Gus Dur dan Perdamaian Palestina

Gus Dur via nu.or.id

Tidak terasa Gus Dur (Kiai Abdurrahman Wahid) telah 8 tahun meninggalkan kita. Rasanya baru kemarin ia meneriakkan pentingnya sistem demokrasi, pluralisme, keberagamaan, dan keberagaman. Mengingat dan mengenangnya saja tidak cukup, kalau pemikiran dan uswah-nya tidak diaplikasikan dalam lakon kita sehari-hari. Ia bagaikan bangunan dengan seribu pintu, dan kita bisa memasukinya dari berbagai pintu-pintu tersebut. Salah satu pintu itu adalah “menciptakan ekosistem perdamaian dalam berbangsa dan bernegara”.

Presiden ke-4 RI dan cucu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH. Hasyim Asy’ari tersebut, selalu berada di garda terdepan memperjuangkan perdamaian. Dalam buku “Islamku, Islam Anda, Islam Kita” (2005), Gus Dur secara panjang lebar menarasikan tentang Islam perdamaian dan permasalahan internasional. Ia seolah menampik background pesantrennya—dan mengejawantahkan dengan serinci-rincinya—untuk sekadar membaca peta perpolitikan dunia internasional.Tak ayal kalau ia memberikan pandangan dan alternatif untuk perang Irak, memberikan jalan kerjasama antara Indonesia-Muangthai, memberikan pendapat di forum internasional dan tentu kontribusinya terhadap perdamaian Palestina-Israel.

Arti Sebuah Kunjungan

Pada tanggal 20 Desember 2003, Gus Dur (beserta rombongan kepresidenan) pernah mengunjungi jalur Gaza, Palestina. Waktu itu, presiden Palestina adalah Yasser Arafat, dan Gaza menjadi pusat pemerintahan “garis keras” bangsa Palestina. Kalau lihat saat ini, kondisi Gaza lebih memprihatinkan lagi, karena hampir dikuasai Israel seluruhnya. Kabar terbaru, Mahmoud Abbas pun sulit untuk keluar-masuk Gaza.

Ketika berada di Gaza, Gus Dur diminta untuk menyampaikan pidato. Dalam pidatonya, ia mengemukakan keinginannya untuk melihat Palestina merdeka dan memperoleh keadilan dalam kemerdekaannya. Para pembicara lain, terutama para pemuka Palestina sendiri, banyak menyampaikan keluhan dan keinginan yang sama, yakni kemerdekaan dari pihak Israel.

Pada kesempatan itu juga, Gus Dur menyampaikan kepada bangsa Palestina bahwa kemerdekaan dan aneksasi wilayahnya akan berhasil direbut kembali. Ia menyampaikan; buah kesabaran dan lobi-lobi adalah solusi jitu, laiknya Indonesia. Indonesia menunggu tiga belas tahun lamanya, sebelum Irian Jaya/tanah Papua dapat direbut kembali oleh Indonesia melalui Trikora tahun 1962. Gus Dur menambahkan, hal inilah yang belum terbukti, yaitu “keberanian politik” orang-orang Palestina untuk memberikan konsesi, yang dapat digunakan sebagai alat merebut “sisa” konsesi itu dari pihak Israel.

Baca Juga:  Menggugat Kiyai, Pantaskah ?

Kunjungan Gus Dur menyiratkan bahwa Indonesia tidak akan membiarkan Palestina berjuang di atas gelombang sendirian. Bagi Gus Dur, konflik berkepanjangan antara Israel dan Palestina bukan karena agama dan ideologi. Konflik antara keduanya lebih disebabkan masalah politik atau perebutan wilayah. Maka ketika konflik itu dikaitkan dengan agama, Gus Dur menolak keras.

Bahkan dalam upaya perdamaian Palestina-Israel, Gus Dur pun berkunjung ke Israel pada tahun 1994. Waktu itu ia mendapat undangan oleh PM Israel, Yitzhak Rabin, untuk menyaksian penandatanganan perjanjian damai antara Israel dan Yordania. Gus Dur juga mengapresiasi kedatangan Yitzhak Rabin ke Indonesia pada tahun 1992, ketika Presiden Soeharto menjadi Presiden RI. Tindakan ini menuai kontroversi dan kecaman di mana-mana. Padahal, kedekatan Israel dengan Indonesia diinginkan Gus Dur adalah untuk perdamaian konflik Irael-Palestina itu sendiri. “Untuk mencapai win win solutions kedua negara, kita harus sama-sama mendekati pihak yang berkonflik”. Kata Gus Dur.

Pada tahun 1982, Gus Dur juga menggagas “Malam Solidaritas untuk Palestian”. Kegiatan melalui medium kesenian dan kesusastraan ini bertujuan untuk; sekali lagi berbicara tentang Palestina, saudara kita yang tengah merana. Sontak Gus Dur mendapat sindiran dan kritikan keras dari para kiai. Maklum, pada saat itu ia sedang mendapat amanah sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Dan kita baru sadar saat ini, kalau inisiasi Gus Dur adalah sebentuk lobi dan kecaman lunak. Dan kegiatan macam ini terus berlanjut hingga saat ini.

Damai yang Mana?

Damai yang digaungkan Gus Dur adalah damai yang bernafaskan Islam. Islam adalah agama perdamaian (rahmatan lil’alamin), bukan agama kekerasan dan agama teror. Kehadiran agama, sejatinya ingin menciptakan ekosistem kedamaian dan tidak untuk memaksakan kehendak. Gus Dur juga mengajak untuk melakukan penafsiran baru (reinterpretasi) terhadap langkah-langkah salah yang telah kita lakukan. Sebagaimana Gandhi dengan ajaran Ahimsa, Gus Dur juga sangat membenci kekerasan dan peperangan.

Baca Juga:  Di Ambang Kematian Kepakaran

Perdamaian bisa diciptakan dan dihapuskan kata Gus Dur. Maka dari itu, dengan jalan penangan secara tuntas persoalan utama berupa kesalah pamahaman dasar antara ideologi negara dan aspirasi keagamaan. Bila hal ini terwujud, maka para elit pemerintahan bisa menelorkan paket kebijakan yang lebih objektif dan prinsipil.

Pernyataan Trump kemarin, atas klaim sepihak atas Yerusalem sebagai ibu kota negara Israel menambah awan tabal di Palestina. Indonesia bisa menjadi mediator perdamaian, dengan mengajak negara-negara lain, dan mendekati kedua negara secara persuasif untuk berdamai. Gus Dur telah memulainya. Dari Gus Dur kita bisa memetik buah kebun kedamaian, dari Palestina kita menyelami dalam lautan, dan menerabas lebatnya hutan belantara.