Kalimat Unta Masuk Lubang Jarum Antara; (QS. Al-A’raf (7): 40 dan Matius 19:23-30)

Al-Qura'an

Al-Qur’an selalu memberikan kesan tersendiri bagi orang yang mencoba untuk mendekatinya. Tergantung sudut pandang yang dipakai, baik pendekatan sastra, seejarah, maupun teks itu sendiri. Seperti Abraham Geiger mencoba mendekati Al-Qur’an dengan pendekatan bahasa, mengahsilkan bahwa Al-Qur’an adalah kitab yang meminjam istilah Yahudi. Namun hal itu ditentang oleh ilmuan orientalis lainnya, seperti Fuck-Frunfurt, alasannya, agama Yahudi tidak mengakui adanya Yesus dan Maryam dan al-Qur’an sebaliknya. Theodor Noldeke, surat sebagai titik berangkat analisisnya, untuk menentukan posisi turunnya surat tersebut, yakni dengan melakukan analisis internal terhadapp perkembangan stilistik, konsep dan tema di dalamnya. Hasilnya ia memiliki pandangan bahwa Al-Qur’an memiliki susunan yang tidak sistematis. Satu lagi, Angelika Neurwith menjajaki Al-Qur’an dengan sejarah teks itu sendiri, ia berusaha mengembalikan dimana teks itu turun. Membaca Al-Qur’an sebagaimana Al-Qur’an diturunkan pada orang arab saat itu.

Dari kalangan muslim sendiri diwakili oleh Imam As-Suyuthi, notabenenya sebagai orang islam banyak melakukan pembelaan dan mengaggap seperti anggapan Geiger ditas adalah sebuah problematika tersendiri dalam kajian Al-Qur’an. Ia memandang justru, Ajaran Al-Qur’an mencakup ajaran dari terdahulu sampai yang terkini. Menurut Imam Ad Dahlawi justru Muhammad itu memperbaiki agama yang dibawa Ibrahim, kemudian ia memperbaiki bagian yang rusak dan menyerukan kebenaran kembali.

Dalam hal ini sedikit memberikan gambaran bahwa, sejarah Al-Qur’an terus berkembang dari masa kemasa, paparan diatas penulis ingin mencoba memberitahu fenomena yang sudah terjadi, agar tidak adanya sebuah kesalahpahaman jika berbicara sejarah teks. Sehingga berkenaan dengan ini, kami akan mencoba mencari titik perbedaan dan kesamaan antara QS. Al-A’raf (7): 40 dan Matius 19:23-30.

“Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, tidak akan dibukakan pintu-pintu langit bagi mereka,** dan mereka tidak akan masuk surga, sebelum unta masuk ke dalam lubang jarum.**Demikianlah Kami Memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat.”

Dalam tafsir Ibnu katsir, disebutkan adanya sebuah perbedaan Qiro’ah ketika membaca lafad ‘jamalu’,  Mujahid, Ikrimah dan Ibnu abbas membacanya ‘jummalu’ dengan dhommah jim dan mim tasydid. Sehingga makna yang diperoleh adalah tambang. Tapi kebanyakan dari beberapa ulama tafsir menggunakan redaksi ‘jamalu’ yang memiliki kandungan makna unta. Redaksi yang digunakan Al-Qur’an merupakan bahasa majazy yang memiliki makna bahwa orang orang yang berdusta pada kebesaran Allah dan menyombongkan tidak ada kesempatan untuk masuk surga, seperti halnya mustahil seekor unta atau barang tambang masuk pada lubang jarum ‘sammil hiyât’ yang kecil. Sedeangkan dalam beberapa tafsir yang saya rujuk, ibnu katsir, baghawiy dan Al-Qurtubiy, ketiga-tiganya tidak ada perbedaan terkait ‘sammil hiyât’ yaitu lubang jarum.

Kemudian sekarang kita coba bergeser melihat Matius 19:23-3:

Baca Juga:  Pandangan Gus Dur Terhadap Aksi Intoleran atas Nama Agama

19:23: Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya  untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga. 19:24: Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” 19:25: Ketika murid-murid mendengar itu, sangat gemparlah mereka dan berkata: “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” 19:26: Yesus memandang mereka dan berkata: “Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin.” Upah mengikut Yesus

19:27: Lalu Petrus menjawab dan berkata kepada Yesus:”Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?” 19:28: Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta  kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel. 19:29: Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat  dan akan memperoleh hidup yang kekal. 19:30: Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu.”

            Istilah lubang jarum dalam ayat matius ini ada beberapa penjelasan dan kriteria, lubang jarum yang dimaksud adalah bentuk umum lubang pintu orang yahudi yang serupa dengan jarum, yaitu semit memanjang. Pintu tersebut berada di pembatas kota dan hanya bisa di akses oleh penduduk kota saja ketika jam kantor usai. Penjagaan pintu itu sangat ketat, tiap kali orang melewati harus diperiksa terkena pajak apa tidak. Sedang barang-barang yang dibawa harus di tinggalkan agar tidak membebani melewati pintu itu.

Baca Juga:  Pemuda Milenial dalam Panggung Demokrasi Politik Madura 2019

            Pertanyaannya, apa kaitannya pintu kota yang mirip lubang jarum itu dengan unta? Dan apakah unta bisa melewatinya? Jelas, unta bisa melewati pintu lubang jarum tersebut. KarenaYesus tidak mengatakan “tidak bisa”, tapi mengatakan “lebih mudah seekor unta”, perbandingannya disini adalah unta lebih mudah daripada orang kaya melewati pintu itu. Karena unta adalah hewan yang sangat jinak hanya mau berjalan jika di tuntun oleh tuannya dan akan diam saja jika peralatan yang melekat dilepas melewati lubang tersebut, sedangkan orang kaya, belum tentu mau bahkan sukar melepasakan pikiran, harta kekayaanya melewati pintu tersebut, sehingga dalam hal inilah orang kaya hampir tidak mampu menembus  pintu jarum tersebut untuk sampai pada jantung kota. Jantung kota yang dimaksud adalah kerajaan Yesus. Dari fenomena sosial tersebut, Yesus seakan akan meminjam bahasa istilah untuk meberikan penjelasan pada pengikutnya agar mengikuti kebenaran dengan tulus walau rintangan menghadang, seperti gelapnya Pintu Jarum  itu.

            Ada juga ajaran murid-murid Yesus yang menjelaskan yang berbeda, unta bagi kaum Yahudi adalah hewan yang haram dan tidak boleh di makan. (Im 11:4) karena tidak berkuku belah, masuk tidak kosher, dan non halal. Seperti halnya orang kusta, mereka dianggap orang yang di kutuk oleh Tuhan sehingga harus dijauhi dari kota mereka, begitu juga unta, bagaimana mungkin masuk kekota orang yahudi sedangkan unta adalah hewan yang haram di mata mereka? Namun ajaran ini di nilai kontroversial.

            Dalam dua teks ayat suci tersebut, sama -sama menggunakan unta sebagai istilah perumpamaan dalam menyampaikan risalahnya antara Al-Qur’an dan Matius.  Karena istilah yang dikenal sebagai modal dialog teks suci, yang dikenal adalah hewan unta, mungkin kalau di Madura akan berbicara sapi! Namun meskipun sama-sama unta menjadi musyabbah bih, tapi permasalah yang ada dalam ayat itu berbeda. Unta menurut saya hanya sama-sama dijadikan sebuah peminjaman bahasa saja dalam dua kitab ini, sehingga dalam istilah ilmu sastra arab dikenal dengan istilah majas isti’ara; menggunakan peminjaman istilah kata lain tapi memiliki indikasi yang terhubung (Qorinah).

Baca Juga:  Menafsirkan Ulang al-Qur’an

            Permasalahan yang berbeda anatara QS. Al-A’raf (7): 40 dan Matius 19:23-30. yang saya maksud adalah; Al-Qur’an menggunakan bahasa  yang sangat universal yaitu pendustaan terhadap ayat ayat Allah, yang mana maknanya bisa meliputi tauhid, hukum syari’at bahkan hukum sosial, yang mana nantinya adanya sebuah tindakan kriminal misalnya. Dan mereka menolak kebenaran dengan rasa sombong. Sehinga, doa-doa mereka dan ruh mereka tidak diterima oleh langit dan mustahil masuk surga, seperti halnya, tidak mungkin seekor unta masuk pada lubang jarum. Sedangkan dalam Matius 19:23-30, lebih to the point terkhususkan peringatan bagi orang kaya dan menjadikan kekayaannya adalah segala-galanya, sehingga menimbulkan kesukaran untuk megikuti Yesus dengan ikhlas karena pikiran dan jiwanya dipenuhi dengan harta, sehingga sulit masuk pada kerajaan Yesus (sorga), tidak seperti setulus unta mengikuti tuannya, sehingga lebih mudah melewati lorong (pintu) jarum itu meski gelap dari pada orang kaya yang sulit.

Melatar belakangi penggunaan term yang sama, dengan persoalan yang sangat berbeda, apakah ada alasan historis teks maupun yang lainya seperti pengunaan kata-kata Yahudi lainnya dalam al-Qur’an seperti yang dikemukakan Geiger? Apakah istilah “lubang jarum” itu memang sudah masyhur dari era itu hingga era Al-Qur’an? Menurut saya yang jelas, hal ini adalah bentuk kekayaan uslubil Qur’an menggunakan istilah-istilah sehingga dikenal dengan kalam majazy dalam menyampaikan maksud-maksudnya.