Menggugat Kiyai, Pantaskah ?

Ilustrasi via pixabay.com

Banyuwangi kembali gempar beberapa hari lalu. Ada ribuan warga Nahdliyin yang mengawal kasus penistaan agama. Tergabung dalam Kompak (Komando Masyarakat Pendukung Kiyai) , ribuan warga mendatangi kantor pengadilan negeri di kota yang sempat  memperoleh Harmony Award dari Kementrian Agama itu.

Sungguh merupakan sesuatu yang janggal menurut saya. Bagaimana tidak, tindakan berani M. Yunus menunjuk seorang kiyai telah menerima uang dari tambang emas tumpang pitu telah membuat pendukung kiyai geram dan ricuh di pengadilan. Dalam video yang diungguhnya dia berkata  , “ Saya hanya ingin bersih-bersih para koruptor yang ada di tubuh NU..saya tidak terima kalo NU ini buat Bancaan, yang dilakukan oleh oknum-oknum berpakaian kiyai.” Dia melanjutkan “dan jangan sampai terjadi oknum yang koruptor ini disebut kiyai tai..”

Bagi saya, masalah ini menjadi indikator terhadap, sedikitnya dua hal. Pertama : Mayoritas Nahdliyin masih kurang kritis dalam menyikapi otoritas agama dan etika agama. Kedua : Daya kritis individu sering tak diimbangi dengan etika dan cara penyampaian yang elegan dan akademis dan sering bersifat  frontal dan emosional.

Lebih lebih, Terbentuknya Komando Masyarakat Pendukung Kiyai dalam kasus M. Yunus menurut saya menunjukkan wajah NU yang militan. Pengerahan berbagai elemen NU mulai dari BANSER, Pagar Nusa, GP Ansor dan masyarakat umum Nahdliyin tak ubahnya sikap NU yang norak dan tak mengedepankan argumentasi rasional dalam memecahkan masyalah.

Sehingga malah terkesan seakan akan NU tak mau dikritik. Pertama, kita harus akui bahwa di alam yang sangat demokratis dan rasional ini, seharusnya  otoritas agama memiliki mekanisme self-instrospection yang tak hanya mengandalkan wahyu tapi juga ber-ijtihad terus menerus dalam konteks kehidupan yang dinamis. Kedua , M. Yunus tak sepenuhnya salah , bahkan dalam persidangan terbukti benar dengan adanya pengakuan KH. Maskur Ali yang menerima uang dari tambang emas. Mungkin, M Yunus tak tepat karena secara emosianal dan karas mengata-ngatai Kiyai. Namun, kita harus bisa membedakan yang mana perihal kebenaran, dan mana yang perihal etika atau moralitas.

Baca Juga:  Di Ambang Kematian Kepakaran

Lalu pertanyaannya, pantaskah menggugat Kiyai?

Masalah-masalah etika atau akhlaq sudah menjadi pertanyaan para filosof dari Yunani kuno hingga Agama Islam itu sendiri. Kata etika sendiri diambil dari bahasa yunani yang berarti “ timbul dari kebiasaan” . Dalam ajaran islam, akhlaq bisa disejajarkan secara umum dengan moralitas atau sopan santun yang menjawab persoalan terkait normatifitas perbuatan manusia seperti benar salah, baik buruk dan sebagainya. Lalu apakah menggugat Kiyai tindakan yang tidak etis menurut agama? Ternyata tidak juga.

Kalo kita telusuri  sejarah islam , kita bisa lihat bagaimana Islam muncul sebagai agama yang sangat liberatif bahkan menganjurkan hak hak berpendapat sehingga lebih bernuansa egaliter. Lihat bagaimana Rosulullah lebih memilih untuk  membangun persahabatan daripada hubungan hirarkis tuan hamba. Bahkan dalam beberapa hadist beliau sering dikritik dalam membuat kebijakan seperti kisah Al-Khabab bin Al Mundzir, seorang ahli siasat perang badar.

Waktu itu, dengan  sopan dan tenang dia ungkapkan ketidak setujuannya terhadap keputusan sang Rosul yang memutuskan lembah badar untuk pos pertahanan. Alih-alih terima dengan putusan belaiu, Al Khabab menawarkan tempat yang berbeda atas pertimbangan siasatnya yang akhirnya disetujui oleh Nabi Muhammad. Kisah ini mencerminkan bagaimana sikap kritis justru merupakan etika islam yang sesungguhnya. Bahkan, sejarah islam adalah sejarah  kritik terhadap kesembrawutan tatanan sosial masyarakt arab  seperti halnya nabi Isa As yang mengkritik otoritas agama yang waktu itu dimanfaatkan segelintir orang demi kepentingan mereka sendiri.

Menurut saya, kritik Yunus terhadap para kiyai harus ditanggapi serius dalam internal tubuh NU sendiri, terutama NU Banyuwangi. NU harus berperan aktif dalam masalah-masalah yang terjadi di banyuwangi seperti penolakan tambang emas. Jangan justru mengambil keuntungan sendiri dan absen dari masalah umat. Apalagi sampai terlalu berlebihan mendukung otoritas agama dengan membuat komando Masyarakat Pendukung Kiyai. Harusnya nilai-nilai keterbukaan, kejujuran, dan aspirasi rakyat yang lebih diperjuangkan keimbang tokoh-tokohnya. Dampaknya warga kurang kritis dalam membaca persoalan.

Baca Juga:  Gus Dur dan Perdamaian Palestina

Saya sangat mendukung spirit Yunus dalam menyerukan otoritas agama yang bebas korupsi. Memang, pemberian uang oleh pihak tambang emas kepada kiyai tak mudah dikategorikan korupsi, namun relasi ini perlu curigai dan digugat agar publik perlu tahu motif dan logika agama dibalik permainan uang ini.

Tapi tentu saya menyayangkan sikap emosianalnya yang kurang sopan terhadap kiyai, karena etika atau kesopanan juga perlu dalam berkehidupan seperti sabda nabi “Sesungguhnya tidaklah saya diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlak.” Jadi, Marilah kita kritis dengan cara yang etis.