Pandangan Gus Dur Terhadap Aksi Intoleran atas Nama Agama

Gus Dur via soearamoeria.com

“Apapun bentuk dan sebab tindakan kekerasan dan terorisme,

seluruhnya bertentangan dengan ajaran agama Islam.”

— Gus Dur

Sikap dan perilaku intoleransi dewasa ini tanpa bisa dipungkiri, semakin meningkat. Terutama dalam ruang lingkup isu SARA, sebagaimana data Laporan Tahunan Kebebasan Beragama/Berkeyakinan dan Intoleransi yang disusun oleh The WAHID Institute selama tiga tahun terahir.

Dalam laporannya, selama tiga tahun terahir (2014-2016) tercatat bahwa aksi intoleransi semakin. Diawali pada tahun 2014 dengan catatan terjadinya aksi intoleran sebanyak 187. Pada tahun berikutnya (2015), angka intoleransi meningkat secara drastis dengan prosentase 20% menjadi 294 aksi dan meningkat lagi sebanyak 7% menjadi 313 aksi pada tahun berikutnya, 2016. Untuk laporan di tahun 2017, mari kita tunggu bersama hasilnya.

Dari sekian banyak aksi intoleransi, salah satu ormas Islam ─ yang penulis rasa para pembaca sudah mafhum ─ menempati rangking tiga teratas sebagai aktor yang terlibat dalam aksi-aksi tersebut.

Jika data diatas yang menunjukkan tingginya sikap intoleransi atas nama agama, lantas benarkah agama tidak mengajarkan kepada pemeluknya untuk bersikap saling menghargai terhadap sesama dan hidup damai. Lebih lanjut, bukankah pada hakikatnya sudah menjadi sebuah keniscayaan bahwa Tuhan menciptakan manusia dalam keadaan berbeda sebagaimana tertulis dalam An Nisa’ (3): 10.

Dalam kaitan agama dan kekerasan, pernyataan Gus Dur (Duta Masyarakat. 31/12/2002) diatas, menurut hemat penulis, adalah sebuah jawaban dan pandangan beliau terhadap maraknya aksi intoleransi dengan dalih agama seagai alasan pembenaran.

Pernyataan tersebut merupakan sebuah tanggapan atas kritik, dari Yusril, yang ditujukan kepada Gus Dur yang dianggap terlalu mesra dalam menjalin hubungan dengan kelompok yahudi (non-Islam) pada saat itu.

Baca Juga:  Spiritualisme: Solusi bagi Sikap Keberagamaan “Umat Islam” Indonesia

Lebih lanjut, berbeda dengan sikap gus Dur, Yusril menilai bahwa seorang muslim yang baik, salah satu caranya adalah dengan keras terhadap orang kafir dan lemah lembut terhadap sesama muslim (asy syiddau ‘alal kuffaar ruhamaa baynahum [Q.S. al Fath: 29]).

Boleh jadi, jika hanya merujuk pada ayat ini, memang aksi intoleran adalah benar menurut ajaran agama. Namun dalam memahami doktrin agama tidak lah sesederhana yang demikian. Banyak aspek yang menjadi pertimbangan dalam menafsirkan sebuah doktrin agama, sehingga ajaran agama tidak hanya sebatas apa yang tertulis dalam kitab.

Menurut hemat penulis disitulah sebenarnya salah satu penyebab munculnya kekerasan atas nama agama, yakni ketika doktrin agama hanya dipahami secara parsial, tanpa mempertimbangkan aspek yang lain, sehingga menyebabkan terjadinya misconception.

Padahal, seyogyanya, untuk memahami ajaran agama, dalam hal ini Islam, dibutuhkan pengetahuan multi disiplin. Tidak hanya sebatas mengerti makna teks berbahasa Arab belaka. Terlebih lagi jika hanya merujuk dari buku terjemahan dan Mbah Google.

Dalam kaidah penafsiran misalnya, beragam cabang disiplin ilmu sangat dibutuhkan dalam proses penafsiran seperti nasikh mansukh, asbabun nuzul, nawhu, sharaf  dan lain sebagainya. Lantas jika hanya memahami doktrin agama sepenggal-sepenggal, pun disesuaikan berdasarkan kepentingan pribadi/kelompok, maka perlu diingat bahwa beragama tidak sebercanda itu.

Fenomena-fenomena dalam beragama seperti itulah yang setidaknya didiagnosa sebagai penyakit akut yang menyerang umat beragama. Dan Gus Dur menyebutnya dengan “kedangkalan.” Kedangkalan berpikir dalam beragama selanjutnya seringkali memunculkan anggapan merasa paling benar (exclusivism) dan melakukan justifikasi salah kepada kelompok yang tidak sefaham.

Berdasarkan hal tersebut, penulis menilai bahwa ada hal yang kurang tepat pada cara beragama sebagian pemeluknya. Dan solusi untuk mengatasi hal tersebut, menurut hemat penulis, adalah dibutuhkan keterbukaan pikiran dalam memahami doktrin-doktrin agama agar tidak terjebak dalam penafisran yang saklek (kaku).

Baca Juga:  Menafsirkan Ulang al-Qur’an

Disamping itu, dialog atau tabayyun juga menjadi salah satu solusi yang tepat untuk menghindarkan aksi intoleran. Melalui dialog diharapkan segala akar permasalahan, perbedaan pendapat dan perselisihan bisa diungkap lalu diselesaikan dengan zonder kekerasan. Terlebih lag bagi kita masyarakat Indonesia yang, berdasarkan kulturnya, sangat menjunjung tinggi kebersamaan sebagaiman dalam pepetah guyub rukun agawe sentoso (kebersamaan akan menciptakan kesejahteraan).

Di sisi lain, bukan kah Islam adalah agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam, maka pasti terdapat suatu hal yang kurang tepat jika apa yang sering digaungkan, bahwa Islam adalah agama rahmat, namun wajah Islam yang ditampikan, oleh sebagian pemeluknya, sangatlah bertentangan