Menanti Cawapres Jokowi

Musyawarah penetapan cawapres Jokowi via detik.com

Masa pencalonan capres-cawapres pada pilpres 2019 mendatang sudah di depan mata. Komunikasi dan lobi-lobi politik inten dilakukan oleh para elit partai politik guna menyatukan suara menuju pilpres 2019 mendatang, termasuk yang dilakukan Jokowi bersama ketum-ketum parpol.

Sebagaimana dilansir detik.com, bahwa Jokowi mengadakan pertemuan dengan enam ketua umum partai politik koalisi, yaitu PDIP, Golkar, PPP, NasDem, PKB dan Hanura. Dalam agenda ini mereka membahas calon wakil presiden yang akan mendampingi Jokowi. Menurut Ketua Umum Golkar, semua partai koalisi sudah solid menyepakati satu nama cawapres yang akan mendampingi Jokowi (detik.com, 24/07/2018).

Meskipun pertemuan tersebut sudah menghasilkan satu kemufakatan tentang satu nama cawapres yang akan mendampingi Jokowi, tetapi satu nama itu kini masih menjadi tanda tanya bagi semua kalangan, tidak hanya bagi kalangan pendukung Jokowi, tetapi juga bagi koalisi ‘Partai Keumatan’ beserta para pendukungnya, guna mengukur kekuatan Jokowi.

Otomatis publik kita dibuat penasaran tentang siapa yang akan mendampingi Jokowi pada pilpres 2019 mendatang. Tapi sebesar apapun penasaran publik kita pada sosok tersebut, kita tetap harus bersabar hingga Jokowi mengumumkan dan mendelakrasikannya untuk publik.

Sebagaimana kita mafhum, dari dinamika dan komunikasi politik yang selama ini berkembang,  ada dua kelompok koalisi besar yang akan berlaga dalam kontestasi pilpres 2019 mendatang, yaitu koalisi partai pendukung Jokowi dan koalisi partai oposisi yang akhir-akhir ini menyebut dirinya sebagai partai koalisi keumtan.

Dari hingar-bingar dan desas-desus dinamika politik kita akhir-akhir ini, deklarasi cawapres Jokowi-lah yang paling dinantikan oleh publik, karena merapatnya kedua tokoh (Mahfud MD dan TGB) yang selama ini digadang-gadang bakal menjadi cawapres dari partai koalisi keumatan, dan keduanya dianggap tokoh yang paling representatif mewakili suara umat Islam yang selama ini dianggap telah dikriminalisasi oleh pemerintahan Jokowi.

Baca Juga:  TGB yang "Dimurtadkan"

Tak pelak keduanya santer diberitakan akan mendampingi Jokowi pada pilpres 2019 mendatang. Dan sebagaimana banyak pengamat politik katakan, merapatnya kedua tokoh yang selama ini dielu-elukan partai oposisi pemerintah ini adalah kemenangan awal Jokowi, paling tidak akan menjadi modal utama bagi Jokowi untuk meraup suara sebanyak mungkin karena kefiguran keduanya.

Tentang siapakah yang akan mendampingi Jokowi pada pilres 2019 mendatang, dia lah yang paling otoritatif memilihnya. Tetapi jika boleh, saya ingin bersuara di sini, dan apakah suara ini akan didengarkan Jokowi atau tidak, tidak menjadi sebuah persoalan bagi saya. Menurut saya, Jokowi harus memilih cawapres yang selama ini diterima oleh semua kalangan, baik yang mengaku paling nasionalis ataupun paling islamis, yaitu Mahfud MD atau pun TGB.

Selain diterima oleh berbagai lapisan masyarakat, keduanya merupakan tokoh yang dianggap paling islami dan paling representatif mewakili umat Islam selama ini. Keduanya akan mampu mendongrak elektabilitas Jokowi dan akan mampu membantu Jokowi meraup suara dari pemilih Islam yang mayoritas ini.

Diakui atau pun tidak, yang jelas Jokowi membutuhkan suara umat Islam, karena keberadaan mereka yang mayoritas. Dan untuk mendulang suara umat Islam, tentu Jokowi membutuhkan cawapres yang dianggap islami, alim dan shalih oleh kebanyakan pemilih kita. Karena selama ini, suka atau pun tidak, sebagaimana dikatakan oleh Adi Prayitno (Pengamat Politik UIN Jakarta), Jokowi sudah terlanjur terstigma anti Islam dan suka mengkriminalisasi ulama oleh sebagian kalangan umat Islam, terlepas benar atau tidak stigma tersebut. Sungguh narasi paling islami adalah narasi yang mahal menjelang pilpres 2019 mendatang.

Sedangkan sosok yang dianggap paling islami, paling alim, dan paling shalih selama ini adalah Mahfud MD dan TGB. Jika Jokowi menjatuhkan pilihannya kepada salah satu kedua sosok ini, maka bukan tidak mungkin dia akan memenangi lagi kontestasi lima tahunan ini pada pilpres 2019 mendatang. Tetapi semuanya terserah Jokowi. Kita nantikan saja, siapa cawapres pilihannya.

Baca Juga:  Apa Kabar HTI Pasca Putusan PTUN Jakarta?