Berbaik dengan Alam

Ilustrasi via pixabay.com

Seorang budayawan kelahiran Banten bernama Multatuli, meng-ibaratkan negeri kita Indonesia laksana untaian jamrud yang dihamparkan di persada nusantara. Koes Plus pun pernah bersenandung: “Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu semua jadi tanaman. Sehingga muncul sebuah anekdot “di Indonesia tanam tongkat akan jadi pohon, sementara di Arab Saudi tanam pohon eh malah jadi tongkat”. Menurut saya, ungkapan tersebut mengilustrasikan kepada kita betapa subur dan makmurnya bangsa kita.

Pemandangan dan alamnya yang begitu indah, hijau dan eksotik, gunung-gunung menjulang tinggi berpayungkan awan, padi-padi menguning tersusun rapi laksana hamparan permadani, burung-burung berkicau seiring dengan terbitnya sang mentari di pagi hari, sehingga nampaklah suasana aman, nyaman, adem, ayem, tentrem.

Namun sayang, pemandangan tersebut kini sulit kita dapati karena telah berubah menjadi situasi yang panas, gersang, bau, kotor, pengap, kumuh, tidak bersahabat bahkan mengancam kelangsungan hidup alam kita. Itu semua disebabkan karena kecongkakan, kesombongan dan keangkaramurkaan manusia serta ulah tangan-tangan jahil yang tidak bertanggung jawab.

Quraish Syihab dalam “wawasan al-Qur’an” menjelaskan, bahwa bumi ini hanya akan dipusakai oleh orang-orang yang salah dan dimakmurkan oleh orang-orang yang benar bukan hanya orang yang sekedar pintar.

Indonesia tercinta ini hanya akan dilestarikan oleh hamba-hamba yang taat bukan manusia-manusia bergelimpang maksiat, sebab perbuatan maksiat hanya akan melahirkan kecongkakan dan keserakahan manusia yang ingin menguasai alam ini.

Sebagai buktinya kita lihat, banyak lahan-lahan pertanian telah dirubah menjadi mega proyek, gunung-gunung yang rimbun telah disulap menjadi vila-vila megah, lahan-lahan subur telah berubah menjadi komplek  industri, padahal yang menikmati sebagian kecil saja.

Dan kita semua bisa belajar dari lingkungan hidup, ini semua hanya demi kenyamanan manusia, sebab jika limbah industri merajalela, green house effect dimana-mana, akan mengakibatkan suhu semakin naik dan panas.

Baca Juga:  Kaum Sarungan dan Implementasi Nasionalisme

Akibatnya naiknya suhu menyebabkan perubahan iklim dunia tidak menentu, sehingga curah hujan tidak seimbang.  Dengan naiknya suhu akan muncul pemanasan global serta naiknya frekuensi dan intensitas badai.

Saat ini, saya melihat banyak orang mulai peduli dengan lingkungannya. Banyak bermunculan organisasi-organisasi, komunitas-komunitas, LSM  baik di masyarakat maupun di kampus-kampus  yang mengkampayekan pentingnya belajar menjaga alam. Namun sayangnya, disisi lain, seiring dengan perkembangan sains dan teknologi watak-watak perusak, watak-watak pencemar dan eksploitator serta perusak alam di negeri ini tumbuh subur laksana cendawan di musim hujan.

Kita saksikan, mulai kasus pembakaran hutan di kalimantan, kasus penumpukan sampah dan limbah industri di kota-kota besar, perusakan ekosistem di lautan, gunung-gunung digunduli, pohon-pohon ditebangi, Akibatnya terjadi banjir besar di Jakarta, lumpur di Sidoarjo, tanah longsor di Pacet Jawa Tengah, serta gempa bumi di beberapa daerah di Indonesia, termasuk di Jawa Tengah, Jawa Barat dan Banten. Itu semua menandakan ketidak harmonisan antara hubungan manusia dengan alam.

Sebab perlu kita ingat, “if the habitat was cared will give fungtion, but if not it would make destroy’,  jika kita ramah kepada alam, maka alam-pun akan ramah kepada kita dan berdayaguna, sebaliknya jika kita merusak alam maka bencana, mala petaka yang menimpa kita, demikian ungkapan Edward bucle dalam history of Civilization in England.

Lalu, bagaimanakah perhatian pemerintah dalam menjaga kelestarian alam ini. Jika kita kaitkan dengan kemajuan pembangunan dinegara kita,  secara fisik, pemerintah kita masih memperhatikan lingkungan hidup dengan menekankan pentingnya pembangunan mental spiritual.

Sehingga dalam rumusan GBHN repelitake-6 dikatakan bahwa pembangunan di Indonesia adalah pembangunan yang berwawasan lingkungan. Hal ini diperkuat juga oleh peraturan pemerintah No. 4 tahun 1983,  bahkan dipertegas dengan dibuatnya UU lingkungan hidup No. 12. Tahun 2000 yang mewajibkan kepada seluruh warga Negara Indonesia untuk menjaga alam.

Baca Juga:  Fakhruddin Iraqi: Sebuah Renungan Tentang Cinta

Karena itulah, mengingat betapa besarnya perhatian pemerintah terhadap kelestarian alam ini, jelas kita sebagai warga Negara yang baik dituntut untuk ikut berpartisipasi. lalu apa yang harus kita lakukan? Putarlah otak kita, mulailah dari yang terkecil, dari lingkungan kita. Kalau bukan sekarang kapan lagi.