Paradigma Sufistik: Solusi Krisis Era Modernitas

Ilustrasi via pixabay.com

Saat ini kita sedang berada di era modern. Era modern atau era modernitas sendiri telah mendapatkan definisi yang bermacam-macam dari para pakar, tetapi secara garis besar era modernitas ini dapat kita pahami sebagai era yang ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi dan, lebih dari itu, teknologisasi diberbagai bidang kehidupan. Lebih jauh lagi, di era modernitas ini manusia dikokohkan sebagai subjek pusat dari alam semesta, sementara alam diposisikan sebagai objek bagi pengembangan ilmu pengetahuan yang dibangun oleh manusia sendiri.

Sebagai suatu gejala, modernitas secara historis mulai muncul di Barat sekitar abad 17 dan 18. Pada saat itu masyarakat Barat mulai dibimbing oleh ideal-ideal pencerahan mengenai rasionalitas dan progresifitas. Pengetahuan manusia mencapai optimisme maksimum yang mendorong manusia memiliki keberanian untuk memastikan alam dan masa depannya.

Pada dimensi mental, menurut Zygmunt Bauman, seorang sosiolog asal Polandia merumuskan bahwa zaman modern itu digambarkan sebagai perang terhadap atau pembebasan dari misteri dan magis guna mengukuhkan akal budi dan kebebasan. Akal budi ini dijadikan sebagai peralatan pokok dalam mengungkap rahasia-rahasia dunia. Pemahaman tersebutlah yang kemudian melahirkan paradigma materialistik-positivistik dalam peradaban Eropa.

Disatu sisi paradigma materialistik-positivistik ini telah menghasilkan pencapaian-pencapaian penting dalam kemajuan peradaban, seperti kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain itu, paradigma materialistik-positivistik yang sangat ‘mendewakan’ rasio ini juga telah melahirkan bermacam-macam metode ilmiah untuk mengkaji realitas-realitas yang ada di alam raya.

Tetapi di sisi lain, era modernitas dengan sederet pencapaian-pencapaian yang ada di dalamnya bukan berarti terbebas dari problem. Corak-corak kesadaran yang khas dari era modern, seperti materialistik, individualisasi, progres, sekularisasi, liberalisasi telah melahirkan keretakan-keretakan sosial ditengah-tengah masyarakat yang sedang dilanda modernisasi. Tentu saja karena saat ini modernisasi tidak hanya terjadi di Barat yang notabene sebagai produsennya, tetapi sudah menjadi suatu fenomena yang universal di seluruh negara.

Keretakan-keretakan ini dipicu karena nilai-nilai yang dibawa oleh modernisasi seringkali bertentangan dengan falsafah hidup negara-negara yang dilewatinya, khususnya peradaban Timur. Kita tahu bahwa kebudayaan Timur selama ini lebih menekankan kepada keseimbangan antara sisi interior dan eksterior, walaupun ada sebagian yang memilih untuk mendalami sisi-sisi interior secara ekstrim.

Sisi interior sendiri seringkali digambarkan sebagai hal-hal yang sifatnya metafisika, kebijaksanaan, keseimbangan, kebahagiaan, dan unsur yang tak kasat mata dan bersifat abstrak lainnya. Sedangkan filsafat kebudayaan Barat membawa nilai-nilai yang paradoks dengan falsafah Timur yang telah dijelaskan sebelumnya.

Filsafat kebudayaan Barat yang melahirkan corak-corak kesadaran modern yang menyebabkan keretakan-keretakan yang telah dijelaskan di atas membawa Peter Berger menyebutnya sebagai ‘polarisasi antara yang sama sekali transenden dan yang sama sekali manusiawi’, atau menurut kategori Horkheimer sebagai pergeseran ‘akal budi objektif ke akal budi instrumentalis’.

Baca Juga:  Pandangan Gus Dur Terhadap Aksi Intoleran atas Nama Agama

Rumusan Berger dan Horkheimer tersebut membawa kepada sebuah narasi yang menyatakan bahwa peradaban Barat saat ini telah gagal memahami realitas sebagai suatu keutuhan yang bernilai pada dirinya, melainkan dengan cara distansi, realitas menjadi serpih-serpih yang berjarak satu sama lain. Dengan polarisasi antara yang sama sekali transenden dan yang sama sekali manusiawi, manusia membebaskan diri dari misteri, dan makna-makna metafisik. Akibatnya, dunia ini menampilkan diri sebagai sesuatu yang sama sekali material dan bebas dari dunia transenden.

Kemudian selanjutnya terjadi pula pergeseran dari kemampuan membangun konsep-konsep objektif yang bermakna pada dirinya ke arah kemampuan memakai akal budi sebagai sarana atau alat untuk memperhitungkan segala kemungkinan demi tercapainya tujuan subjektif individu, lewat modernisasinya; di Barat telah terjadi keretakan antara agama dan filsafat, antara realitas adiduniawi dan realitas duniawi dan di seputar tema-tema keretakan ini dapat juga disebutkan aneka keretakan lain: keretakan antara individu dan masyarakat, anatara alam dan manusia. Inilah realitas yang terjadi di era modern saat ini.

Kemajuan sisi materil tidak berbanding lurus dengan sisi transenden yang pada akhirnya melahirkan problem-problem baru. Alih-alih menjadikan modernitas sebagai solusi untuk membangun masa depan yang lebih baik, tetapi yang ada adalah sebuah peradaban yang tidak seimbang dan kering akan nilai-nilai adiluhung. Hal ini bisa dilihat misalnya ketika kemajuan terjadi di bidang persenjatan militer.

Alih-alih perdamaian dunia semakin lestari, tetapi kenyataannya adalah sebaliknya. Senjata mutakhir seringkali digunakan sebagai senjata ampuh pemusnah manusia yang menyakiti rasa kemanusiaan itu sendiri. Selain itu, merebaknya sistem kapitalisme yang secara masif merusak tatanan sosial masyarakat yang ada, sehingga jurang kesenjangan sosial di masyarakat semakin melebar.

Melihat paradoks-paradoks tentang modernitas ini sudah saatnya mencari jalan keluar agar peradaban manusia tidak semakin terperosok kepada jurang materialisme, hedonisme dan kapitalisme buah dari kebudayaan modern. Salah satu caranya adalah dengan menghadirkan paradigma alternatif dalam menyusuri kehidupan modern ini.

Tentu saja paradigma yang digunakan adalah paradigma yang mampu mensintesiskan antara kebutuhan materil juga kebutuhan spiritual, tidak meniadakan antara satu dengan lainnya. Dengan demikian, disini penulis akan mendeskripsikan sebuah paradigma alternatif yang dirasa bisa menghadirkan keseimbangan antara kebutuhan materi dan kebutuhan batin. Paradigma tersebut adalah paradigma sufistik.

Paradigma sufistik sendiri sebenarnya bukanlah sesuatu yang baru, karena seperti yang kita ketahui bahwa paradigma ini lahir dari disiplin ilmu tasawuf. Ilmu tasawuf sendiri adalah sebuah disiplin keilmuan yang mengajarkan tentang substansi dan hakikat dari Islam. Sebagaimana dengan definisinya yang populer, tasawuf adalah “Al- akhdzu bi al-haqa’iq wa al-ya’s mimma fi yad al-khala’iq” (Menggapai hakikat dan berpaling dari apa pun yang dimiliki para makhluk).

Baca Juga:  Sufi Perempuan: Gradasi Marginalisasi yang Tak Pernah Selesai

Tasawuf adalah sikap moral dan sikap hati dalam mencari hakikat atau kebenaran yang sejati. Kita tidak akan puas dengan hal-hal yang bersifat lahiriah, seremonial, dan aksesoris. Secara substantif tasawuf mengajarkan tentang takhallaqu bi akhlaqillah (meneladani sifat Allah), al-akhlaq al-karimah (akhlak yang luhur), mu’asyarah bi al-ma’ruf (pergaulan yang baik), mu’amalah bi al-husna (interaksi yang baik).

Dari sini sudah terlihat bahwa hal-hal yang sifatnya lahiriah-materil, seperti pergaulan, interaksi dengan sesama makhluk dan aktifitas di dunia ini secara umum harus dikaitkan dengan dimensi batin-substansial yaitu akhlak yang luhur. Dari sinilah kemudian situasi harmoni dapat terwujud. Dimensi batin-substansial inilah, sadar ataupun tidak, yang kini sedang terlupakan di era modern bersama sebagian manusia-manusia di dalamnya

Kenyataan di era modern inilah yang kemudian mengantarkan Alexis Carrel, seorang peraih nobel pada 1912 di bidang kedokteran, mengkritik manusia modern yang, di satu sisi, sangat cepat mencapai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang menakjubkan, tetapi di sisi lain, sangat lamban dalam hal pengetahuan tentang dirinya sendiri.

Keterpisahan manusia dari dirinya berbanding terbalik dengan perhatian yang demikian tinggi terhadap dunia yang ada di luar dirinya. Kemajuan ilmu pengetahuan tentang kehidupan secara umum dan khusus tentang manusia sangat lambat, jauh tertinggal dibandingkan dengan kemajuan ilmu pengetahuan yang bersifat materil di luar diri manusia yang dikaji begitu pesat seperti ilmu astronomi, mekanika, teknologi, dan ilmu pengetahuan alam, yang mengakibatkan manusia tidak mengetahui dirinya sendiri dengan baik.

Ilmu tentang manusia sebatas pada kajian-kajian deskriptif. Tidak ada perangkat yang mengkaji manusia secara holistik. Akibatnya, problem terbesar manusia modern adalah gagal menemukan pendekatan untuk memahami relasi manusia dan alam di luar dirinya sendiri. Inilah sebabnya, ada sementara pakar yang berkata bahwa walaupun di era modern ini kemajuan di bidang IPTEK sangat masif, tetapi tidak membawa manusia-manusia modern bahagia, tetapi sebaliknya, manusia-manusia modern semakin teralienasi dari kehidupannya.

Pandangan-pandangan sufistik yang dihasilkan dari dapur spiritual para guru sufi telah memberikan pemahaman yang utuh tentang hakikat Tuhan, manusia, dan alam raya. Pemahaman ini didapatkan berkat perpaduan antara rasio dan intuisi. Dengan rasio, manusia bisa mengukur hal-hal yang bersifat materil, fisik, dan inderawi. Dengan intuisi, manusia bisa berimajinasi, mencerdaskan rasa terdalam, menembus cakrawala immateri, dan mengarungi apa yang dikatakan Annemarie Schimmel sebagai “metahistory” manusia, serta bisa bertamasya ke dalam ketakterbatasan metafisik, yang tak bisa dilalui rasio.

Sistesis antara rasio dan intuisi bisa dilihat dalam tradisi para sufi yang telah dirumuskan oleh Ibn ‘Arabi, Jalaluddin Rumi, Mulla Shadra, dan lain-lain. Sebagai contoh misalnya dalam memandang manusia. Berbeda dengan Barat, berdasar pada penelitian psikologi behaviorisme dari Watson, yang hanya memandang manusia sebatas pada dimensi rasionalis-materialis saja.

Baca Juga:  Spiritualisme: Solusi bagi Sikap Keberagamaan “Umat Islam” Indonesia

Para tokoh sufi memandang manusia sebagai ‘citra’ Tuhan di bumi. Manusia dipandang sebagai mikrokosmos yang menjadi sebab fundamental penciptaan makrokosmos, yang bisa mengenal dan mengetahui dunia fisik serta mempunyai akses ke dunia spiritual. Pandangan ini jauh berbeda dengan pandangan rasionalisme-materialisme. Untuk itu, ketika kita belajar dari Barat, kita jangan hanya terpesona oleh capaian keberhasilannya, tetapi kita juga harus belajar dari kesalahan-kesalahannya.

Saat ini untuk mempromosikan paradigma sufistik tidak semulus yang di kira. Sebagian orang masih memiliki anggapan-anggapan negatif terhadap tasawuf atau sufi. Diantaranya adalah asumsi bahwa tasawuf ditengarai telah mengendorkan etos kerja. Tasawuf telah menyebabkan umat Muslim tidak semangat dan kompetitif dalam lapangan kerja, yakni cenderung menerima apa adanya, bahkan telah menumbuhkan mental malas.

Asumsi tersebut akibat kesalahan dalam menafsirkan doktrin tawakkal, qana’ah, zuhud, dan lain-lain. Padahal jika kita lihat petuah-petuah dari para guru sufi yang akan kita temukan adalah uraian yang bertentangan dengan asumsi-asumsi tersebut. Amir al-Nagghar, misalnya, pernah mengatakan, “Para master sufi telah menganjurkan kepada para murid dan pengikutnya untuk bekerja keras.”

Satatemen ini setidaknya menggambarkan bagaimana para tokoh sufi telah berkeras menanamkan semangat. Bukan saja semangat menanjaki tangga-tangga spiritual, tetapi juga semangat menghadapi kehidupan riil di dunia, dengan terus bekerja keras tanpa pantang menyerah.

Lihatlah Ibrahim ibn Adham yang berpesan kepada murid-muridnya, “Hendaknya kalian bekerja dengan giat. Bekerja secara halal dan memberikan nafkah kepada keluarga.” Lihat juga al-Sya’rani yang menasihati para pengikutnya dari kalangan pekerja, “Bersungguh-sungguh bekerja dan menekuninya sama dengan melakukan ibadah sunnah.” Al-Syadzili juga pernah berkata, “Orang yang tidak mau bekerja, janganlah sampai ia datang kepada kami. Orang yang tidak mempunyai kebaikan sama sekali untuk dunia, dapat dipastikan bahwa ia pun tidak mempunyai kebaikan bagi akhiratnya.”

Di dalam sejarah juga adala Abu al-Mansur al-Hallaj dan Fariduddin al-‘Athar, dua tokoh sufi legendaris, yang memiliki pekerjaan sebagai saudagar yang sukses. Al-Hallaj sebagai saudagar bulu wol yang sukses, sedangkan Fariduddin al-‘Athar mempunyai bisnis di bidang minyak wangi, obat-obat herbal, dan rempah-rempah.

Inilah bukti betapa tasawuf bukanlah penghalang untuk mengembangkan aktifitas-aktifitas duniawi. Dengan demikian, setelah memperhatikan narasi-narasi di atas, menyikapi modernitas dengan paradigma sufistik atau spiritualistik secara umum dirasa relevan untuk menanggulangi krisis-krisis yang terjadi akibat ‘limbah’ modernitas yang menjauhkan manusia dari moralitas yang mulia, tenggang rasa, toleransi, kelembutan, dan kepekaan sosial yang tinggi terhadap masyarakat kelas bawah.