Graha Kiai Wahab Chasbullah dan Upaya menjadi Katalisator Gerakan

Launching Graha Wahab Chasbullah

Pada tanggal 12 Juni 2018, GP Ansor Sumenep mencatatkan sejarah penting. Sejak puluhan tahun berdiri dan melakukan gerak taktis perubahan dalam berbagai dinamika bangsa, kini GP Ansor Sumenep baru terlihat bentuknya sebagai sebuah organisai kepemudaan. Dengan diresmikannya kantor GP Ansor dengan nama graha Kiai Wahab Chasbullah. Insya Allah akan diresmikan oleh Menristek Dikti (Prof. H. Mohammad Nasir, Ph. D., Ak.

Memang sebagai suatu organisasi, gerak GP Ansor membangun kantor tidak mudah. Butuh perjuangan cukup lama dan membawa bekal kesadaran dan keyakinan bahwa berorganisasi di Ansor adalah sebagai bentuk pengabdian.

Pilihan nama Graha KH. Wahab Chasbullah sebagai nama kantor GP Ansor Sumenep dikarenakan beberapa hal. Pertama, upaya untuk tabbarukan kepada kiai Wahab Chasbullah. Tabarukkan adalah istilah laina adalah untuk menyambungkan hati dengan leluhur.

Secara akademik, penelitian yang dilakukan oleh Noam Choamsky menunjukkan bahwa kapitalisme berubaha memisahkan sekat kultural dan ikatan dengan masa lalu. Namun, GP. Ansor tetap mengikat hari ini dengan masa lalu. Khidmatnya masih sebagai pembela ulama, penegak agama. Bahwa GP. Ansor akan berada di garis paling depan untuk terus mengawal ulama. Fitnah apapun terhadap ulama, tidak akan menyurutkan Ansor untuk cinta ulama, NU dan Indonesia.

Kedua, Kiai Wahab Chasbullah adalah konsolidator NU. Dalam setiap momentum sejarah, NU dan GP. Ansor selalu mengambil peran signifikan. Terlalu banyak sejarah yang bisa diuraikan tentang peran dan gerakan.

Hanya saja yang patut dicacat, bahwa Kiai Wahab adalah Konsolidator NU. Sebagaimana dalam catatan Andre Fierlad bahwa, Kiai Wahab dianggap sebagai bapak pendiri NU. Perannya cukup siginifikan sebagai penggerak NU. Jika Hadratus Syaikh Hasyim Asyari adalah sebagai tokoh aliem yang selalu menginspirasi dan memberikan masukan masukan, maka pelaksana gerakan yang menjadi konsolidator adalah Kiai Wahab Chasbullah di lapangan.

Ketiga, Kiai Wahab Chasbullah adalah pendiri ANSOR. Bahwa GP. Ansor Sumenep tidak akan ahistoris. GP. Ansor Sumenep tidak akan lupa terhadap sejarah.

Setidaknya karena ketiga hal itu yang menginisiasi dan menjadikan kami di GP. Ansor Sumenep meresmikan kantor dengan nama Graha Kiai Wahab Chasbullah

Interaksionisme Simbolik dengan Kiai Wahab sebagai Inspirator

Dalam kerangka lain, saat dibaca dengan kerangka teori dari George H. Mead berupa interaksionisme simbolik atau dikongkretkan dengan teori konstruksi sosial dari peter L. Barger dan Luckman yang membagi kerangka teoritisnya dengan Eksternalisasi, Obyektivikasi dan Internalisasi, ada spirit yang jelas dalam peresmian kantor graha Kiai Wahab Chasbullah.

Sebagai eksternalisasi, bahwa kantor adalah ruang konsolidasi dan perumusan gerak GP Ansor yang lalu dapat dilihat bentuknya dengan kerangka obyektivikasi dalam bentuk kantor yang diharapkan dapat menginternalisasikan nilai dan narasi dari Kiai Wahab Chasbullah sebagaimana di atas.

Bahwa memag kiai wahab chasbullah tidak hanya sebagai konsolidator, tetapi lebih jauh juga sebagai katalisator perubahan.

Situasi kekinian menuntut kita untuk kian teguh dalam bersatu, bergerak dan merebut perubahan. Sebagaimana dalam dawuh alm. Kiai Hasyim Muzadi, bahwa NU tantangannya kian kompleks. Secara anggota, memnag paling besar. Hanya saja dalam konteks kekinian, NU dan Indonesia dihadapkan dengan hadirnya banyak organisasi keislaman yang kecil tapi militan. Berbeda dengan NU, yang besar tapi masih belum begitu militan. Dalam prediksi Kiai Hasyim Muzadi, kuantitas akan dikalahkan oleh militansi.

Tantangan inilah yang terus akan dijawab oleh GP. Ansor Sumenep. Kami terus akan berkometmen menjadi konsolidator gerakan dan katalisator perubahan. Semoga dengan adanya Graha Kiai Wahab Chasbullah akan terus memberi motivasi dalam bergerak dan berkhidmat untuk NU. Wallahu a’lam