Menulis untuk Perubahan Dunia

Ilustrasi via pixabay.com

Setetes ide yang anda tuangkan pada kertas hari ini, bisa jadi suatu saat menjadi inspirasi bagi ribuan orang di masa depan”, Seringkali tidak kita sadar betapa kita mempunyai potensi besar memberikan perubahan-perubahan untuk bangsa kita bahkan dunia.

Tentu saja dengan keahlian kita yang beragam, seperti potensi akademik, cakap dalam mobilisasi masa, skill menulis,  atau desain, bisa saja kita manfaatkan untuk perubahan. Dari beberapa potensi yang beragam tersebut, ada potensi yang terbukti dapat diandalkan untuk perubahan besar, yaitu menulis, menuangkan gagasan pada secarik kertas.

Siapapun yang melihat sejarah dunia dengan seksama, mereka akan melihat betapa perubahan-perubahan besar pada suatu bangsa, yang kita temukan dalam sejarah, merupakan buah tangan dari penulis dengan ide-ide cemerlangnya.

Pemberontakan yang tidak dekonstruktif secara kasat mata, ataupun perubahan yang alamiah pada kebudayaan dihasilkan oleh tangan-tangan pemegang alat tulis. Sehingga menulis merupakan keharusan bagi generasi bangsa yang digadang sebagai generasi emas beberapa tahun ke depan.

Sejarah telah menunjukkan kepada kita contoh perubahan yang hanya dilakukan  dengan ide-ide tertuang di atas kertas. Renaisans terjadi karena sebelum itu ada gerakan yang intens dalam melahap refrensi realitas dunia.

Mereka memeluk erat buku-buku dan memahami dengan seksama, dengan begitu mereka menemukan kebenaran berdasar dialektika dengan gagasan pendahulunya, khususnya para filsof Eropa.

Mereka sadar adanya ketidakadilan, mereka respek, sehingga mereka menuangkan dalam tulisan, kemudian disebarkan dengan semangat untuk merubah.

Indonesia mempunyai sejarah penting dengan kolonial, dan tidak dipungkiri gerakan literasi juga membuat negara kita lepas dari akutnya cengkraman penjajah.

Kesadaran tertindas yang begitu hebat, mereka tuangkan pada kertas-kertas, dan kertas itulah yang membakar semangat pemuda bangsa, yang kemudian menghadiahkan kemerdekaan untuk kita.

Baca Juga:  Cerdas dan Tidak Gampang Terprovokasi Di Media Sosial

Kalau kita lihat, semua itu dilakukan oleh pemuda-pemudi brilian, dalam artian pemuda yang mau menggerakkan jarinya menuangkan ide, memberikan penyadaran.

Setiap otak yang mengalir darahnya, dipompa udara, membuat mereka bergerak lebih dan lebih, sehingga tuangan idenya lebih bersemangat. Dari tulisan tersebut hanyalah perubahan yang menjadi orientasinya.

Tentu tiap perubahan tidak selalu baik, perubahan ada yang baik dan ada juga yang tidak. Bukan hanya perubahan kosong yang diharapkan, perubahan yang dimaksud adalah perubahan pada kondisi yang lebih baik.

Dalam sejarah perubahan dunia-pun kita banyak sekali menemukan tulisan yang menggerakkan masa besar-besaran di hahun 80-an, namun juga tidak sedikit perubahan dunia yang mencedrai hak asasi manusia.

Seringkali perubahan membutuhkan korban, itu menurut  penulis tidak sepenuhnya benar. Kalau yang dimaksud adalah pengorbanan waktu dan kesabaran, tentu saja ia, tetapi kalau yang dimaksud adalah korban kemanusiaan, korban peradaban, saya rasa terlalu jauh.

Bagaimna kita akan menemukan perubahan yang diharapkan sementara kita masih berkutat dengan gerakan penulisan yang mengumpat. Mari kita rubah gerakan negatif dengan ide-ide cemerlang serta pertimbangan yang universal.

Kita atur ritme ide tulisan kita. Alur tulisan yang santun tapi menuai hasil maksimal dengan hikmah-hikmah yang dibawa. Sehingga perubahan yang kita dapat adalah perubahan yang cemerlang dalam segala segi. Dan mari kita giatkan gerakan menulis untuk perubahan dunia yang lebih baik.