Menafsirkan Ulang al-Qur’an

Ilustrasi via pixabay.com

Sejak dulu hingga hari ini, media diramaikan dengan berita aksi-aksi teror yang berlatar belakang agama tertentu. Bermula dari penabrakan pesawat ke gedung WTC (World Trade Center) Wasington Amerika beberapa tahun yang lalu, bom Bali, Paris, dan aksi heroik di Sarinah Jakarta.

Bahkan terakhir kita saksikan berita viral di medsos tentang penganiayaan seorang pemuda terhadap jamaat Greja Santa Lidwina, Bedog, Sleman, DI Yogyakarta, Minggu (11/2/2018). Sebelumya, dengan media yang sama kita menyaksikan berita Kiyai di Jawa Barat seusai jamaah dipukuli orang tak dikenal (27/1/2018)).

Banyak catatan peristiwa kekerasan dalam tahun ini di negeri kita. Semua kejadian itu disinyalir pelakunya adalah ekstremis yang beragama Islam. Menjadi anomali, bagaimana mungkin agama yang selama ini mendeklarasikan dirinya sebagai agama rahmatan lil alamin menjadi monster di republik tercinta ini.

Timbullah pertanyaan dalam benak kita, apa yang salah dengan ajaran-ajaran Islam, agama yang selama ini di Indonesia menjadi agama mayoritas. Mencoba menjawab pertanyaan itu tentu tidak mudah, karena dalam agama ini banyak komponen-komponen yang menggerakkan penganutnya. Tentu saja agamawan-lah salah satunya yang bertanggung jawab terhadap fenomena yang merugikan itu.

Adalah al-Qur’an, Hadis ( perkataan, ketetapan, serta apa yang dilakukan Nabi Muhammad), dan ketetapan-ketetapan yang diramu dari hasil ijtihad para otoritas yang mempunyai wewenang menetapkan hukum. Dalam hal ini sifatnya bisa formal, seperti para pakar yang dilembagakan oleh pemerintah seperti Departemen Agama atau MUI.

Sedangkan yang tidak formal adalah masyarakat biasa yang mempunyai kemampuan lebih dalam memahami ilmu agama, seperti para ulama yang tampil ceramah di kampung-kampung, medsos, TV dan lain sebagainya. Berarti jika terjadi sesuatu dengan paham keagamaan yang dianut oleh masyarakat, yang bertanggung jawab adalah keduanya tadi, yang memegang otoritas secara instansi dan non-instansi.

Baca Juga:  Kalimat Unta Masuk Lubang Jarum Antara; (QS. Al-A’raf (7): 40 dan Matius 19:23-30)

Berbicara dua elemen tersebut, sama-sama diikat oleh istilah mufassir, yaitu penafsir terhadap teks-teks keagamaan –mufassir al-Qur’an dalam Islam-. Menyalahkan teks keagamaan, dalam hal ini al-Qur’an tentu tidak mungkin, karena ia adalah teks yang tidak dapat menggerakkan apapun, yang menggerakkan adalah manusia sebagai perantara.

Mengutip statemen Thomas Hobbes “manusia merupakn mahkluk yang mempunyai ego”. Semua manusia mempunyai faktor penggerak, penggerak itulah yang menjadi dasar dari apapun yang dilakukan oleh manusia. Penggerak tersebut adalah Nafsu atau hasrat. Sedangkan hasrat yang paling kuat dalam diri manusia adalah takut mati dan pertahanan diri. Tindakan apapun yang dilakukan oleh manusia muara terbesarnya adalah dua hal tersebut, secara langsung atau tidak langsung. Tentu saja, ada hubungan erat antara  teori ini dengan hasil dari penafsiran. Seorang mufassir, bisa saja menafsirkan al-Qur’an berdasarkan egonya. Menafsirkan teks dalam kondisi diintervensi oleh pihak tertentu.

Cendekia yang fokus di bidang tafsir pernah menyatakan, bahwa hasil penafsiran di era afirmatif sangat banyak dipengaruhi oleh pre-understanding penafsir. Pada era ini penafsir cenderung menafsirkan al-Qur’an hanya untuk memperkuat teologi kelompoknya yang dianut. Makanya di era afirmatif ini banyak terjadi perpecahan akibat perbedaan teologi, padahal dasarnya sama-sama dari teks yang satu, yaitu al-Qur’an.

Hal-hal yang sifatnya praktis hanya diberi porsi sedikit ketika menafsiri al-Qur’an. Akibatnya, penafsiran-penafsiran pada era ini keluar jauh dari tujuan al-Qur’an  dituruankan. Tidak seperti yang dilakukan oleh generasi Islam awal atau dalam kajian tafsir dikenal dengan dengan istilah era formatif.

Hal serupa juga dinyatakan oleh Jamal al-Banna terkait corak penafsiran di era klasik ini. Menurutnya banyak sekali yang penafsirannya malah dijadikan ajang untuk memamerkan kemampuan kedalaman ilmu sang penafsir, seperti yang ia kritik dalam beberapa karyanya. Ahli bahasa menafsirkan al-Qur’an condong memakai kebahasaannya, ahli fikih juga begitu, ahli qira’ah juga melakukan hal yang sama, sehingga al-Qur’an yang dulunya dicita-citakan sebagai solusi bagi manusia untuk seluruh aspeknya menjadi terkotak-kotak tergantung kacamata yang yang dipakai penafsir.

Baca Juga:  Sufi Perempuan: Gradasi Marginalisasi yang Tak Pernah Selesai

Salah satu contohnya tafsir karya al-Farra’ ma’ani al-Qur’an, dalam tafsir tersebut ia banyak sekali mengungkap hal-hal yang berhubungan dengan riwayat-riwayat qira’ah. Bahkan, hasil penelitian mahasiswa Pascasarjana UIN Yogyakarta terhadap karya al-Farra’ ini menyimpulkan ada tiga hal yang menonjol dari tafsir era afirmatif ini, Pertama, al-Farra’ menggunakan qiraah sebagai informasi atau materi dalam tafsirnya. Kedua, al-Farra’ menggunakan qiraah sebagai argumentasi linguistik belaka, serta hanya eksplor kedudukan sebuah kata dalam kalimat. Ketiga, al-Farra’ menggunakan qiraah sebagai argumentsi penafsirannya.

Bisa kita lihat, dimana letak solusi praktis, khususnya yang berhubungan dengan sosial dari penafsirannya tersebut. Padahal al-Qur’an bukanlah kitab bahasa, walaupun sangat diperlukan pengetahuan bahasa sebagai alat memahaminya.

Dan anehnya, model-model penafsiran yang dipakai oleh sebagian masyarakat sekarang adalah karya-karya yang sudah tidak relevan lagi di era ini, yaitu produk-produk tafsir di era klasik. Pemahaman jihad dari tafsir klasik ini masih normatif, frontal dan tentu saja berafiliasi pada intoleransi dari sudut pandang negara pancasila.

Banyak hal yang harus dibenahi. Selain memang cenderung mengenyampingkan kepentingan sosial, tafsir klasik juga tidak meneropong jauh ke era kita sekarang. Bisa dilihat dari tahun produksinya. Permasalah sosial yang terjadi pada ratusan tahun yang lalu tentu sangatlah berbeda dengan permasalahan sosial era globalisasi yang begitu kompleks. Maka tidak salah jika hasil-hasil tafsirnya cenderung radikal, karena hasil ramuan era yang menuntut radikal.

Walaupun berat, kiranya tidak berlebihan jika kita tinggalkan dan mencoba menafsirkan ulang al-Qur’an dengan banyak mempertimbangkan kebutuhan-kebutuhan manusia era ini. Sebenarnya usulan reinterpretasi al-Qur’an sudah banyak disampaikan oleh pakar tafsir kontemporer. Kegelisan mereka tidak hanya berada di awang pemikiran, namun mereka juga banyak sekali memberikan solusi-solusi berupa perombakan epistimologi penafsiran, seperti Fazlur Rahman dengan double movementnya, Nasr Hamid, Arkoun, Syahrur dan beberapa cendikiawan tafsir yang lain.

Baca Juga:  Paradigma Sufistik: Solusi Krisis Era Modernitas

Hanya saja,  mereka belum sampai menyentuh keseluruhan dari al-Qur’an itu sendiri. Bahkan tawaran mereka seringkali dicerca oleh beberapa pengamat tafsir yang biasanya masih berpegang dengan epistemologi penafsiran era afirmatif. Padahal era ini sudah era reformatif.