[Meng]apa Filsafat itu Penting ?

Ilustrasi via pixabay.com

“Commençons pa I’imposible: marilah kita mulai dengan yang tak mungkin.

— Jacques Derrida,

Di hadapan Tuhan kita hanya bisa diam.

Namun di hadapan dunia, kita tak bisa diam

–Muhammad Al-Fayyadl

Selain kerumitan dan peliknya filsafat, apalagi yang berharga kalau bukan para filusuf-nya yang dengan keras telah memikirkan dunia ini?

Tak ada ilmu yang lebih menantang di dunia ini selain, filsafat. Betapa tidak, suatu kali, di tangan Nietzsche filsafat berhasil membunuh Tuhan, dalam teriakan termashurnya: god is death. Tidak hanya itu, belantara filsafat ini juga telah membuat beberapa orang mendekam sunyi di balik jeruji-sel, dilempar ke tanah pengasingan, bahkan ada yang sampai terbunuh. Kita tahu Socrates? Ya, dia terbunuh meminum racun karena keputusan pengadilan di Athena. Termasuk seperti, Leibniz dan Hume, karena filsafatnya, oleh gereja mereka dituduh murtad dan ditendang ke seberang tanah tak bertuan.

Tapi awas, jangan sampai samakan para filsuf di atas ini dengan tukang santet yang seringkali tewas dikroyok warga. Mereka juga bukan perampok, jabret, pencopet yang sering kali babak belur digebukin warga karena tertangkap basah mencuri, hingga dijebloskan ke penjara. Yang paling penting pula, para filsuf diatas ini, juga bukan anak buahnya ISIS atau segerombolan teroris, yang beberapa kali di Negeri ini telah lunglai tak bernyawa ditembak mati. Dengan terang harus digaris bawahi: filsafat bukan ilmu mencuri, bukan ilmu meracik bom, apalagi ilmu santet.

Tapi kita sah bertanya: kalau bukan ilmu mencuri dan santet, kenapa Socrates bisa sampai terbunuh? Leibniz sampai diasingkan! dst. Perbedaan yang paling menohok kira-kira dapat kita gambarkan secara karikatural, seperti berikut ini: kalo para jambret itu babak belur gara-gara melawan keadilan, kebaikan, kebijaksanaan, maka para filsuf itu dipenjara, bahkan terbunuh gara-gara membela kebijsanaan, kejujuran, dst. Singkatnya, filsafat adalah ilmu yang akan mengajarkan kita berpikir: tidak seperti rampok dan jambret, yang pokoknya makan, kenyang, walaupun dari hasil merampas. Sebaliknya, filsafat akan mengjarkan kita bagaimana cara mendapatkan makanan itu secara halal, jelas dari mana asalnya, dan bagaimana status kepemilikannya. Inilah, yang kemudian dalam filsafat disebut sebagai: berpikir sistematis, radikal dan kritis.

Baca Juga:  Berbaik dengan Alam

Makanya, sebagaimana dalam pengertian etimologis filsafat (philosophy dalam bahasa Yunani) itu sendiri: Philia berarti “cinta” dan Sophos yang berari “kebijaksanaan.” Jadi berpikir sistematis, radikal dan kritis itu tadi adalah usaha yang sebenarnya ditempuh untuk mencapai “kebijaksanaan” dalam filsafat. Kebijaksanaan ini dalam filsafat sering diandaikan sebagai, kebenaran. Sehingga tidaklah heran, bila filsafat dari dulu sampai saat ini terus mencurahkan intensi penuh pada apa yang disebut kebenaran itu. Tak tanggung-tanggung, apa yang hendak dicapainya itu adalah kebenaran sejati (the real truth), yang dengannya filsafat menyelam hingga ceruk terdalam realitas hakiki1.

Pencarian kebenaran ini, kemudian memecah penjabaran filsfat dalam berbagai cabang pemikiran tentang realitas sehingga terbagi menajadi beberapa sudut pandang seperti: ontologi2, epistemologi3 dan aksiologi4. Tiga motode dalam filsfat inilah yang kemudian melahirkan beberbagai pertanyaan-pertanyaan filosofis yang butuh lumayan banyak waktu untuk kemudian direnungkan. Misalkan: sebelum dunia terbentuk, Tuhan ngapain, ya? Apa hakikat dunia ini, ya? Apa bahan dasar dunia ini? Atau bagaimana dunia ini terbentuk?

Pertanyaan ini memang nampak lugu, tetapi harus diakui melalui pertanyaan-pertanyaan seperti inilah, beragam ilmu pengetahuan terbentuk, seperti: theologi, science, geologi, kosmologi, antropologi, sosiologi, dst. Semua varian ilmu pengetahuan ini telah berhasil menggerakan dunia ini hingga waktu dimana kita berpijak saat ini. Dan telah membentuk sejarah pencarian kebenaran yang sangat panjang.

Riwayat dalam memburu kebenaran itu telah membentang panjang dalam belukar sejarah filsafat; maju dan tenggelam, terang dan redup, sejak filsafat kosmologi Yunani, kita mengenal—beberapa diantaranya—Thales, Anaximanders, Anaximanes, Phithagoras sampai pada Socrates, Plato dan Aristoteles. Hingga tiba dimana filsafat dalam masa kegelapannya, Abad Pertengahan, masa dimana rasio seolah-olah “haram” dihadapan agama. Pada akhir era inilah, Galileo Galilei, terbunuh di bawah hegemoni Gereja. Namun beberapa abad kemudian, fajar filsafat kembali berpijar, pada masa yang kemudian sering disebut, renaisance. Era dimana rasionalisme dipuja dan menjadi dewa penggati Zeuz, sebagaimana yang pernah disembah orang-orang Yunani. Dalam hal ini kita mengenal Francis Bacon, Hobbes, hingga mencapi puncanya di tangan Rene Descartes, sang rasionalis, di mana “modernisme” berpijak dalam sologan, cogeto ergo sum: aku berpikir maka aku ada-nya.

Baca Juga:  Fakhruddin Iraqi: Sebuah Renungan Tentang Cinta

Tapi, bukan filsafat namanya kalau tidak bergerak dialektis; satu pemikiran terdahulu akan segera remuk oleh kritik pemikiran di era selanjutnya. Tepat dalam term inilah, dalam era selanjutnya, Descartes tumbang di tangan para strukturalis, atau lebih akrab dikenal sebagai satu babak dalam filsafat, post-modernisme, babak dimana rasio (cogeto) dianggap sebagai keterbatasan yang selama ini bersembunyi dalam tumpukan teori para filsuf seprti Descartes. Disinilah, para filsuf seperti Marx, Foucoul, Habermas, Derrida, dst. mendapatkan kiprahnya hingga waktu dimana kita berpijak sampai saat ini.

Sampai di sini kita bisa menarik nafas sebentar, dari serangkaian perjalanan filsfat yang secara singkat terjabarkan di atas, dalam bentuk pertanyaan yang mungkin dapat kita ajukan: apa yang telah diwariskan para filsuf itu sehingga kita merasa penting untuk mendalami filsfat lebih mendalam, atau bahkan kita berniat untuk meneruskan jejak-langkah para filsuf di atas? Jawaban ini penting, minimal agar filsafat sebagai salah satu disiplin ilmu, tidak dikira sama dengan ilmu santet dan ilmu merampok hanya karena beberapa filsuf yang tewas dan mendekap dipenjara .

Ya, filsafat telah mewariskan spirit berpikir kepada kita semua. Dengan mengasumsikan bahwa dunia ini tidak bergerak dengan sendirinya, tidak tercipta dengan sendirinya. Dalam asumsi inilah, kita bisa terus memanjakan rasa keingintahuan kita lebih dari sekedar mimpi yang tak mungkin menjadi nyata. Rasa ingin tahu ini akan terus mendorong kita untuk menikmati dahaga pengetahuan yang tak berkesudahan, belajar tanpa batas, dan membuka ruang-ruang kemungkinan yang tak mungkin menjadi mungkin. Tepat dalam petuah, Jacques Derrida, commençons pa I’imposible: marilah kita mulai dengan yang tak mungkin.

Sehingga dalam wilayah inilah, dunia mungkin akan terus bergerak, mencari apa yang selama ini absen dalam proses pencarian, menemukan apa yang selama ini belum pernah ditemukan. Dengan terus memahami bahwa semua niat baik pasti ada jalannya, ada caranya, yang itu bisa dipahami, dimengerti oleh rasa ingin tahu yang selalu dimanja dalam penalaran filsafat. Rasa ingin tahu ini, minimal bisa mengantarkan pemahaman kita tentang yang benar, yang bijaksana, sehingga bisa mendorong kita juga untuk berprilaku baik, tidak jahat dan selalu menghormati orang lain, tetap dengan kesadaran yang kritis tentunya. Nah, dalam titik inilah, perbedanaan antara ilmu filsafat dan ilmu merampok itu dapat dengan terang kita bedakan.

Baca Juga:  Menjangkau Tentang “Barakah” yang Sesungguhnya

Ya, tepat dalam keadaan inilah, filsafat menempati posisi penting dalam kehidupan kita di dunia. Wallauhua’lam…

  1. Pengatar dari pernerbit dalam, Muhammad al-Fayyadl, Filsafat Negasi, (Yogyakarta: Aurora, 2016), hal. 5
  2. Diambil dari kata ontology yang artinya megada dan yang ada (being) namun sebuah pemaduan abad ke-17 menjadikan cabang metafisika sehingga fokusnya lebih ditajamkan pada menyoroti apa yang sudah ada, yaitu hakikat dari eksistensi. Lepas dari argumen ontologis itu sendiri, sudah ada banyak argumen apriosis bahwa dunia mestinya mengandung satu atau lain jenis hal-hal: hal-hal yang sederhana, hal-hal yang terbatas, substansi yang kekal, hal-hal yang dibutuhkan dll. The Oxford Dictionary of Philosophy, terj. Yudi Santoso, S.Fil. (Oxford: Oxford University Press, 2008), hal. 622
  3. Dalam bahasa Yunani, epistēmê: pengetahuan (teori tentang pengetahuan). Pertanyaan sentral epistemologi meliputi: asal-usul sebuah pengetahuan; tempat pengalaman dalam membangkitkan pengatahuan, dan tempat rasio dalam hal yang sama; hubungan antara pengertahuan dan kepastian, dan antara kemustahilan kekeliruan; kemungkinan dari skeptisisme (logika kesangsian) universal; dan bentuk-bentuk yang berubah dari pengetahuan, yang muncul dari konsep-konsep baru tentang dunia… jadi dimungkinkan melihat epistemologi didominasi oleh dua metafora yang saling bersaing. Yang pertama, seperti piramida atau dibangun di atas dasar fondasi yang kuat. Sedangkan yang kedua, adalah kapal atau wahana transportasi apa pun, yang tidak perlu membahas fondasi selain kekuatannya dari stabilitas yang diberikan oleh bagian-bagian yang saling mengunci. Metafora ini menolak ide tentang dibutuhkannya basis dalam “given” karena lebih mendukung ide tentang koherensi dan holism, meski kelompok yang lebih sulit menghadapi serang skeptisisme. Lihat selengkapnya dalam, Ibid., 286
  4. Cabang filsafat yang melakukan studi tentang nilai, Ibid., 77