Halal Bihalal Pilkada

Ilustrasi via metrotvnews.com

Momentum politik selalu membawa dampak sosial yang kompleks. Para paslon telah sepakat pilkada damai. Tapi para pendukung yang selalu bikin ramai. Bahkan saling “mengkafikan” kepada para pendukung yang berbeda.

Buktinya, ujaran kebencian ramai di media sosial. Caci maki dengan alibi melakukan kritik terus terjadi. Saling nyinyir untuk saling membenarkan pendapat diri dan kelompok kerap dilakukan. Tak peduli tentang nilai kebenaran. Yang penting membela diri dan kelompoknya.

Setidaknya akan ada 172 daerah yang akan melakukan pilkada. Sekitar 80 persen penduduk Indonesia akan ikut terlibat dalam pemilihan kepala daerah. Jumlah yang banyak juga menampilkan konsekuensi yang tidak sedikit dalam saling serang antar pendukung setiap paslon.

Heboh heboh di Jawa Tengah tentang sekelompok masyarakat yang ingin melaporkan Ganjar Pranowo atas pembacaan puisinya, lalu diikuti dengan kisruh pasangan Asyik di Jawa Barat saat debat pilkada, dilanjutkan dengan Jawa Timur yang saling melaporkan karena fatwa fardhu ‘ain memilih salah satu paslon, hingga tantangan “carok” dalam pilkada di Pamekasan, adalah beberapa hal yang membuat suhu politik kian panas antar para pendukung calon.

Gerakan media sosial dianggap memiliki pengaruh signifikan sebagaimana di Pilkada Jakarta. Di mana, saling serang di media social ini seakan menjadi laku politik pada aras nasional untuk kepentingan pilpres pada 2019.

Saling serang antara pendukung oposisi dan juga pemerintah adalah fakta. Sebagaimana muncul isu tentang poros mekkah dan Beijing. Isu tentang partai Allah dan partai Setan. Disusul dengan tenggelamkan partai-partai oposisi yang dihembuskan oleh sekelompok pendukung pemerintah.

Pembelaan pembelaan yang disadari atau tidak mulai membelah narasi kebangsaan kita. Hanya menunggu momentum saja untuk kembali saling berbenturan. Narasi emosi kita sebagai bangsa sudah sama dengan rumput kering di padang yang luas. tinggal menunggu api sedikit saja, akan langsung membakar semuanya.

Baca Juga:  Dukung Palestina, PCNU Bangkalan Boikot Amerika dan Sekutunya

Parahnya dengan tanpa menggunakan akal sehat. Tetapi emosi yang membuncah. Saat di alam bawah sadar telah ada kebencian, maka tak akan bisa diterima nilai kebenaran. Sebagaimana pernyataannya Ali bin Abi Thalib, bahwa tak perlu menjelaskan dirimu kepada orang yang membencimu, karena itu tak ada artinya.

Sebagaimana para pendukung paslon dalam pilkada yang masuk dalam salah satu poros tak akan peduli dengan kelebihan paslon lawannya. Sehingga gesekan antar para pendukung menjadi suatu yang tidak bisa dihindarkan. Jika hanya bercerita tentang kelebihan paslon yang didukungnya tidak akan menjadi suatu soal. Namun saat mencela paslon lain tentu akan dilawan dengan celaan terhadap paslon yang tidak didukungnya.

Saat sudah saling mencela, maka kebencian yang akan diumbar. Beberapa kasus di Pilkada yang ada di Jawa Timur, sampai ada beberapa peristiwa kekerasan yang diakibatkan oleh pilkada. Tidak jarang akan berakhir dengan sengketa kasus pilkada ke MK.

Panasnya suhu politik dan kebencian yang telah mengendap harus dapat diatasi. Tokoh tokoh masyarakat tak perlu menghamburkan kata kata kasar yang dapat memancing emosi masyarakat. karena kata-kata kasar, ujaran kebencian dan provokasi adalah tangga awal dari tangga selanjutnya berupa kekerasan fisik.

Narasi sejarah yang terjadi pada tahun 1960 an dimulai dari saling ujaran kebencian antar sesama tokoh yang diikuti oleh para pendukungnya dan berakhir dengan kekerasan fisik antar kelompok berbeda.

Mozaik sejarah lainnya, sekitar tahun 1948, para pendiri bangsa telah mengajarkan kita sebagai bangsa untuk dapat meredakan situasi yang memanas karena soal politik yang dibungkus dengan kebencian dan provokasi. Terutama ketika antar sesama bangsa saling meng”haram”kan satu sama lain, Soekarno minta pendapat Kiai Wahab Chasbullah. Saat itu, kiai Wahab memberi solusi untuk mengadakan halal bihalal. Tradisi ini murni kreativistas Kiai Wahab untuk saling menguatkan narasi kebangsaan yang mulai retak karena saling mengharamkan antar satu sama lain.

Baca Juga:  Amin Rais dan Balada Bobroknya Pendidikan Politik

Halal Bihalal adalah upaya untuk meredam segala kebencian dengan label agama.Tampaknya dalam beberapa waktu ini label agama dianggap sebagai pembenar dari setiap kebencian yang diumbar. Sehingga untuk dapat meredam situasi ini adalah halal bihalal kebangsaan.

Saling memafkan tak cukup. Yang lebih penting adalah saling menghalalkan satu sama lain. Menghalalkan melebihi dari memaafkan. Menghalalkan antar satu pribadi dengan pribadi lainnya yang memudarkan kebencian yang mengendap. Apalagi yang selalu membawa agama untuk malabelkan kebencian.

Menghalalkan dalam Halal Bihalal adalah duduk bersama dalam suatu meja, saling memaafkan dan kembali saling menguatkan sebagai bagian dari suatu bangsa. Tidak ada yang lebih pentingdari momentum politik selain daripada keutuhan suatu bangsa.

Memontum politik tak boleh menegasikan sebagaimanusia Indonesia yang memiliki amanah untuk menjaga keutuhan dan persatuan sebagai spirit dan modal penting dalam bangunan kebangsaan.

Pada titik lain, halal bihalal juga berarti menebarkan kasih sayang satusama lain. karena Islam tak hanya memiliki relasi ukhuwah islamiah saja, lebih jauh dari itu juga memliki relasi ukhuwah wathaniyah, yakni saudara sebangsa dan setanah air. Inilah narari substansial dari agama. Bukan hanya menjadikan agama sebagai pembenar untuk menebarkan kebencian. Agama adalah cinta. Halal Bihalal adalah ruang untuk mengikat yang retak, meredam segala benci, mengganti kata kata kasar dengan kelembutan.