Melejitkan Diri dengan Membaca

Ilustrasi via pixabay.com

Semua manusia pasti mempunyai keinginan untuk menjadi seorang yang tahu atas banyak hal. Karena dengan pengetahuan, dia bisa mendapatkan tempat yang tidak dimiliki oleh orang yang tidak memiliki pengetahuan seperti dia. Menjadi manusia yang tahu  tentang segala informasi   jelas tidak mungkin, akan tetapi menjadi manusia yang tahu atas beberapa hal yang bisa kita jangkau adalah mungkin dan bisa diusahakan dengan berusaha mendapatkan informasi dari berbagai sumber.

Sebelum membincang teori pengetahuan, alangkah baiknya mengasumsikan dengan pandangan yang “liar” tentang pengetahuan itu. Jika ada orang memahami sebuah teori kemanusiaan dan dia memperlihatkan kepada orang lain yang belum memiliki pengetahuan terkait hal itu, dia akan terkesan atau terlihat sebagai orang yang berpengetahuan, ada seorang penceramah di sebuah masjid dan kita diceritakan kisah-kisah dan diselipi dengan hukum yang berkaitan, dia terlihat seperti orang yang paling memiliki pengetahuan dan tentu saja tidak akan ada seorang-pun yang akan memberikan instruksi karena dia sebagai penceramah, jika kita masuk kelas dan kita mendengar dosen berceramah di kelas dengan gaya intelek, tentu saja kita terlihat seperti orang yang tidak memiliki pengetahuan seluas pak dosen. Seringkali kita menemukan diri kita diam seribu bahasa di depan kawan-kawan kelas setelah persentasi, kita sedang berada dalam kondisi yang tidak memiliki pengetahuan.

Dalam lintasan pembendaharaan pengetahuan penulis, yang telah berhasil penulis ingat dari beberapa buku filsafat ilmu, pengetahuan didefinisakan dengan informasi yang disadari atau telah diketahui secara sadar oleh seseorang. Lebih jelasnya pengetahuain itu berbentuk deskripsi, bentuk diskripsi terkait pengetahuan tertentu. Atau pengetahuan itu berupa konsep, dalam beberapa hal kita terkadang  merenung dan mendapatkan suatu pengetahuan yang benar-benar baru, konsep rumah, konsep program organisasi atau konsep desain pakaian, ini semuanya merupakan pengetahuan yang berbentuk konsep. Selain itu pengetahuan itu juga bisa berupa dugaan-dugaan dari beberapa pengetahuan sebelunya yang dikritisi. Dan yang terakhir pengetahuan itu bisa berupa sebuah prosedur yang digunakan untuk mencari tahu keberadaan sesuatu dugaan atau faktor yang menjadi penyebab terjadinya sesuatu. Maka jangan takut menduga-duga, karena itu termasuk membangun pengetahuan.

Dalam dunia praktis, banyak cara untuk mendapatkan pengetahuan. Untuk lebih jelasnya, akan saya kerucutkan dengan batasan pengetahuan yang dimiliki mahasiswa. Seorang mahasiswa terkadang merasa ketinggalan ketika dikelas tidak bisa ikut serta dalam diskusi karena benar-benar “blong” dalam otaknya alias tidak mengetahui betul terkait pembahasan. Disini akan menjadikan seorang mahasiswa tersebut pesimis dan bisa saja mengakibatkan males masuk kelas lagi bahkan bisa berhenti kuliah.

Baca Juga:  Berfikir Menjadi Penulis

Butuh pemahaman yang bisa menjadi solusi bagi seorang mahasiswa tadi, tentu saja dengan banyak pengetahuan, dia tidak akan bernasib seperti itu. Maka disini yang akan disuguhkan adalah bagaimana menjadi mahasiswa yang memiliki pengetahuan yang luar biasa sehingga bisa mengikuti kelas dengan baik. Untuk mendapatkan pengatahuan yang bagus, bahkan luar biasa, butuh trik-trik jitu. Penulis mempunyai beberapa tawaran trik yang biasa dilakukan oleh beberapa orang sukses di saat dia menjadi mahasiswa seperti kita.

Menurut hemat saya, semua orang sukses yang saya tawarkan adalah orang-orang yang mempunyai keistiqomahan atau ketekunan dalam membaca, mereka serius dalam menelaah buku-buku bacaannya khususnya terkait mata kuliah yang dipakai di kelas. Contoh saja seorang mahasiswa yang bernama Quraish Shihab di masa mudanya, dan kelak dewasanya menjadi seorang yang ulung dalam menulis tafsir, bahkan menyibet gelar pakar tafsir di Indonesia. Bukan tanpa perjuangan sama sekali, seorang Quraish di waktu mudanya memberikan waktunya tiap habis shalat subuh untuk menulis sampai waktu duha, dan hal itu bukan sekali dua kali, tapi sampai dewasapun dia masih melakukan kebiasan itu, bahkan karyanya Al-Misbahnya lahir dari jari yang masih belum menyentuh pekerjaan paginya, kegigihannya menjadikan dia seorang yang bisa kita lihat sekarang.

Selain Quraish, ada seorang Cak Nun. Pemuda yang mengawali pengetahuannya dari orang tuanya ini merupakan pemuda yang bisa kita teladani dalam memburu pengetahuan, sampai di pesantren Gontor dia menjadi pemuda yang “radikal” dalam membaca. Bacaannya tidak hanya yang diperlajari di kelas, bukan hanya ilmu agama dalam pesantern, melainkan buku-buku sosial, filsafat, pergerakan, bahkan teologi di luar keyakinannya-pun dia lahap, saking banyaknya pengetahuan di pesantren dia bukan hanya vokal di kelas, tapi tergolong vokalis di seantero pesantren Gontor, sehingga pada suatu waktu karena kritisnya, dia harus berhadapan dengan pengurus pesantren karena melakukan perlawanan terhadap kebijakan pesantern, dan pada akhirnya dia diusir dari pesantren.

Baca Juga:  Menulis untuk Perubahan Dunia

Bukan berarti seorang Cak Nun berhenti semangat bacanya setelah keluar dari pesantren, karena semangat bancanya dia tancapkan dalam hatinya sejak dia belum ke pesantren rupanya di luar-pun dia semakin menjadi-jadi, membaca karya sastra yang berfilososi tinggi, bahkan dalam sebuah kesempatan, Cak Nun menceritakan berlalu lalang hidup di trotoar dan berguru pada sastrawan besar Ambu. Dengan dialah Cak Nun banyak belajar sastra yang membuatnya menjadi sastrawan di Indonesia bahkan di dunia.

Dengan keterampilannya juga seorang Cak Nun mendirikan kelompok musik yang dia beri nama Kiai Kanjeng, tentu saja sangat berhasil, dengan mengenalkan musik-musik Jawa pada dunia internasional, dia dalam kelas-kelas sufi internasional sangat disegani. Bukan hanya itu, sekarang dia juga mempunyai kader-kader “pahamnya” yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia, seperti Padang Bulan, Maiyah, dan lain-lain yang dia bentuk dengan berjubun peminat.

Selain dua tokoh yang disebutkan ada banyak lagi tokoh nasional yang memiliki skill yang skala cendikia internasional. Seorang Gus Dur misalnya, dia seorang yang tidak pernah melalaikan buku-buku bacaan. Suatu waktu, seperti yang pernah diceritakan oleh Greg Barton, Gus Dur kecil pernah ditegor ibunya untuk tidak berdiam diri di kamar saja, ibunya menakut-nakuti si Gus Dur jika tak pernah keluar kamar dia tidak akan menjadi anak gaul, tapi apa jawab seorang Gus Dur, sungguh mengejutkan, dia menjawab ibunya dengan tenang, “biarkan sekarang saya tidak punya teman, toh besok-pun mereka akan mencari saya”. Omong kosong memang, jika kita memakai perspektif relasi, karena dalam teori relasi, seorang akan total kepada kita kalau kita sudah mengenal mereka dengan seakrab mungkin. Akan tetapi Gus Dur telah melampaui teori itu, dia benar saja, kerap kali menjadi pimpinan di berbagai organisasi bahkan jadi presiden dan dicari oleh siapapun khusunya masyarakat Indonesia.

Cukuplah berkaca pada tiga orang besar tersebut dalam kegilaan membaca. Selain budaya membaca yang harus kita perbesar, budaya menulis juga harus menjadi prioritas sehingga menulis selancar jet tempur, lancar layaknya kebutuhan makan di setiap harinya. Menelusuri muasal seorang itu menjadi penulis, tentu saja mereka memulai dengan budaya baca. Sehingga beberapa buku yang menyuguhkan motivasi menulis hampir menganjurkan untuk menjadi seorang pembaca buku yang “radikal”. Dengan begitu, suatu saat akan meluap-luap dan dituangkan dalam bentuk tulisan yang tentu saja berharga bagi dirinya.

Baca Juga:  Cerdas dan Tidak Gampang Terprovokasi Di Media Sosial

Kualitas tulisan terkadang ditentukan oleh kualitas bacaan yang dipilih, kadang seseorang menuliskan dengan begitu bagus untuk analisa sosialnya karena dia membaca karya-karya Karl Marx. Analisa keagamannya bagus karena biasa baca karya-karya religius. Tentu saja bacaan yang akan menentukan kualitas tulisan. Tapi untuk pertama-tama jangan terlalu berambisi untuk menulis bagus, sekedar latihan dan bimbingan kepada senior sangat penting. Ambisi, jika tidak terpenuhi bisa membuat patah arang dan bisa-bisa semangat bacanya turun gara-gara tulisan mendapatkan banyak coretan.

Coretan aggap saja sebagai pembelajaran untuk ke depan, sering mendapat banyak coretan maka semakin bagus tulisan di kemudian hari. Semakin tajam karena sudah di analisa oleh para jagoan menulis. Maka sangatlah perlu meminta bantuan senior tadi. Tentu saja kita juga harus selektif, lihat sepak terjangnya, jika sudah biasa terbit di koran atau sudah banyak artikel yang dimuat di jurnal-jurnal nasional atau internasional maka boleh dijadikan guru. Guru juga sangat mempengruhi kualitas karya kita, karena gaya-gaya kepenulisan biasanya akan mirip dengan yang dipakai sang guru. Bukan hanya gaya tulisan, kadang kesamaan itu juga merambah ke kesamaan ideologi.

Intinya dari semua yang tertera di atas, untuk sukses, maka harus menjadi seorang pembaca yang “gila”, “radikal” dan melampaui orang-orang biasanya. Karena dengan itu kita akan menjadi seorang yang berbeda dengan kawan-kawan sepantaran dan menjadi panutan karena keluasan ilmu kita. Bukan hanya itu, justru kelanjutannya nanti akan menjadi seorang penulis yang handal karena bacaan yang berada dalam kepala tidak  bisa dibendung dan meluap ke kertas-kertas dengan mencoret gagasan yang hebat dengan kombinasi yang luar biasa. Tentu saja, dengan itu, dia bukan hanya akan mengubah lingkungan hidupnya bahkan dunia akan bertekuk lutut padanya. Karena luasnya pengetahuan dia akan cenderung mengikuti arah bacaan untuk corak kepemimpinannya, jika ia memimpin. Maka, setiap orang bisa kita tebak apa yang dia baca ketika dia melakukan sesuatu.