Mengukur Kebenaran Sejarah dalam Al Quran

Ilustrasi via pixabay.com

Jika seseorang bertanya, “Apakah informasi historis yang terdapat dalam Al Quran itu benar?” Tentu seorang muslim, umumnya, akan menjawab: “Ya, benar”. Kenapa? (Jawaban untuk menunjukkan keimanannya): “karena Al Quran berasal dari Tuhan”. Dengan meyakini bahwa Al Quran berasal dari Tuhan, maka informasi yang tercakup di dalamnya secara otomatis dianggap benar.

Tetapi apakah orang yang mengedepankan rasionalitas dan logika positivis akan percaya begitu saja? Tentu saja tidak. Sebab, kemungkinan besar ia akan mempertanyakan premis tersebut dengan pertanyaan: “Bagaimana membuktikan bahwa Al Quran berasal dari Tuhan?”

Jawaban sederhana dan cukup masuk akal bagi sebagian orang, adalah karena sang penerima wahyu (Al Quran) yakni Nabi Muhammad adalah orang yang ummy; yang berarti tidak bisa membaca dan menulis. Logikanya, bagaimana mungkin seorang yang buta literasi mampu ‘menciptakan’ karya agung yang memuat berbagai macam sejarah masa lalu?

Meski demikian, argumen semacam itu tetap saja tidak dengan mudah diterima para ilmuwan atau sejarawan yang membutuhkan legitimasi empiris atasnya. Sehingga, ini memungkinkan seseorang melakukan pembenaran atas informasi dalam Al Quran dengan menampilkan data-data maupun fakta sejarah.

Akan tetapi problemnya adalah, jika ukuran kebenaran Al Quran adalah demikian, lantas bagaimana dengan ayat-ayat yang hanya memuat informasi tetapi tidak memiliki bukti sejarah? Apakah mungkin disebut sebagai kebenaran? Jawabannya akan kembali lagi: “Tetap benar, karena Al Quran berasal dari Tuhan”. Tetapi, marilah kita mencoba untuk tidak terlalu dogmatis.

Narasi Kenabian

Di dalam Al Quran terdapat banyak narasi atau kisah tentang umat terdahulu; kisah tentang para nabi, orang-orang saleh, maupun narasi tentang orang-orang yang dimurkai. Bagaimanapun, jika menggunakan paradigma ilmiah, beberapa narasi tersebut tidak memiliki bukti otentik untuk disebut sebagai kebenaran sejarah.

Baca Juga:  Spiritualisme: Solusi bagi Sikap Keberagamaan “Umat Islam” Indonesia

Membahas kisah tentang Adam misalnya, kebanyakan ahli tafsir sepakat bahwa Adam adalah manusia pertama. Namun, hingga saat ini belum ada sejarawan yang mampu membuktikan bahwa ia adalah manusia pertama. Bahwa ‘eksistensinya’ memang ada, mungkin saja benar. Tapi sebagai manusia pertama? Tentu tidak mudah untuk mengatakannya.

Gagasan Charles Darwin bahwa manusia berasal dari kera tentu menjadi bukti bahwa para ilmuwan tidak bisa begitu saja menerima teori tentang Adam sebagai manusia pertama. Hal ini tidak lain karena belum ada bukti-bukti empiris untuk membenarkan hal itu.

Kisah tentang Adam dan Hawa adalah salah satu dari sekian cerita yang terekam oleh sejarah perdaban bangsa Semit (Israel dan Arab kuno). Narasi Adam-Hawa terus terjaga dan diwariskan ke dalam tradisi Arab hingga diturunkannya Al Quran (Makin: 2016, 25). Jadi, ribuan tahun sebelum Al Quran berbicara soal Adam dan Hawa, beberapa tradisi Kitab Suci telah banyak menyebutkannya. Maka tak heran jika di dalam tradisi Biblikal juga terdapat narasi tentang itu. Tetapi kembali lagi, betapapun kuatnya tradisi penceritaan soal Adam-Hawa, hal tersebut tidak lantas melegitimasi bahwa Adam adalah benar-benar manusia pertama.

Selain soal Adam, di dalam Al-Quran juga terdapat narasi tentang Musa (Moses) melawan Fir’aun (Ramses), yang biasa disebut dengan persitiwa Eksodus. Tidak jauh berbeda dengan Al Quran, Perjanjian Lama juga memuat narasi yang serupa; menceritakan Musa sebagai pembebas bangsa Israel dari cengkraman Fir’aun Mesir.

Narasi tentang peristiwa Eksodus yang ada dalam kedua tradisi Semitik di atas, tidak bisa dilepaskan dengan tradisi Mesir; karena keduanya ‘sepakat’ bahwa peristiwa Eksodus terjadi di Mesir. Saat ini, Mesir telah banyak meninggalkan catatan kehidupannya, meliputi: upacara keagamaan, konsep ketuhanan, akhir hayat, penguburan, makanan, arsitektur, juga sistem kerajaan. Tetapi, dalam banyak peninggalan Heiragliphic (tulisan Mesir kuno), peristiwa Eksodus yang melibatkan Musa dan Fir’aun sendiri tidak ditemukan (Makin: 2016, 28). Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan; apakah narasi Musa-Fir’aun yang disebutkan Al Quran itu benar-benar ada, ataukah hanya sebatas mitos belaka?

Baca Juga:  Sufi Perempuan: Gradasi Marginalisasi yang Tak Pernah Selesai

Al Quran Bukan Kitab Sejarah

Fazlurrahman, seorang pemikir Islam Pakistan, berpendapat bahwa semangat utama Al Quran adalah Moral (Saeed: 2008). Melalui semangat ini, selain memunculkan penekanan atas monoteisme, juga penakanan pada keadilan sosial. Maka tak heran jika di dalamnya diajarkan banyak hal tentang nilai-nilai kebajikan; Bagaimana seseorang memandang kehidupan dan bagaimana ia mesti menjalaninya. Adanya konsep surga dan neraka sebagai balasan adalah salah satu ‘upaya’ agar manusia senantiasa berusaha berbuat baik dan menjadi baik.

Kisah tentang Adam-Hawa lebih tepat dipahami secara metafora dan reflektif. Melalui kisah Adam-Hawa diperoleh pelajaran tentang tugas berat manusia di bumi, dan tanggung jawab manusia terhadap alam raya (Makin: 2016, 48). Adapun perlawanan Musa terhadap Fir’aun, adalah ajaran moral bahwa kezaliman mesti dilawan, dan segala bentuk penindasan tidak dapat dibenarkan. Selain itu, kritik atas pendakuan Fir’aun sebagai Tuhan, adalah bagian terpenting dari narasi ini, dan justru bukan pada soal benar atau tidaknya peristiwa tersebut. Sebab, bagaimanapun, ajaran-ajaran semacam itulah yang menjadi gool dari banyaknya kisah yang ada di dalam Al Quran.

Dengan gagasan demikian, menjadi tidak begitu berarti apakah narasi tentang Adam-Hawa, Musa-Fir’aun, maupun kisah-kisah lain yang ada dalam Al Quran dianggap benar menurut ‘ukuran sejarah’. Sebab, kebenarannya diukur melalui apakah ia benar-benar berisi ajaran moral atau tidak. Seandainya tidak, tentu seseorang boleh dengan leluasa menyebutnya sebagai bukan keberanan.

Jika memang narasi tentang Adam-Hawa, Musa-Fir’aun dan yang lainnya hanyalah mitos belaka, seseorang mungkin bertanya, mengapa tidak mengambil kisah yang benar-benar nyata?

Sebagaimana dituturkan Al Makin dalam bukunya; Keragaman dan Perbedaan, Kitab Suci merupakan ‘rekaman’ masa lalu (Makin: 2016, 26). Cerita tentang para nabi, orang-orang saleh, orang yang dimurkai dan yang lainnya, telah banyak dikenal oleh bangsa Semit; termasuk bangsa Arab sebelum Al Quran diturunkan. Hal ini tentunya meniscayakan bahwa apa yang hendak disampaikan Al Quran mesti ‘diadaptasikan’ dengan budaya dan tradisi yang telah ada, sehingga obyek yang hendak dituju lebih bisa menangkap dan menerimanya. Sebab, bagaimanapun pewahyuan ajaran Islam pada abad tujuh di Arab menemui banyak rintangan di awal misinya.

Baca Juga:  Pandangan Gus Dur Terhadap Aksi Intoleran atas Nama Agama

Tetapi yang jelas, betapapun Al Quran dipermasalahkan dalam hal benar tidaknya data sejarah yang dinarasikan, kebenarannya sebagai Kitab Suci yang berisi ajaran tentang moral tetap tidak dapat dielakkan. Sebab ia sama sekali bukan bertujuan historis, apalagi sebagai penyelidikkan ilmiah, tetapi sekali lagi, untuk tujuan moral. Wallahu a’lam.

Sumber Referensi:

Makin, Al. 2016. Keragaman dan Peradaban. Yogyakarta: Suka-Press

Saeed, Abdullah. 2008. The Qur’an: An Introduction. London: Routledge.