Fakhruddin Iraqi: Sebuah Renungan Tentang Cinta

Fakhruddin Iraqi via classes.colgate.edu

Bila ia menyanyikan lagu hubbu Ilahi (cinta ilahi) dalam keindahan ayat-ayat yang agung, itu karena jiwanya telah menjadi lagu Ilahi, sebuah melodi dalam harmoni dengan, dan sebuah nada dari musik yang dilantunkan dari kediaman Yang Tercinta. (Seyyed Hossein Nasr1)

Seorang tokoh sufi yang berdenyar bicara cinta adalah Fakhruddin Ibrahim (1213 M), lahir di Persia, kota tua Hamadan, Konya, Toqat (sekarang Turki). Namanya dikenal seantero dunia dengan label kemasyhuran sebagai raja sastrawan Persia. Fakhruddin Ibrahim atau Iraqi tidak lain termasuk deretan para sastrawan terbesar di Persia, yang menurut Seyyed Hossein Nasr adalah seniman tertinggi di antara mereka yang betul-betul mencapai suatu puncak spiritual yang dimuliakan di kalangan sufi.

Konon, sebelum Iraqi dilahirkan ke dunia, ayahnya sempat bertemu dengan Ali ibn Abi Thalib dalam sebuah mimpi, yang kemudian menyerahkan seorang anak itu kepadanya. Ali berkata: ”terimalah Iraqi dan besarkan ia dengan baik, karena kelak akan menjadi penguasa dunia.” Pengalaman (experience) ayahnya tersebut, Iraqi lahir ke dunia nampak seperti anak dalam mimpinya.

Sebagai anak yang dibesarkan oleh keluarga ilmuan dan budayawan, pada usia lima belas tahun Iraqi bisa menghafal keseluruhan al-Qur’an. Pada suatu pagi yang buta pada waktu-waktu tertentu, Iraqi menyenandungkan hafalannya dengan suara yang penuh merdu. Siapapun yang mendengar dibuat terlena dan tergugah hatinya. Di balik kemahiran dalam membacakan al-Qur’an Iraqi suatu ketika meluluhkan hati seorang non-muslim untuk masuk Islam melalui suara merdu Iraqi. Pada usia tujuh belas tahun Iraqi sudah melahap habis ilmu pengetahuan, baik naqli (transmitted) dan aqli (intellectual).

Pada waktu itu, nama Iraqi di sejajarkan dengan tokoh besar tasawuf yang dikenal dengan kecanggihannya dalam menyampaikan epistemologi tasawuf melalui bahasa-bahasa simbol (alegoris), sebut saja; Ibn Arabi, Jalaluddin Rumi, Shadruddin al-Qunawi (guru yang paling berpengaruh), Najmuddin Kubram dan Ab al-Hasan al-Syadzili. Di tangan Iraqi dunia sastra tasawuf mendapatkan sentuhan yang energis sepanjang sejarah yang kecerdasannya tetap menyilaukan tatapan mata.

Baca Juga:  Menjangkau Tentang “Barakah” yang Sesungguhnya

Pada diri seorang Iraqi tersimpan kemampuan disiplin ilmu yang meliputi teologi dan sastra, terutama sastra Persia dan Arab, serta belbagai karya-karya sufi awal. Selain itu, Iraqi tidak meninggalkan asas pengetahuan dasar seperti al-Qur’an dan al-Hadits, yang dikolaborasikan dengan bentuk metafisika tasawuf Ibn Arabi, sebabnya Iraqi sangat terpengaruh dengan ajaran gnostik (ma’rifah) pada masa awal hidupnya, berikut dari tokoh-tokoh yang mempengaruhi cara pikir Iraqi; Bayazid, al-Hallaj, Abu al-Hasan Kharraqani, dan Sana’i.

Seorang tokoh sufi dan sastrawan yang mumpuni dan berpengalaman menerjemahkan puisi pusi sufi, Abd al-Rahman Jami (w. 1492) telah memberikan komentar tentang karya besar Iraqi yang cukup fenomenal, Lama’at (Kilau Kemilau Ilahi). Bagi Jami siapapun yang punya keinginan kuat untuk mengetahui lebih dalam tentang karya Iraqi, maka perlu untuk membaca lebih dekat filsafat tasawuf (the mystical philosophy). Karya karya tersebut adalah paling indah dari jenis sastra Persia, hingga pada gilirannya karya Iraqi menjadi satu kitab babon yang melahirkan energi cinta untuk para pemerhati tasawuf cinta.

Menggapai Filosofi Cinta Iraqi

Membaca Iraqi tentu tidak akan lepas dari gubahan tentang cinta; tentang bagaimana Iraqi memulai bentuk cinta dari yang paling rendah menuju muara cinta yang haqiqi. Iraqi menunjukkan gradasi keindahan dari titik yang bersifat bentuk (Wujudi), hingga mencapai titik keindahan absolut yang tak berwujud.

Agar tidak tersesat dalam rimbun filosofi cinta yang dihadirkan Iraqi dalam kitabnya Lama’at, hendaknya pembaca pemula harus menarik pada konteks makna-makna spiritual yang lebih jamak. Pada dimensi ini, hanya bahasa tasawuflah yang (hanya) mampu dan terlatih untuk menghadirkan hal yang metafisik dan spiritual dengan bahasa-bahasa simbolik/majazi.

Dari pembacaan tersebut kita harus meninggalkan bentuk-bentuk bacaan esoteris menuju bentuk eksoterik—menuntut keterlibatan secara aktif dan penghayatan yang mendalam serta kontekstual—agar pembaca mengetahui pada tatanan seperti apakah perbincangan dilangsungkan—fisik atau metafisik—yang nantinya, Iraqi berhasil menyingkap selubung pengalaman-pengalaman metafisis dan spiritual dari titik dimana menghadirkan Yang Mutlak dengan menggunakan medium-medium yang terbatas.

Baca Juga:  Sarjana Menganggur, Aib Sosial ?

Meski dalam kitabnya, Iraqi beberapa kali meminjam terminologi al-Ghazali dan Ibn Arabi, akan tetapi seluruh konsep dan sintesis adalah miliknya, Iraqi mengembangkan filsafatnya sendiri tentang cinta, bukan potongan dari berbagai epistemologi yang melahirkan narasi panjang tanpa pertanggungjawab yang ilmiah.

Epistemologi cinta seperti apakah yang dibangun oleh Iraqi?

Sebagaimana yang dikatakan oleh William C. Chittick bahwa Iraqi memiliki kesamaan dengan al-Ghazali. Banyak sejumlah sufi dalam hal cinta mengikuti al-Ghazali, sedang al-Ghazali setarikan nafas dengan Iraqi. Akan tetapi Iraqi tidak mengikuti detail-detail terminologi metafisika al-Ghazali, hanya lebih pada identifikasi mengenai Allah hubungannya dengan Cinta, Iraqi menarik pada penglihatan kontemplatif atas setiap realitas sesuatu, yang lebih mendekati pada gurunya yaitu al-Qunawi.

Bicara cinta ya bicara asal dari setiap sesuatu, seorang pencinta (makhluk) sebagai mumkin al-wujud (possible existent) adalah berasal dari tetesan Sang Kekasih (Wajib al-Wujud). Sebagai akibatnya cinta harus menorehkan kesadaran seseorang terhadap munasabah (afinitas) sebagaimana al-Qunawi menulis; “Adalah tidak dapat dibayangkan bahwa sesuatu akan mencintai yang lain dalam hal bahwa sesuatu itu berbeda darinya.”

Sebuah munasabah yang dikatakan oleh al-Qunawi akan mengiring dan membimbing kepada dominasi sifat yang menghasilkan ittihad di atas kereta difrensiasi untuk menghasilkan penyatuan sempurna secara pasti. Sebab, term “Cinta” pada satu sisi adalah sifat Allah pada sisi yang lain tidak menutupi kebenarannya bahwa, identik dengan Dzat-Nya sendiri—adalah Allah itu sendiri—pendekknya, Iraqi memunculkan sebuah diskursus tentang term Wahdat al-Wujud dalam term Cinta.

Kesempurnaah ontologis menjadi satu wujud yang berasal dari karakter penyatuan prototipe Ilahi. Dimana prototipe Ilahi diekspresikan oleh kata “Ahbabtu/Aku Cinta.” Maka alam makhluq sendiri berasal dari sifat-sifat-Nya, karena Dia “ingin” dikenal, sebagaimana dalam Hadits qudsi yang masyhur: “Aku adalah Kanz Makhfy dan Aku cinta  untuk dikenal. Maka Aku ciptakan makhluk agar Aku dapat dikenal.”  Apa yang Dia cintai adalah kecantikan diri-Nya yang tak terbatas dan kemungkinan manifestasi dzhahir yang tak pernah berakhir yang terpendam di dalamnya atau dalam ungkapan lain kamal al- jala’ wa al-istijla’ (distinct-manifestation and distinct-vision).

Baca Juga:  Memetakan Pancasila Menjadi Tiga Dimensi

Konklusinya, Dia ingin kecantikan-kecantikan dan kesempurnaan-kesempurnaan diri-Nya yang tak terbatas disebarkan  dalam sebuah keluasaan dan penyebaran yang tak terbatas sehingga apa yang Dia pandang di dalam diri-Nya pada tataran asma bathin (Kanz Makhfy; Kekayaan Tersembunyi) bisa juga menjadi yang dipandang “tanpa” diri-Nya pada tataran asma dzahir.

Akan tetapi, adakah kenyataan mawujud selain Dia? Jawabannya selalu tidak ada. Maka, entitas-entitas adalah ghoiru maujud. Jadi, yang melihat sebenarnya adalah Dia, sebagaimana yang dilihat tak lain adalah Dia. Keduanya saling merefleksikan, mengamati dan mencintai yang lain, dengan demikian membuat asma-asma dan sifat-sifat Allah—kanz makhfy—sebagai perwujudan cinta dari diri-Nya sendiri.

Itu sebabnya, jika kita menjelaskan bahwa Allah memiliki Cinta, sama halnya dengan menarik kesimpulan bahwa Allah itu tidak sempurna. Dalam pengertian ini menurut Iraqi manusia harus memahami secara signifikan pernyataan Qunawi dan Ibn Arabi bahwa cinta adalah sebuah inklinasi batin terhadap jangkauan sebuah kesempurnaan yang tersembunyi.

Sedang  kesempurnaan ada pada perbedaan mendasar antara ketaksempurnaan yang dinyatakan oleh manusia dan yang dinyatakan oleh Cinta Allah. Maka hanya insan kamil yang dapat mengenal Allah semata, karena hanya dialah cermin bagi totalitas asma-asma dan sifat-sifat Allah. Sebagaimana perkataan Qunawi, Allah tidak dapat menjadi yang dipikirkan atau dicintai seorangpun, maka jadilah insan kamil. Karena di dalam manusia yang sempurnah dengan jelas Allah melihat Keindahan-Nya sendiri. Wallahua’lam..

  1. William C. Chittick dan Peter L. Wilson, Fakhruddin ‘Iraqi; Lama’at (Kilau-Kemilau Ilahi), diterjemahkan oleh Hodri Arie, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama), 2001, hlm. X.