Pasca Pilkada, Apa yang Tersisa?

ilustrasi via kabar5.com

Setelah Quick Qount sejumlah lembaga survey, yang menang dan yang kalah sudah terlihat. Meski belum ada penetapan dari Komisi Pemilihan Umum, beberapa paslon yang diunggulkan oleh survey langsung konferensi pers dan menyampaikan pidato kemenangan.

Tetapi ada beberapa paslon yang juga mengklaim sama-sama menang. Diantaranya pilkada di Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan yang cukup ramai adalah pilkada Jawa barat. Dimana pasangan Asyik merasa menang dalam survey yang dilakukan oleh internalnya. Pasangan Asyik merasa menang dari Pasangan Rindu yang oleh beberapa survey sudah dianggap menang.

Perang klaim ini menjadi suatu yang wajar manakala dikaitkan bahwa dalam setiap kontestasi tak ada yang ingin merasa kalah. Kemenangan adalah keinginan dari setiap calon. Tetapi pengakuan atas kemenangan ini juga dihadapkan dengan angka angka yang diperoleh dan akan ditetapkan oleh KPU.

Masalahnya saat sama sama ngotot merasa menang dari masing masing paslon, maka pada saat itu pulalah diperlukan kerja bersama untuk mengawasi hasil pemilu.

Angka yang bergerak dalam hitungan yang dilakukan oleh KPU menjadi salah satu penentu penting bagi setiap kemenangan. Apalagi memang dalam beberap survey, kemenangan calon demikian tipis dari lawannnya. Tidak menutup kemungkinan akan terjadi kecurangan dalam pilkada.

Dalam sejarah pilkada, modus kecurangan beragam. Mulai dari dengan menggunakan money politik untuk mempengaruhi pemilih, bermain dengan penyelenggara, hingga dengan kecurangan sistematis yang dilakukan oleh penyelenggara. Sebagaimana yang terjadi dalam pilgub tahun 2008, saat kasusnya diputuskan di MK. Hingga 3 kali dilakukan pemilihan ulang.

Nampaknya dalam pilkada tahun ini, belum ada tanda-tanda akan berakhir ke MK. Yang ada masih dalam sama-sama klaim menang antar salah satu paslon.

Sampai ada keputusan dari KPU, maka belum definitif kemenangan dari paslon pilkada. Survey hanya untuk mengukur kemenangan dalam pilkada. Survey belum dapat dijadikan patokan akhir dan dapat dijadikan sebagai kekuatan hukum untuk menetapkan salah satu paslon.

Baca Juga:  Dukung Palestina, PCNU Bangkalan Boikot Amerika dan Sekutunya

Yang cukup menggembirakan, pilkada yang terjadi pada tahun ini, tidak menguat politisasi agama. Walaupun riak riak kecil tetap ada yang memanfaatkan agama untuk meraih keuntungan, akan tetapi tidak sekuat sebagaimana yang terjadi di Pilgub DKI Jakarta.

Pun demikian, paslon yang kalah tidak berulah. Setidaknya kekalahan yang diterima paslon dalam pilkada tidak menjadikan pendukungnya menjadi anarkis.

Pun demikian, para pendukung yang menang belum terlihat ada pelecehan terhadap paslon lain.

Yang cukup menarik dan tersisa adalah saling serang antara pendukung PKS dengan pendukung PDIP. Saling serang ini dapat dilihat dari media sosial.

Pendukung PKS dan yang se pemikiran dengannya mendorong untuk tidak memilih PDIP sebagai partai pemerintah karena berita hoax tentang pernyataan Megawati yang dianggap tidak butuh suara umat Islam, pun demikian dengan pendukung partai merah ini yang meramaikan #tengelamkanPKS.

Namun demikian, yang tersisa dari pilkada dan menggembirakan demokrasi adalah beberapa paslon yang terpilih dalam pilkada serentak adalah orang orang baru yang memiliki prestasi. Pilkada kali ini memberikan pelajaran, bahwa untuk menjadi pemenang dalam kontestasi tidak cukup bermodal keturunan, dukungan kiai, tetapi juga harus ditopang dengan prestasi.

Provokasi, ujaran kebencian, politisasi agama menjadi suatu praktek yang kurang mampu menarik dukungan dari pemilih rasional. Suatu langkah maju yang harus dikawal bersama.