Jualan Biduan dalam Pilkada Jatim

Ilustrasi via airputihku.wordpress.com

Biduan dangdut menjadi pelengkap dalam kontestasi Pilkada Jatim. Gus Ipul menggandeng Via Vallen dan Nella Kharisma. Sementara kubu Khafifah didukung oleh Danang D’ Academi Asia.

Via Vallen dan Nella Kharisma sedang naik daun. Viewer di YouTube lebih dari 90 Juta. Bahkan hampir mencapai 100 juta. Suatu pencapaian karya dan memiliki popularitas yang kuat. Termasuk juga dengan Danang yang menjadi juara di D’ Academi Asia. Tak kalah dengan Via dan Nella.

Akan tetapi, yang perlu dicatat, keberadaan dari biduan ini dalam kontestasi Pilkada Jatim juga dapat menjadi anomali. Dangdut berasal dari ruang tradisi kesenian yang mau tidak mau telah mengarah pada dimensi kesenangan yang profan dan cenderung berbeda dengan basis tradisi di Jawa Timur. Anomali dari jualan para biduan dapat dilihat dalam beberapa hal.

Pertama, Pilkada Jatim ini menjadi perhatian banyak kiai. Terbukti dua paslon ini didukung oleh para kiai di Jawa Timur. Khofifah dikomandani oleh Gus Sholah dan tim 9 yang terdiri pula dari para kiai. Gus Ipul yang didukung oleh PKB dan awalnya ingin mencalonkan Pak Halim, karena surat dari para Kiai Sepuh di Jawa Timur, akhirnya rekomendasinya sudah berubah ke Gus Ipul.

Disini para kiai di Jawa Timur dalam pengamatan saya adalah kiai yang memiliki wawasan fiqih yang kuat. Dalam hukum fiqih, keberadaan dari artis dangdut yang manggung dengan mengumbar aurat dan keseksian masih menimbulkan perdebatan. Malah lebih kuat mengemukakan keharamannya.

Selain pula, basis tradisi para kiai di pesantren yang senang melantunkan shalawat, berbeda pula dengan artis yang dalam beberapa waktu terakhir nyanyiannya cenderung mesum. Lagu-lagu berjudul: Hamil Duluan adalah salah satu diantara lagu lagu dangdut yang mesum dan jauh dari tradisi santri.

Baca Juga:  Jihad Menjaga Kedaulatan Pemilu

Saat biduan di jual dan berhadapan dengan tradisi santri yang berbeda, maka tentu yang akan berbenturan tradisi. Disinilah akan terlihat bagaimana tradisi ini akan bernegoisasi. Entah akan saling menguntungkan atau malah pada nantinya akan merugikan salah satu pihak.

Negoisasi itu dapat dilihat pada viralnya video santri Ploso Kediri yang bepakaian putih dan kerudung merah menyanyikan dengan serempak lagu Kabeh Sedulur yang memang identic dengan paslon 2. Hal demikian pada derajat tertentu dalam konteks tradisi para santri masih bisa dinggap tabu. Karena santri identic dengan sosok yang kalem dan jauh dari kesan urakan dan apalagi berlebih lebihan.

Kedua, para biduan yang kerapkali tampil ke publik menggeser terhadap program program yang ingin dilakukan oleh paslon. Realitas ini telah menggeser demokrasi ke arah yang semu  yang ditonjolkan adalah bungkus semata. Bukan lagi tentang substransi demokrasi.

Jika ada apologi bahwa biduan dangdut dalam rangka untuk dapat mendorong partisipasi pemilih, maka data dari dua kali Pilgub Jawa Timur dapat ditampilkan ke ruang nyata. Pada 2009 dan 2013, partisipasi pilgub jatim tidak pernah mencapai 60 persen. Data dari Saiful Mujani Research dan Consulting (SMRC) menyebut, tingkat partisipasi di Jatim hanya mencapai 59,84 persen. Sedangkan Lingkaran Survei Indonesia (LSI) mencatat 58,96 persen. Data ini juga dapat dibaca, bahwa hamper separuh dari penduduk di Jawa Timur tidak menentukan hak pilihnya.

Ketiga, jualan biduan perempuan dapat dianggap menyasar terhadap anggapan akan adanya kapitalisasi terhadap tubuh perempuan ke dalam ruang politik. Memang harus diakui bahwa tidak semua biduan adalah perempuan. Akan tetapi, dengan jualan tubuh perempuan untuk meraup suara dan hanya memanfaatkan populeritasnya adalah suatu eksploitasi yang tidak semua perempuan sukai.

Baca Juga:  Unais dan Kemungkinan Politisi Sufi

Mestinya yang ditonjolkan bukan hanya kemanfaatan untuk mendapatkan suara. Akan tetapi yang lebih penting adalah upaya untuk membuat program kongkret untuk pengembangan diri perempuan. Sehingga nantinya, para perempuan cerdas di Jawa Timur akan mendukung program. Bukan hanya jualan biduan perempuan.

Kiranya anomali-anomali dalam jualan biduan ini layak untuk kembali dikaji ulang oleh para paslon. Rakyat Jawa TImur sudah jenuh dengan jualan tokoh-tokoh. Apalagi tokoh dangdut. Kejenuhan dalam pilkada ini dapat dilihat pada 2 kali sebelumnya. Rakyat mengingingkan program nyata yang membela. Bukan memanfaatkan. Sebagaimana membela para perempuan. Bukan hnaya memanfaatkan popularitasnya.