Di Ambang Kematian Kepakaran

Ilustrasi via mahoni.com

Di zaman informasi ini, masihkah kita mampu menahan diri untuk sekadar mendalami sesuatu? Bisakah kita menghentikan hasrat untuk tidak membaca informasi yang hadir secara seoptong-sepotong di media sosial? Pertanyan-pertanyaan tersebut bisa kita tambah secara panjang lebar. Tetapi, cukuplah dua pertanyaan tersebut menjadi bahan untuk kita refleksikan lebih jauh.

Gelombang literasi instan melalui media sosial, ternyata tidak hanya melanda Indonesia, melainkan juga tengah menyerbu Amerika Serikat. Melalui bukunya yang cukup populerThe Death of Expertise: The Campaign Against Established Knowledge and Way It Matter (2017), Tom Nichols merasa resah dan berkata “Amerika Serikat saat ini adalah sebuah negara yang terobsesi dengan ‘ignorance’ kegoblokannya sendiri. Masalahnya, bukan pada kenyataan bahwa orang tidak memahami geografi. Masalah terbesar adalah karena kita bangga tidak mengetahui banyak hal”.

Tidak perlu bersusah-payah mencari bukti untuk mengkonfirmasi perkataan Nichols. Lihatlah, misalnya, ketika sedang terjadi gonjang-ganjing nasional. Tunggu respon masyarakat, pasti kita akan menjumpai argumen-argumen yang tidak rasional, terutama di media sosial. Yang ironis ialah saat semua orang seolah berhak menjadi yang paling mengetahui. Sehingga, mereka gampang menghakimi seseorang. Padahal, mereka hanya mengetahui secara sepotong-sepotang melalui media sosial.

Dalam zaman informasi ini, kepakaran, yang terkait dengan hal-hal teknis memang tidak akan pernah benar-benar hilang. Saat sakit gigi misalnya, tentu kita akan pergi pada dokter spesialis gigi. Yang diresahkan Nicholson ialah hilangnya keahliaan dalam bidang intelektual, yang seolah-olah tidak lagi penting bagi masyarakat.

Di Indonesia, fenomena ini bisa kita lihat dari begitu banyaknya masyarakat yang, belajar agama melalui internet, tanpa ada pandu dari seoang kiai. Padahal, Islam mampu bernafas hingga detik ini berkat andil para ulama, yang membaca dan menulis buku secara mendalam. Mereka tidak sekadar berkomentar, melainkan memberi penjelasan secara detail karena mampu memahami suatu pokok persoalan secara komprehensif dan tidak sepotong-sepotong.

Baca Juga:  Menggugat Kiyai, Pantaskah ?

Media sosial justru membuat bangsa ini surplus kedangkalan dan defisit kedalaman. Alhasil, jeratan berpikir “sumbu pendek” adalah konsekuensi yang harus ditanggung.Media sosial membuat ikhtiar untuk berkonsentrasi ambruk.Dan, masyarakat kini tenggelam dalam euforia kedangkalan.

Menghormati buku

Kondisi sengkarut demikian membuat para pakar tidak lagi dihargai. Karya-karyanya dibiarkan teronggok dalam kesendirian, seperti tanah tak bertuan. Penuh manfaat, tapi dibiarkan begitu saja. Begitulah nasib buku akhir-akhir ini. Padahal, Indonesia adalah negara yang dibangun di atas kanvas pemikiran founding father, yang dituangkan melalui buku-buku. Meraka adalah orang-orang yang menghormati buku.

Ketika terjadi perdebatan, prinsip yang dibangun bukanlah saling menghujat, melainkan menyandarkan agrumennya pada alasan-alasan rasional dan penuh referensi. Narasi kebangsaan dijangkarkan pada buku. Itulah suatu masa yang dalam bahasa pemikir Islam Khaled Abou Fadl, begitu ramai dengan “musyawarah buku”.

Perbedaan jalan politik bukan lantas menjadi kekuatan afirmatif untuk menghujat. Hal itu adalah jalan untuk merangkai fragmen pemikiranmenjadi satu kesatuan konsepsi yang utuh. Sehingga, ketika Soekarno menerbitkan buku Sarinah, yang secara tidak langsung menggambarkan ihwal langkah revolusionernya, Musso tidak setuju. Langkah revolusioner Soekarno tidak sinergis dengan alur ideologisnya. Dan, buku Djalan Baroe merupakan sanggahan atas buku Soekarno tersebut.

Polemik yang berlangsung di atas panggung politik dituntaskan melaluidialektika pemikiran.Meskipun besar dan tumbuh di daerah yang sama, Sjahrir dan Tan Malaka tidak memiliki alur kesamaan dalam sikap dan pemikiran. Perjuangan membutuhkan sebuah formulasi dan rumusan, Sjahrir membuatnya dengan menerbitkan buku Perjuangan Kita. Sementara, di sisi lain, Tan Malaka tidak menyetujuinya hingga buku Moeslihat menjadi anti-tesis dari buku Sjahrir.

Dengan nada yang agak romantik, Mohammad Hatta pernah berkata “Selama aku bersama buku kalian boleh memenjarakanku di mana saja; sebab dengan buku pikiranku bebas”. Buku, dengan demikian, telah menjadi bagian substansial bagi tegak dan berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Baca Juga:  Gus Dur dan Perdamaian Palestina

Fakta historis telah membuktikan bahwa buku adalah alat untuk mentransformasikan ilmu pengetahuan. Siapa yang menyangkalnya, akan jatuh pada kubangan ketidakberadaban. Islam mencapai puncak kejayaan tatkala buku dipanggul sebagai entitas yang agung dan mulia.

Kecendrungan di era informasi ialah tuntutan kesegeraan. Kita dikepung oleh informasi yang datang silih berganti, nyaris tiap detik.Pokok soalnya ialah informasi-informasi tersebut datang secara sepotong-sepotong, bahkan terkadang penuh dengan kebohongan(hoak). Waktu untuk membaca buku secara khidmat tersita. Di titik inilah pribahasa “alon-alon waton kelakon” sebenarnyamenemukan signifikansinya.

Membaca buku dan menulis karya bukanlah sesuatu yang bisa dikerjakan secara instan. Butuh perjuangan untuk menyelesaikan bab demi bab, sehinggaatas dasar itu, ide-ide visioner, kreatif dan inovatif bisa kita temukan dan dituliskan.

Dalam sebuah syai’rnya, Imam Syafi’i mengingatkan “Al-ilmu shoidun wal kitabatu qaiduhu/ Qayyid shuyudaka bil jibali al-watsiqati/ famin al-hamaqati an-tashida ghazalata/ wa tatru kuha baina al-khala’iqi thaliqata. (Ilmu bagaikan hewan buruan, dan tulisan adalah bagaikan tali pengikatnya. Ikatlah hewan buruanmu dengan tali yang kuat. Sungguh tindakan yang bodoh ketika berburu rusa kemudia rusa itu berhasil ditangkap. Tetapi kamu biarkan tanpa diikat).Pesannya ialah membacalah dan menulislah.

Jika kita tidak ingin kepakaran lenyap, maka perlu untuk menempatkan pakar pada posisi yang selayaknya. Sudah saatnya kita menyadari betapa pentingnya membaca buku, ketimbang membaca informasi-informasi yang tersaji dalam media sosial, agar kita bisa bersikap arif saat dihadapkan dengan persoalan yang sedang menggejala.