Yang Seharusnya dalam Berbangsa dan Beragama

Ilustrasi via pixabay.com

Ini merupakan satu opini dari beberapa pembahasan yang sangat saya sukai. Dengan tema tajuk berbangsa saya ingin menyampaikan kepada bangsa ini, bahwa negara ini ber-asas pancasila bukan agama. Sebab kita sekarang ada pada negara demokrasi, bukan teokrasi. Dalam arti, segala tindakan atau pendapat oleh siapa pun, atas kalangan siapa pun, dari agama apa pun, semua berhak dan punya peluang yang sama. Kesamarataan ini kurang lebih sudah bermulai sejak pasca kemerdekaan yang oleh pendiri-pendiri bangsa telah dikaji dan disepakati. Sehingga mereka menciptakan pancasila untuk mengikat keseluruhan. Oleh karna itulah kenapa pancasila bisa disakralkan.

Negeri ini berdiri di atas tanah yang bercampur darah setiap umat beragama dalam upaya bersama untuk menolak penjajah. Sekedar mengingatkan, bumi ini bukan hanya untuk orang Islam yang jumlahnya mayoritas, bukan untuk Hindustan yang sebagai penempat pertama. Meski Kristen, mereka tidak semua pendukung penjajahan. Sebab mereka sadar, penjajahan adalah soal manusia yang tidak memanusiakan manusia.

Lantas mereka berani untuk berdiri menolak saudara seagama mereka. Ikut dalam berbagai pertempuran sebagai bukti pengagum kemanusiaan. Etnis tionghoa sadar, pertiwi bukan tanah asli mereka. Sehingga dalam berbagai pertikaian mereka tidak betah, dan akhirnya ikut bergabung untuk menuntaskan kekisruhan. Setiap hari dagangan mereka hancur dengan aksi porak-poranda pergolakan. Dan kiranya masih pantas jika mereka akhirnya diberi tanah agar bertempat tinggal untuk menjadi anggota negeri.

Kesatupaduan inilah yang kemudian menjadikan Indonesia menjadi bangsa yang besar. Bangsa yang didalamya banyak suku, bermacam keyakinan dan beribu budaya-bahasa. Bukan hanya soal jumlah wilayah, melainkan budaya dan keakuran bertetangga dan beragama yang harus dinormai. Tahun lalu presiden Afghanistan disambut di Istana Negara dalam rangka ingin memperlajari kehidupan warga negara yang berhasil menjaga kerukunan umat disamping keragaman umat.

Baca Juga:  Kaum Sarungan dan Implementasi Nasionalisme

Hari ini kita menjadi contoh untuk negara lain dan menginspirasi mereka bahwa acuan utama untuk menstabilkan suatu negeri adalah dengan cerdas dalam mensolusikan kebersamaan. Mewajahi baik sebuah keanekaragaman. Tanpa ada kecondongan, sikap diskrimintaf. Kita seharunya mampu untuk menyeimbangkan segala hal.

Namun hal ini terlihat mulai luntur. Satu persatu mulai menipis. Seseorang tidak lagi akan mengabarkan seruan pancasila sebab terkotak oleh label keyakinan. Manusia Indonesia menggunakan siasat nama agama dalam menolak pancasila. Rakyat dengan jumlah penduduk yang terbesar kini malah memulai dan menjadi pertama dalam mengusung bendera teokrasi dengan mengadakan perubahan Negara berdemokrasi menjadi Negara agama. Negara yang dipimpin oleh khalifah yang dianggap akan semakin tidak cocok jika itu mengunsur pada linguistik. Sebab meski demikian, hanya dengan ini, masih dapat mendefinisikan arti pemerintah sekarang dengan sebutan khalifah mengaca diksi khalifah memang ditujukan pada keempat khalifah yang memerintah negeri arab selepas kewafatan nabi.

Inilah yang menjadikan saya sedikit bingung, mengapa ada keinginan lain dari beberapa manusia untuk kemudian hanya mencondongkan diri pada kalangan umat sendiri. Sebenarnya, apakah Indonesia ini membutuhkan pemimpin yang islam atau hanya muslim? Sebab akan benar jika dengan jawaban muslim bila seandainya nanti ada pemimpin non muslim yang memerintah negeri dan mereka digusur padahal mampu memerintah sesuai cara Islam. Untuk menerapkan hukum Islam sesuai gaya masing-masing.

Yang saya tanyakan lagi, apakah kita akan mengadopsi orang-orang muslim yang tetap tidak pantas menjadi pemimpin namun dipaksakan hanya karna status dia yang muslim? Saya selalu merasa bahwa garis diskriminatif ini sangat keras. Apalagi yang dibawa kaum muslim yang mengkooptasi urusan sosial mereka ke dalam agama mereka. Memasukkan sikap beragama dalam pengaruh politik mereka. Seharusnya permasalahan agama disikapi dengan agama dan negara harus disolusikan dengan negara. Sehingga kita linear tetap dalam dua bidang yang beda.

Baca Juga:  Sesuatu yang Lebih “Fiksi” dari Rocky Gerung

Kekompakan berbangsa ini harus kita atur. Jangan kita menciptakan bom waktu yang akan siap jatuh tempo. Lambat laun kita membuat salah diatas rasa kekecawaan kelompok lain dan terus-terus kita tumpuk. Sehingga waktu bergeser beserta membawa kesalahan dan kekecewaan hingga terkumpul dalam ruang yang begitu besar dan semakin membesar. Sehingga dua emosi itu dapat diledakkan kapan saja. Ini bukan soal siapa yang mayoritas dan minoritas. Bukan tentang mayoritas yang lebih punya kuasa dan minoritas seharusnya mengalah.

Kita sedang berada dalam meja makan yang memberikan hak kepada setiap tangan untuk memegang sudut dengan tangan satu mengambil makanan. Namun jangan ada yang menjual meja. Itu sama sekali bukan hak perorang. Mudah-mudahan kita tidak akan menjadikan negara ini dengan sikap dimana kebersamaan hanya diambil sewaktu hal perlu saja. Ketika ada permasalahan seluruh negara bergabung dan membuangnya sesudah tidak butuh. Kebersamaan inilah cita-cita besar bangsa. Salam Indonesia! Salam pancasila!