Etika Ilmiah dan Tanggung Jawab Intelektual

Ilustrasi via pixabay.com

Gus Dur mengatakan bahwa ada beberapa model gerakan intelektual Islam di Indonesia dewasa ini, salah satu diantaranya adalah mereka yang berada di kampus antara yang karir dan aktivis. Ketika dikatakan intelektual yang berada dikampus berarti berbicara masalah perguruan tinggi di Indonesia, dan tentu disana kita akan bersentuhan dengan Tri Dharma  yang berisikan pendidikan, pengajaran, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat.

Tri Dharma inilah yang membedakan perguruan tinggi dengan lembaga lainnya.  Dengan Tri Dharma tersebut perguruan tinggi dapat diidentikkan dengan dunia keilmuan yang sekaligus diabdikan untuk kepentingan kesejahteraan dan kemaslahatan manusia.

Dharma pertama, proses pembelajaran dan pendidikan akan terus berjalan dan itu merupakan salah satu dinamika ilmu yang terus berlangsung, sehingga ilmu tidak akan berhenti di buku atau diperpustakaan, melainkan selalu dinamis dan berproses.

Dharma kedua sangat jelas menunjukkan perbedaan antara perguruan tinggi dengan lembaga pendidikan lainnya.  Riset merupakan  salah satu unsur utama dalam pengembangan ilmu.  Tanpa riset, ilmu tentu tidak akan dapat berkembang dan menghasilkan  sesuatu yang dapat memberikan manfaat besar bagi kehidupan dan juga kemanusiaan.

Hanya dengan melakukan risetlah sebuah disiplin ilmu akan dapat terus dikembangkan dan tidak mandeg atau statis, serta dapat menghasilkan temuan-temuan baru yang melengkapi temuan sebelumnya, dan begitu seterusnya. Dan itulah ciri ilmu yang sesungguhnya.

Sementara itu Dharma ketiga, sangat jelas memberikan pengertian bahwa ilmu itu bukan semata-mata untuk ilmu, tetapi ilmu untuk kesejahteraan umat manusia. Karena pengabdian kepada masyarakat merupakan hal mutlak yang memang harus dilakukan oleh perguran tinggi.

Perguruan tingi bukan merupakan menara gading yang tidak tersentuh oleh manusia secara umum, justru  harus menjadi lembaga yang dapat meningkatkan kesejahteraan manusia melalui temuan-temuan yang sangat bermanfaat bagi pengembangan berbagai sektor kehidupan praktis manusia.

Baca Juga:  Menaja(-Kembali) Pendidikan Kritis

Nah, dengan  sedikit melihat aktifitas perguruan tinggi tersebut, tentu kita juga dapat menyimpulkan bahwa  perguruan tinggi sesungguhnya merupakan dunia ilmiah dan intelektual,  sehingga sikap ilmiah dan intelektual harus senantiasa ditunjukkan oleh penghuni kampus, terutama pada dosen dan mahasiswa.  Artinya bahwa seharusnya seluruh civitas akademika selalu menujukkan sikap ilmiah dan intelektual dalam setiap langkahnya.  Itulah  sesungguhnya yang dinamakan tanggung jawab intelektual.

Seluruh dosen dan juga mahasiswa adalah  manusia ilmiah yang mempunyai tanggung jawab untuk selalu mengembangkan ilmu sesuai dengan disiplin yang ditekuninya, dengan cara selalu melakukan riset untuk mengembangkan  dan bahkan kalau mungkin menemukan sesuatu yang dapat memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu itu sendiri dan juga kemaslahatan manusia.

dengan demikian,  menjadi sangat jelas bahwa sebagai ilmuan, seorang dosen mempunyai kewajiban untuk melakukan riset yang terus menerus, baik dalam upaya mengembangkan ilmu yang ditekuni itu sendiri maupun dalam upaya mensejahterakan umat manusia.

Sementara itu sebagai seorang ilmuan dengan segala tanggung jawab intelektualnya sebagaimana disebutkan di atas, dosen dan  juga mahasiswa  harus memperhatikan dan sekaligus mempraktekkan etika ilmiah.

Etika ilmiah ialah Mengembangkan dan menjunjung tinggi kebebasan akademik secara bertanggung jawab. Melaksanakan kegiatan akademik  yang bermanfaat bagi Institut dan masyarakat luas. Mengembangkan kebebasan akademik  yang berorientasi kepada  wawasan etik dan mengacu kepada kepentingan nasional. Menjunjung tinggi otonomi keilmuan, dan mengembangkan sikap ilmiah, seperti jujur dalam menyampaikan pendapat, menghargai pendapat orang, terbuka dan obyektif.

Setiap orang berhak dan bahkan didorong untuk berpendapat dan pandangan tersebut juga tidak harus selalu sejalan dengan pandangan linier yang sudah ada, melainkan juga sekaligus boleh berbeda dengan pandangan yang selama ini dianggap telah mapan. Tentu pendapat dan pandangan tersebut harus didasarkan kepada kesimpulan yang dihasilkan  melalui proses ilmiah dan dapat dipertanggung-jawabkan, dan bukan pendapat yang “asbun” dan ngawur.

Mengembangkan kebebasan akademik  yang berorientasi kepada  wawasan etik dan mengacu kepada kepentingan nasional. (artinya sebagaimana dijelaskan di atas bahwa  sebagai warga kampus kita harus mengembangkan iklim kebebasan akademik dan tidak menghakimi “salah atau sesat” terhadap pikiran dan pandangan yang tampak nyeleneh, tetapi dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Baca Juga:  Sarjana Menganggur, Aib Sosial ?

Namun demikian harus juga dikembangkan dan diorientasikan kepada pengamalan etika yang baik serta dalam rangka membangun masyarakat yang cerdas dan tidak saling menyalahkan yang  ujung-ujungnya mengarah kepertikaian dan disharmoni. Dengan kondisi seperti itu tentu kehidupan masyarakat akan tenang dan tentram, dan dengan demikian maka penciptaan kondisi tersebut sesungguhnya telah andil dalam menciptakan kondisi yang kondusif  secara nasional.

Menjunjung tinggi otonomi keilmuan, artinya  bahwa sebagai warga kampus kita wajib menghormati dan menjunjung tinggi otonomi keilmuan.  Kepentingan keilmuan harus diletakkan di atas kepentingan yang lain. Jangan sampai terjadi kepentingan ilmiah terkalahkan oleh ikatan apapun atau kepentingan apapun. Ilmu yang dihasilkan melalui prosedur yang benar, meskipun tampak bertentangan dengan kondisi yang sudah mapan, tetaplah harus diperlakukan dengan baik, karena ilmu tersebut tentu mempunyai sisi kebenaran dan kebaikan, hanya cara pandang kita saja yang terkadang terlanjur dihantui oleh rasa takut dan tidak berani berhadapan denga  adat yang terkadang justru tidak ilmiah.

Mengembangkan sikap ilmiah, seperti jujur dalam menyampaikan pendapat, menghargai pendapat orang, terbuka dan obyektif. (artinya, sebagaimana dikemukakan di atas bahwa sikap ilmiah yang harus dipupuk dan dikembangkan menuntut kita untuk selalu menomor satukan sikap ilmiah.  Sebagai warga kampus hendaknya selalu jujur dan menjauhi serta menganggap haram hukumnya untuk berbohong, tidak cepat marah apabila pendapatnya dibantah orang lain, dan tidak mau menerima argumentasi  orang lain.  Beda pendapat adalah hal yang lumrah.  Karena itu pendapat yang berbeda dengan pendapat kita, harus dihormati dan tidak usah malu mengakui kelemahan diri, manakala memang argumentasi kita lemah, dan lainnya).

Jadi sangat jelas  bahwa etikan ilmiah yang telah dirumuskan tersebut sangat relevan dengan  semangat keilmuan yang memang dibangun  dalam upaya memberikan peran ilmu yang sangat signifikan  dalam kancah kehidupan umat manusia secara umum.  Untuk itulah seharusnya tidak ada lagi  warga kampus yang kontra terhadap etika ilmiah tersebut yang hanya akan menyebabkan terpuruknya perguruan tinggi dimana kita mengabdikan diri.

Baca Juga:  Kaum Sarungan dan Implementasi Nasionalisme

Namun kita sangat yakin bahwa seluruh civitas akademika sudah sangat menyadari dan berkomitmen untuk melaksanakan  dan memerankan dirinya sebagai manusia ilmiah yang mempunyai tanggung jawab mengembangkan ilmu dan sekaligus bersikap dan beretika ilmiah.  Kalau ada sebagian yang belum dapat melaksanakan peran tersebut secara maksimal itu hanyalah soal waktu, dan pada saatnya  semua akan dapat berjalan sesuai dengan harapan. Semoga.