Memetakan Pancasila Menjadi Tiga Dimensi

Ilustrasi via lampost.co

Ada masa-masa dimana penulis tidak peduli sama sekali mengenai pancasila. Jangankan memahami dan menghayati subtansi Pancasila.  Menghafal seluruh butir-butir pancasila pun penulis masih belum. Sampai akhirnya ada suatu kejadian yang membuat penulis sadar, betapa selama ini penulis telah menyia-nyiakan dan bersikap picik terhadap suatu ideologi bangsa yang menurut Cak Nun membuat negara Indonesia selangkah lebih maju daripada negara-negara lain dan membuat Bung Karno dengan bangganya dihadapan pemimpin dunia bahwa Pancasila bisa menjadi solusi bagi perdamaian dunia yang dikenal dengan ide To Build The World A New.

Kesadaran itu muncul ketika penulis merasa malu melihat salah satu keponakan penulis yang masih duduk di TK fasih melafalkan butir-butir Pancasila. Dengan fasihnya dia melantangkan “Pancasila, satu Ketuhanan yang maha Esa. Dua, kemanusiaan yang adil dan beradab. Tiga, persatuan Indonesia. Empat, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Lima, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Tampak jelas suatu kebanggaan di raut wajah si kecil karena telah menunjukkan sesuatu terhadap pamannya, yang sebenarnya tidak hafal pada waktu itu.

Sejak kejadian itu, penulis merasa tersadar akan pentingnya dasar negara yang berupa Pancasila, sampai-sampai Guru TK menanamkan Pancasila sedari dini pada anak seumuran TK. Butir-butir pancasila memang seharusnya ditanamkan dan dibumikan semenjak dari kecil. Saya rasa, keponakan saya sangat beruntung telah mengenal Pancasila walaupun hanya dalam tataran hafalan secara teks belaka. Dengan mengenal Pancasila sejak dini, ini akan mempermudah proses pembentukan generasi pancasilais pada masa remaja dan dewasa kelak. Suatu generasi yang tidak hanya cerdas secara ilmiah, tapi juga bijaksana secara sosial.

Agar nilai-nilai dari lima butir Pancasila dapat dibumikan secara kongkrit, disini penulis perlu memetakan butir Pancasila menjadi tiga dimensi. Supaya dapat bisa dipahami secara runtut dan sistematis. Dimensi pertama, terletak pada butir pertama dan kedua. Dimensi ini, bisa kita namakan dimensi moral sebagai dasar moral ideal bagi bangsa Indonesia . Dimensi kedua yang ada di butir ketiga dan keempat adalah dimensi praktis, dimensi ini berbicara kultur cara kerja ideal bagi bangsa Indonesia. Dan dimensi ketiga berbicara tujuan yang diinginkan bangsa Indonesia, dimensi ini ada di sila terakhir.

Baca Juga:  Etika Ilmiah dan Tanggung Jawab Intelektual

Mengenai dimensi pertama yang terletak pada butir pertama dan kedua Pancasila. Butir pertama berbunyi ketuhanan yang maha Esa. Tidak perlu diperdebatkan lagi bahwa menanamkan nilai-nilai ketuhanan yang maha Esa (entah Esa menurut definisi agama apapun) akan berimplikasi pada kekayaan spiritual manusia. Efek dari kekayaan spiritual akan membuat manusia memiliki tanggung jawab moral kepada Tuhannya, tanggung jawab ini berupa sikap seorang hamba yang merasa terdeteksi oleh pengawasan Tuhannya, dan segala perbuatannya akan dipertanggungjawabkan di kehidupan setelah mati.  Moral seperti inilah adalah benteng pertama yang mencegah manusia dari perilaku korupsi, radikal, menyebarkan berita Hoax dan segala perbuatan pelanggaran lainnya.

Implikasi tanggung jawab moral manusia yang sudah tertanam nilai spiritual pada sila pertama, dengan sendirinya akan membentuk kemanusiaan yang adil dan beradab sesuai bunyi penggalan sila kedua. Adil dan beradab merupakan sifat luhur bagi manusia, sifat adil menurut Al-Ghazali adalah sifat tengah-tengah yang dimiliki seorang hamba. Ambillah contoh, ketika sang hamba tidak boros membelanjakan pendapatannya atau tidak juga terlalu kikir, melainkan tengah-tengah antara boros dan kikir. Adab tersendiri mempunyai makna sopan santun dan budi pekerti yang luhur, seorang yang beradab berarti seorang yang sopan dalam berprilaku, bertutur dan berpakaian. Jadi, implementasi dari pengaplikasian pada sila pertama, adalah dengan lahirnya sikap moral pada sila kedua, yaitu moral adil dan beradab.

Dimensi kedua dari Pancasila merupakan dimensi praktis, sila ke tiga berbunyi persatuan Indonesia. Bangsa ini, harus menjalani semua kegiatan politik dan seluruh kegiatan ekonominya dengan dasar persatuan atau gotong royong. Inilah aplikasi bineka tunggal ika dalam bentuk praktis. Karena tanpa persatuan antara seluruh jajaran Eksekutif, legislatif dan Ydilatif, yang saling bahu membahu melengkapi kinerja satu sama lain. Mustahil bangsa ini akan menjadi bangsa besar.

Baca Juga:  Fakhruddin Iraqi: Sebuah Renungan Tentang Cinta

Tapi tidak hanya bekerja dengan persatuan saja yang dibutuhkan Indonesia, tapi juga harus bermuatan pada prinsip kerakyatan yang dibungkus dengan kebijaksanaan yang diperoleh dari musyawarah. Inilah wujud nyata dari bunyi kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Kerja seperti inilah yang akan melahirkan kebijakan-kebijakan pro rakyat bukan kebijakan yang manfaatnya hanya dicicipi oleh kalangan elite saja. Kebijakan yang berangkat dari kepedulian atas rakyat yang terambil dari aspirasi perwakilan-perwakilan rakyat bisa dipastikan merupakan produk kebijakan yang bijaksana.

Hingga pada akhirnya, ketika semua dimensi moral dan dimensi praktis pancasila sudah berada di sendi-sendi pemangku negeri ini pada khususnya beserta pada masyarakat pada umumnya. Hal ini akan menghantarkan pada dimensi terakhir, sebuah tujuan kemerdekaan yakni keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dimensi ini adalah dimensi pancasila yang menggambarkan tujuan dan harapan kita berbangsa dan bernegara. Tujuan mulia sila kelima akan membumi dan terealisasi apabila bangsa Indonesia membumikan Pancasila secara moral di sila pertama dan kedua beserta membumikan sila ketiga dan keempat dalam bentuk praktis.