan yang menguburkan gengsi tinggi di tengah kemajuan bangsa. Berbeda hal dengan di Indonesia, naik angkutan umum apalagi sepeda, sudah menjadi gengsi yang tak terelakan.

Pendek kata, saya sangat bersyukur pernah belajar kehidupan di Negeri ini. Tampaknya stereotip tetang negara maju yang individualis, sukar berkomunikasi yang selalu dikontraskan dengan kehidupan negara berkembang di Indonesia yang serba kolektif, ramah dan suka guyon tak selamanya akan menemui kebuntuan. Memang harus melewati jembatan yang bernama proses.Terlebih proses dalam mengubah mental, etika dan sistem. Tidak masalah berproses perlahan asalkan berjalan, daripada berlari tetapi berputar di tempat. Semoga kita mendapat inspirasi segar untuk lebih semngat berkarya dan merubah bangsa. Kata jokowi dengan terperangah “Revolusi Mental”. Benar pak, wujudkan! Ini bukan sekedar slogan!